Handry Satriago

Dari obrolan “nongkrong” dengan teman-teman beberapa waktu yang lalu, ada permintaan utk sharing tentang pemimpin yang berwibawa. Let me try.

Kenapa ada pemimpin yang berwibawa, dan ada yang tidak? Bagaimana wibawa tersebut ditimbulkan, lalu kenapa perlu wibawa dalam memimpin? At the end of the day persoalan wibawa dalam sebuah proses kepemimpinan adalah bagaimana pemimpin tersebut mampu membuat follower-nya bekerja dengan baik.

Pertama, kembali ke pengertian dasar dari kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sebuah proses, bukan hanya tentang sosok seorang pemimpin. Buat saya, kepemimpinan adalah proses yangmelibatkan pemimpin, followers, dan situation. Ini pengertian dasar yang sangat penting.  Seorang leader, harus paham betul siapa followers-nya, dan situasi apa yang dihadapinya. Memimpin bukan hanya kasih perintah ini itu, lalu “hilang”. Terkait wibawa, wibawa tak akan timbul kalau hanya soal kasih perintah.

“At the end of the day persoalan wibawa dalam sebuah proses kepemimpinan adalah bagaimana pemimpin tersebut mampu membuat follower-nya bekerja dengan baik”

Wibawa juga tak bisa didapatkan hanya dari kharisma, santun (eh?), atau punya visi dan orasi yang bagus. Mulailah dengan mengetahui siapa follower Anda, apa kebutuhan mereka, dan apa yang dapat memotivasi mereka bekerja dengan baik. Seorang pemimpin akan mulai mendapatkan wibawanya ketika mereka mulai mendapatkan trust dari follower.

Di awal, trust mungkin bisa terbangun dengan visi, kharisma, dan orasi. Tapi, apakah trust seperti itu bisasustainable? Trust yang membuahkan wibawa, perlu dibangun dengan interaksi yang continue dengan parafollowers. Bukan proses sesaat dan di awal saja. Seorang pemimpin perlu ingat bahwa dalalm inteaksinya denganfollowers, dia dievaluasi oleh followers, baik secara sadar ataupun tidak.

“Wibawa juga tak bisa didapatkan hanya dari kharisma, santun (eh?)”

Membangun wibawa pemimpin seperti membangun rumah, terus dibangun dari pondasi sampai jadi rumah. Pondasi dari wibawa adalalh trust tadi. Bangunannya, adalah proses interaksi yang menunjukkan kemampuan memimpin dan men-deliver target.

Sekarang tentang membangun wibawa tersebut. Pertama, seorang pemimpin perlu menunjukkan kemampuan dan kapabilitas untuk mengerti masalah yang dihadapi. Yes, it takes time to understand all theproblems, oleh karena itu deal dengan “the low hanging fruit” first, then solve it. Wibawa terbangun atas berkali-kali success stories. Pondasi trust akan tambah kuat jikasuccess stories semakin banyak. Kalau langsung deal with the toughest issues, terus solusinya terkatung-katung tidak jelas, orang terus berdebat, maka wibawa tak terbangun.  Lihat para pemimpin yang dianggap berwibawa oleh followers-nya. They stand strong di atassuccess stories awal yang dibangunnya.

Selanjutnya, untuk bangun wibawa, tunjukkan kalau Anda bisa mengambil keputusan, dan tidak diatur oleh orang lain. Karena wibawa berpondasikan trust, maka wibawa tak akan terbangun kalau followers-nya curiga pemimpin mereka disetir orang lain. Pemimpin perlu menunjukkan bahwa dia listen to all input, care about other’s opinion dalam proses mengambil keputusan. Tapi, ada saatnya seorang pemimpin perlu mengatakan“I hear you all, I learn about it, but this is my decision”.

Seorang pemimpin juga perlu ketegasan untuk membangun wibawa. Teguh pada prinsip, tapi juga siap mengaku salah dan mau untuk belajar saat terbukti salah.  Karena pondasi dari wibawa adalah trust, maka saat seorang pemimpin mengakui kesalahan dan show the effort to learn and fix it, maka trust akan menguat.

Wibawa juga dibangun atas dasar respect. Banyak faktor yang membuat followers respek kepada pemimpinnya.Salah satunya adalah “walk the talk” , lalu ketika ia mampu menginspirasi. Juga ketika seorang pemimpin menunjukkan dirinya humble, maka respek dari followers akan semakin besar. Tapi humble saja tanpa adanya success stories, kemandirian serta ketegasan dalam memimpin, tak bisa membangun wibawa yang kuat.

Bangunan wibawa pemimpin pada akhirnya lengkap ketika follower percaya pemimpinnya mampu memimpin mereka untuk get the things done.

Begitulah, sedikit tentang membangun wibawa seorang pemimpin yang seperti membangun rumah. Ada pondasi, tiang, bangunan dan atapnya. Seperti juga rumah, maka wibawa akan terbangun jika semua bagian bangunan tadi bisa disatukan, lalu dipelajari ulang jika ada yang salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s