Jusman Syafii Djamal

Catatan perjalanan kesepuluh ini saya tulis dari atas Shinkanzen Kagayaki khusus Hokuriku line E7 berkecepatan 275 km perjam. Pemasok kaca jendela nya adalah industri kecil khusus pembuat kaca.

Dua hari ini saya diajak pemandu perjalanan Saya mengunjungi pusat pusat kerajinan atau seni olah produk di Ise Toba dan Kanazawa.

Pemandu itu bernama Yudha. Ia seorang candidate PhD dari Waseda. Ia lulusan Fakultas Hukum Unpad Bandung yang telah menyelesaikan Master Degree nya di Nagoya University.

Bersekolah dan beradaptasi dgn budaya Jepang membuat Yudha fasih menjawab rasa ingin tau Saya.

Kali ini ia membawa saya belajar tentang realisasi program Satu Desa Satu Produk yg digagas oleh METI (Ministry of Trade and industry) tahun 1979.

Setelah Jepang alami efek domino luar biasa atas embargo minyak Timur Tengah perang Yom Kifur 1973 dan krisis energi tahun 1979.

Jepang yang alami dampak kemudian membuat program Revival of Economy agar Jepang selamat dengan Mengandalkan pada kekuatan ekonomi pedesaan dan para seniman dengan karya Cipta terbaiknya.

Bagi Jepang kekuatan Ekonomi nya terletak pada dua Ujung tombak yakni Monozukuri atau seni olah cipta yang menghasilkan produk dan proses unggulan.

Dan Hitozukuri pengembangan manusia bersumber daya iptek yang memilih “jalan pedang” , jalan hidup menjadi “samurai” masa kini yang bertarung dengan semangat “Bushido” untuk memenangkan pertempuran disetiap relung pasar yang terbuka.

Granular market. Ceruk pasar yang sempit tapi menjanjikan untuk jadi Revenue Stream. Granular market dimana Competitive of Differentiation dan “economic value” of product lebih dihargai ketimbang “di mass market” yg menonjolkan economic of scale.

Paling tidak itu yg saya Rekam dari hasil dialog saya dgn para pengrajin dan seniman yg ditemui dalam program Rural Revitalization. Atau One Village One Product .

Di Ise Toba saya diajak ke pulau buatan Mikimoto Pearl Island. Pulau ini jadi lokasi pertemuan KTT G7.

Di pulau ini seorang seniman mutiara Mikimoto secara otodidak mempelajari keahlian memelihara oyster. Kerang penyemai benih foreign object yg ditransform menjadi mutiara bulat. Kerajinan dan keahlian itu kini dipelihara dan diturunkan pada penduduk lokal.

Di Jepang seorang expert yg telah dikatagorikan sebagai maestro atau seniman biasanya diperlakukan seperti seorang “shogun” banyak murid dan pengikut nya yg secara konsisten belajar dan “ngelmu” didalam “school of thought” seniman itu.

Tiap seniman seolah punya padepokan. Dan kumpulan padepokan itu yg di Revitalisasi dan didorong momentum nya untuk meloncat kemasa depan dgn innovation policies pemerintah se tempat dan jaringan perbankan yg Eksis.

Keahlian seorang seniman, tatacara membuat dan menciptakan proses dan produk itu yang dilestarikan sebagai “heritage industry” dan “lokal culture treasures. Tacit knowledge.

Dilestarikan dengan cara dipelajari dan disemai menjadi benih inovasi masa depan. Misal ada seniman yg ahli dalam meracik ragi untuk membuat tepung beras jadi sake. Begitu juga ada seniman ahli perawat Sapi lokal yg membuat wagyu tiap daerah punya kelezatan berbeda.

Saya menyebut nya sebagai seniman sebab keahlian yg mereka kuasai “is more art than science” . Didalam keahlian yang merupakan buah training dan jam terbang memproduksi barang yg specific tersimpang khasanah iptek masa lalu yg perlu dilestarikan sebagai “national treasures”

Hal serupa saya temui di kota Kanazawa . Disini ada padepokan dimana setiap orang dapat merasakan pengalaman langsung untuk mengukir, membuat lukisan atau benda lain dari olah emas. Bahkan kita dapat minum eskrim yg diatas nya ditaburi emas.

Di Kanazawa kita juga bisa bertemu seorang maestro berternak ayam yang dengan keahlian memilih dan Merawat anak ayam, Ia dapat membuat telur yang kuning telurnya bewarna merah, lembut dan sempurna untuk dijadikan bahan baku eskrim emas tersebut. Hasil kolaborasi dua maestro yg bikin kita bisa tersenyum.

Di Hokuriku kita bisa bertemu seniman penghasil benang sutra dari kepompong hasil ulat dgn Murbei.yang dipelihara. Dulu di Garut dan Sukabumi ada petani yg ahli ini, entah sekarang. Benang ini kemudian dipintal menjadi kain yg diolah oleh para seniman lain menjadi tas, dompet dan karya lainnya.

Desa memang bukan tempat yang tak punya masa depan. Jika ada ahlinya dan ada seniman pencipta produk unggulan konsep jebol desa pindah kekota tak perlu dilakukan. Apa begitu ? Wallahu alam.

Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s