Hasanudin Abdurakhman
14 Nov 2016

Saya pernah ditanya seorang teman,”Sulitkah beradaptasi dengan kehidupan orang Jepang yang serba tertib dan teratur? Berapa lama proses adaptasinya?” Saya kemudian berpikir, mengingat-ingat bagaimana prosesnya hingga saya bisa berperilaku sama seperti orang Jepang. Maaf, sayangnya proses itu tidak saya temukan. Artinya saya tidak beradaptasi.

Saya ingat bahwa perilaku saya tidak saya bangun di Jepang. Perilaku itu saya bangun ketika saya kuliah di UGM. Saat itu saya sering mendengar kuliah-kuliah dari banyak intelektual seperti Djamaludin Antjok, Shalahuddin Jalal Tanjung, Umar Anggara Jenie, Koenadi Hardjasoemantri, dan masih banyak lagi tokoh lain, di berbagai forum kajian Islam di Gelanggang Mahasiswa. Mereka mengajarkan pada saya bahwa Islam mengajarkan orang untuk tepat waktu, disiplin, tertib, dan bekerja keras. Islam juga menyuruh kita untuk menjaga lingkungan, serta memuliakan manusia lain.

Sejak itu saya melatih diri saya untuk mempraktikkan nilai-nilai itu, dan mengajak kawan-kawan untuk melakukan hal yang sama. Ketika saya lulus kuliah, perilaku itu sudan melekat dalam diri saya. Maka ketika saya pindah ke Jepang kemudian menetap di sana selama 10 tahun, tidak banyak hal yang berubah pada diri saya. Tidak ada proses adaptasi yang panjang.

Benarkah Islam mengajarkan semua itu? Saya jadi ingat sebuah dialog kecil dengan seorang teman, waktu saya mulai bekerja di perusahaan Jepang.

“Mas, nggak stress kerja di Perusahaan Jepang?”

“Nggak. Memangnya kenapa?”

“Kan mereka itu disiplinnya ketat banget. Kita tidak boleh telat semenit dua menit sekalipun. Nggak stress kerja di lingkungan begitu?”

Lalu saya tanya balik,”Kamu muslim, kan? Puasa, kan?”

“Iya, dong.”

“Kalau kamu sahur, boleh nggak telat semenit dua menit.”

“Nggak.”

“Kamu stress nggak?”

Begitulah. Bagi saya, tidak ada yang istimewa dalam nilai-nilai pada budaya Jepang itu. Kita juga memiliki nilai-nilai itu. Yang membuat mereka istimewa adalah, mereka mempraktikkannya secara kolektif. Mereka menjadikannya sebagai kebiasaan masyarakat.

Membentuk kebiasaan, itulah kuncinya. Nilai-nilai dibangun menjadi kebiasaan. Tidak hanya itu. Kebiasaan-kebiasaan itu diformulasikan dalam ruang kerja, menjadi sistem manajemen. Hasilnya dahsyat. Pernahkah Anda mendengar tentang konsep 5S dan Kanban System (Just in Time) dalam manufaktur Jepang? Keduanya adalah konsep yang sudah diadopsi menjadi sistem internasional. Sumbernya adalah 2 hal yang sederhana, yang nilainya ada dalam ajaran Islam, atau ajaran agama dan budaya manapun. 5S berasal dari prinsip kebersihan dan kerapian, sedangkan Kanban System berdasar pada prinsip tepat waktu.

5S adalah kependekan dari seiri, seiton, seisou, seiketsu, shitsuke. Apa itu? Itu adalah praktik menjaga kerapian tempat kerja. Barang-barang dipilah, antara yang dibutuhkan dan yang tidak (seiri). Barang-barang yang tidak dibutuhkan dibuang, yang masih dibutuhkan ditata rapi (seiri). Dengan begitu barang tersebut akan mudah diambil saat diperlukan. Tempat kerja selalu disapu (seiso), dan dirawat selalu kebersihannya (seiketsu). Kemudian semua praktik itu dijadikan aturan baku yang selalu dilaksanakan (shisuke). Hasilnya, tempat kerja yang bersih, aman dan efisien.

Adapun Kanban System adalah sistem produksi dengan pasokan barang diatur pada jumlah tertentu yang sangat sedikit, dan dikirim langsung ke tempat produksi, bukan ke gudang. Barang dikirim, langsung dipakai. Sebelum habis, dikirim lagi. Stok barang di tempat produksi hanya cukup untuk 2-3 jam. Artinya setiap 2-3 jam barang harus dikirim, dalam jumlah yang sesuai. Kalau terlalu banyak akan menumpuk, dan mengganggu kerja. Kalau kurang, akan menghambat kerja.

Kunci pada Kanban System adalah pengantaran tepat waktu. Tidak boleh lebih cepat, juga tidak boleh lambat. Harus pas, just in time.

Dengan sistem itu sebuah perusahaan tidak lagi memerlukan gudang. Maka ia akan menghemat banyak biaya yang tadinya dipakai untuk beli tanah dan membangun gudang, juga infrastruktur untuk pengelolaan gudang. Tidak diperlukan tenaga kerja untuk mengurus gudang, serta tidak ada potensi barang rusak atau hilang di gudang. Ini jadi penghematan yang luar biasa.

Lihatlah betapa dahsyat efek dari praktik-praktik atas nilai-nilai yang sederhana. Kita semua bisa melakukannya, kalau mau. Masalahnya, kita tidak melakukannya.

Di berbagai pengajian kita sering mendengar soal hikmah ibadah. Ibadah tidak sekedar praktek menyembah Tuhan. Ia punya makna dalam mengubah perilaku kita. Sayangnya, kita tidak menjadikan ibadah sebagai sarana untuk mengubah perilaku. Kita hanya puas menghitung pahala, berharap dengan itu kelak kita akan masuk surga. Padahal surga itu ada di dekat kita, bisa kita nikmati sekarang. Caranya, dengan mengubah perilaku berdasar nilai-nilai tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s