Harry Santosa – Millenial Learning Center
25 December 2016

#fitrahkeindahan #fitrahestetika

Beberapa diantara kita barangkali “alergi” dengan seni. Seni dalam persepsi mereka yang “alergi” adalah seni yang dihidangkan oleh peradaban yang memang bukan peradaban kita, dimana lebih menampilkan aspek “syahwati” ketimbang aspek “imani”. Maka dalil dalil yang dimunculkan tentang seni adalah dalil yang setara dengan haramnya Zina dan Khamr.

Wajar jika kita menghindar dari seni syahwati yang dijajakan peradaban lain, namun menghilangkan seni sama sekali dalam kehidupan sama saja dengan menyimpangkan fitrah manusia itu sendiri. Manusia yang menyukai “seni syahwati” baik terbuka maupun diam diam justru adalah manusia yang menyimpang fitrah keindahannya.

Sesungguhnya seni adalah ekspresi dari keindahan, dan keindahan adalah fitrah manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain dan tidak bisa ditiru oleh robot atau komputer secanggih apapun.

Rasa keindahan atau sering disebut “sense of aesthetics” atau “sense of beauty” adalah sesuatu yang telah terinstal dalam diri manusia dan tak perlu ditanamkan. Setiap anak bisa membedakan mana “baik dan buruk” , misalnya “wajah sumringah dan wajah ketus” atau “gestur ramah dan gestur marah ” karena mereka memiliki apresiasi terhadap keindahan yang kita sebut fitrah keindahan itu.

Anak anak tidak perlu dijelaskan jika gunung yang membiru menjulang itu indah, pantai dengan pasir putih dan riak gelombangnya itu indah, suasana dan pemandangan ketika matahari terbit dan terbenam itu luar biasa indah, gemericik air sungai dan kicauan burung itu indah, taburan bintang di langit itu indah dstnya. Semua sudah terinstal dalam fitrah keindahannya.

Begitupula kecintaan manusia pada keharmonian, kedamaian, kecantikan dll adalah karena adanya fitrah keindahan dalam diri manusia. Itulah mengapa, sebagaimana fitrah lainnya, tidak ada satupun peradaban di muka bumi termasuk peradaban Islam yang tidak mengapresiasi, mengekspresi dan mengkreasi rasa keindahan ini.

Lihatlah bagaimana peradaban Islam mengekspresikan keindahan ke dalam bentuk gubahan lagu atau langgam atau qiro’ah, keindahan sastrawi dalam berbagai karya sastra maupun tulisan sains juga jurnal perjalanan, masterpiece arsitektur bangunan, tulisan indah atau kaligrafi, lukisan indah termasuk ilustrasi buku, karya indah math & science dsbnya.

Fitrah keindahan atau fitrah estetika yang tidak tumbuh indah merekah karena berbagai hal justru melahirkan generasi yang kering dari cinta, tidak suka damai, jauh dari karya yang membuat peradaban menjadi lebih indah. Penemuan penemuan formula matematika dan sains adalah karena apresiasi keindahan yang tinggi dari para cendekiawan Muslim sehingga mampu menangkap pola keindahan dibalik pola ciptaan Allah di alam semesta.

Di Barat, kini istilah dalam pendidikan seperti STEM (Science, Technology, Engineering Mathematic) , perlu ditambah A (Art) menjadi STEAM. Begitupula gelar MBA (Master of Business Administration) berubah menjadi MFA (Master of Fine Art). Itu semua karena untuk mendidik manusia menjadi HUMAN BEING, unsur Estetika atau Keindahan sangat penting. Keindahan dalam arti sempit sering disamakan dengan Seni atau Art.

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Akhlak Nabi itu indah dan memperindah peradaban. AlQuran itu memiliki sastra yang sangat indah dan tinggi. Ciptaan Allah itu indah sempurna dan tidak sia sia.

Jangan salah duga, menumbuhkan fitrah keindahan bukan berarti mendidik generasi lemah. Generasi yang fitrah keindahannya tumbuh paripurna adalah generasi yang mencintai kedamaian, keharmonian, keselarasan, keseimbangan, keadilan dstnya dan tentu kecintaan kepada Allah sebagai sumber keindahan itu. Dan mereka kelak mau menukar jiwanya demi tegaknya itu semua.

Imam Ghazali membagi apresiasi atas keindahan ini dalam beberapa derajat. Derajat terendah adalah apresiasi keindahan sebatas kenikmatan inderawi pada yang tampak. Ini adalah apresiasi anak anak di bawah 7 tahun. Jika ini ditumbuhkan dengan baik maka derajatnya meningkat menjadi apresiasi keindahan pada imaji dan nalar dibalik yang nampak. Ini adalah apresiasi anak antara 7-10 tahun. Mereka mulai mengapresiasi keindahan sesuatu bukan dari yang terinderakan namun dari kenikmatan imaji dan nalarnya.

Jika apresiasi keindahan melalui kenikmatan imaji dan nalar tumbuh dengan baik maka anak akan mencapai derajat berikutnya, yaitu apresiasi keindahan secara ruhy atau ruhani. Ini biasanya dicapai oleh mereka yang mendalami karya estetika selama bertahun sehingga mendapatkan kenikmatan ruhani atau jiwa. Jika ini terus ditumbuhkan maka anak akan memperoleh pencapaian akhir yaitu keindahan dibalik semua keindahan, cahaya di atas cahaya, yaitu keindahan cahaya Allah SWT.

Jadi setiap aspek fitrah jika tumbuh dan dipandu Kitabullah sehingga mencapai derajat atau martabat mulia maka akan berujung pada Tauhidullah. Mengapa ada orang dewasa yang menyukai pornografi, merusak alam, tidak suka berdamai dsbnya itu karena fitrah keindahannya masa anak anaknya tidak tumbuh paripurna.

Maka janganlah alergi dengan ekspresi keindahan sepanjang sesuai dengan panduan Kitabullah dan jangan ragu untuk menumbuhkan fitrah keindahan anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s