September 29, 2014

Bentuk : Rangkuman Diskusi Pekanan DISC 1 Dzulqoidah 1435 AH/26 September 2014 M
Pemateri : Tri Shubhi Abdillah
Perangkum : Yogi T. Rinaldi

Mengenali lawan dalam sebuah peperangan adalah sebuah strategi yang amat penting. Ketidaktahuan dalam mengenali lawan hanya akan membuat serangan-serangan yang dilancarkan tidak tepat sasaran. Tampaknya itu yang hendak disampaikan di awal perenggan sembilan oleh Syed M. Naquib al-Attas di dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin, ketika hendak menjelaskan apa sebenarnya Kebudayaan Barat.

Kaum Muslimin belum sepenuhnya mengetahui apa sebenarnya Kebudayaan Barat. Ketidaktahuan ini menyebabkan ketidakmampuan kaum Muslimin dalam mengukuhkan kedudukannya ketika menghadapi serangan-serangan yang diluncurkan oleh Kebudayaan Barat. Oleh karena itu, seyogyanya kaum Muslimin mengetahui sifat-sifat asasi Kebudayaan Barat itu.

Unsur-unsur Pembentuk Peradaban Barat

Kebudayaan Barat merupakan hasil adonan daripada unsur-unsur Kebudayaan Yunani Kuno, Kebudayaan Romawi, dan unsur-unsur lain dari hasil cita-rasa dan gerak-daya bangsa-bangsa Eropa sendiri, khususnya dari suku-suku bangsa Jerman, Inggris dan Prancis. Dari kebudayaan Yunani Kuno, mereka telah meletakkan dasar-dasar falsafah, kenegaraan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kesenian; dari Kebudayaan Romawi, mereka telah merumuskan dasar-dasar undang-undang, hukum dan ketatanegaraan. Agama Kristen, meskipun berhasil memasuki benua Eropa, tetapi tidak berhasil meresap ke dalam qolbu Peradaban Barat.

Seorang pendeta dan profesor teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, menyatakan bahwa Barat dan orang-orang Barat maju bukan karena Kristen. Dia mencontohkan, bahwa bos Pabrik Coklat Cadbury menyumbang dana jutaan Poundsterling untuk membangun perpustakaan di Selly Oak bukan karena dia seorang Kristian, tapi karena dia kaya dan punya dana sosial lebih. Profesor ini sepertinya ingin mengungkapkan bahwa Barat tidak lahir dari pandangan hidup Kristen.

Sebenarnya bukan Kristen yang berhasil mengubah Barat, tetapi Baratlah yang telah mengubah agama Kristen. Agama ini, telah diambil-alih dan diubah-gantikan oleh Peradaban Barat demi melayani dan agar dapat selaras dengan kepercayaan-kepercayaan yang dianut Peradaban Barat sebelum masuknya agama Kristen. Peradaban Barat telah berhasil mencampuradukkan ajaran-ajaran Yunani Kuno dan Romawi yang kemudian menjelma menjadi agama Kristen. Menurut al-Attas, agama yang berasal dari Asia Barat ini adalah satu-satunya agama yang telah berpindah dari pusat aslinya, yaitu dari Darussalam Palestina ke Roma Italia. Perpindahan ini pada hakikatnya adalah suatu bentuk pembaratan (westernization) dan penyerapan unsur-unsur Barat secara berangsur-angsur dan berturut-turut. Oleh sebab itu, dari sudut pandang Islam, terdapat dua agama Kristen: Kristen awal dan benar, dan Kristen versi Barat. Kristen awal dan benar adalah Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa As. yang sesuai dengan Islam. Mereka adalah mukmin dan muslim.

Islam pun turut mempengaruhi Peradaban Barat pada Abad Pertengahan dengan menyumbangkan unsur-unsur penting dalam ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Akan tetapi perkembangan yang amat mempengaruhi kemajuan Peradaban Barat ini kemudian mengikuti bawaan jiwa asli Peradaban Barat, yakni menceraikan nilai-nilai agama dari setiap elemen kehidupan. Alhasil, Kebudayaan Barat adalah kebudayaan yang hampa dari agama, kebudayaan yang telah membunuh tuhan seperti yang digemakan oleh Nietzsche, yang tidak lain adalah pembunuhan agama Kristen.

Sifat-sifat Asasi Peradaban Barat

Setelah Peradaban Barat membunuh tuhan, mereka kemudian malah mengangkat akal (rasio) mereka sebagai tuhan untuk membimbing manusia Barat. Oleh sebab itu, sebenarnya Peradaban Barat bukan berasaskan pada agama (Kristen) tetapi filsafat, karena itulah tidak ada agama dalam jiwa pengalaman mereka, suatu ketetapan akan keyakinan.

Sebelum kemunculan agama Kristen, pada zaman Olimpus Yunani Kuno, alam tidak dipisahkan dari dewa-dewa. Akan tetapi ketika kemerosotan agama terjadi di kalangan orang Yunani, dewa-dewa itu secara berangsur-angsur disingkirkan dari alam tabii. Ini kemudian menghasilkan kehampaan akan makna spiritual. Pada awalnya, kosmologi Yunani sebagaimana manusia zaman kuno lainnya, diserapi oleh kepercayaan bahwa ada kekuatan spiritual yang mengatur, memelihara dan menopang alam semesta. Mereka menyebutnya dengan archē sebagai substansi spiritual yang membentuk dasar semua realitas. Setelah dewa-dewa itu diusir dari masing-masing tempatnya di alam tabii, filsafat Yunani mengalami perubahan tafsir terhadap alam, yang menjadi lebih berupa penjelasan alamiah dan ‘rasional’.

Postulat bahwa alam semesta tercipta dari anasir-anasir utama seperti air, udara, tanah dan api adalah sebagai bukti penjelasan alamiah itu. Hal tersebut seperti diyakini oleh Thales (624—546 SM), Anaximenes (585—528 SM), Diogenes (w. 460 SM), Hippasus, Herakleitos (535—475 SM) dan Empedokles (490—430 SM). Semenjak terusirnya kepercayaan terhadap mitos dewa-dewa, filsafat Yunani mengangkat akal (rasio) sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Apa yang dapat dicerap oleh indra, yakni yang empirik dan rasional adalah yang ada (wujud) dan benar.

Kemudian, ketika Aristoteles (384—322 SM) memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Romawi di mana kemudian agama Kristen merumuskan dan membentuk dirinya sebagai agama Kekaisaran Romawi dan dunia Barat, Rasionalisme murni ini beserta naturalismenya melucuti alam tabii dari makna spiritualnya, sehingga alam hanya dapat dikenali dan dimengerti oleh rasio manusia. Meski tidak dimungkiri masih ada bentuk-bentuk filsafat lain yang mengakui pentingnya spiritual dari alam tabii dan metafisika dalam dunia Yunani, tetapi Aristotelianisme lebih memegang pengaruh.

Akibat dari pemisahan spiritual dari alam tabii adalah munculnya pandangan Dualistik. Faham dualisme ini mengikrarkan adanya dua hakikat dan kebenaran yang senantiasa terpisah serta bertentangan. Manusia terjerembab pada dua hal yang senantiasa dikotomis dan tidak dapat disatukan, seperti fisika dan metafisika, Tuhan dan alam, ruhani dan jasmani, material dan immaterial, ilmu dan tanzil, dunia dan akhirat, kepercayaan dan ilmu pengetahuan, akal dan wahyu, tekstual dan kontekstual, agama dan negara, dan sebagainya. Syed M. Naquib menyebutnya dengan pandangan Sekular dan syirik yang berbeda dengan tawhid.

Lagi-lagi karena pengagungan terhadap akal secara berlebihan akhirnya Peradaban Barat memungkiri peran wahyu yang dibawa oleh agama. Segala sesuatu yang berasal dari agama bagi Peradaban Barat akhirnya hanya dapat dipercayai (iman), tidak termasuk ilmu pengetahuan. Pengingkaran terhadap kepercayaan agama, yang telah menjadi sifat bawaannya, kemudian diperkukuh pula oleh kekecewaannya dalam pengalaman beragama (Kristen) pada Abad Pertengahan, yang tidak berhasil menjamin keyakinan dan yang hanya penuh dengan dugaan-dugaan itu menjadikan manusia Barat sebagai manusia yang Sekular. Akibatnya memunculkan sebuah faham pandangan hidup, yang biasa disebut dengan nama Humanisme.

Faham Humanisme berkeyakinan bahwa manusia dapat menentukan kebenarannya sendiri. Manusia dianggap mempunyai kapasitas untuk berkembang sendiri tanpa agama dan Tuhan. Manusia dapat mengetahui baik dan buruk dengan akalnya. Humanisme menjadikan manusia sebagai satu-satunya ukuran segala sesuatu. Humanisme tiada lain adalah antroposentrisme yang berbeda sepenuhnya dengan teosentrisme. Humanisme adalah sebuah agama baru yang mulanya berteduh di dalam rumah agama, tetapi kemudian keluar dan memaki agama.

Anehnya akhir-akhir ini sering kali kita jumpai istilah yang saling bertentangan tetapi seolah mencoba disatukan seperti “Kristen Humanis”, “Muslim Humanis”, “Humanisme Islam” atau yang lainnya. Teologi agama seolah berorientasikan manusia, bukan lagi berdasarkan wahyu. Lagi-lagi ini adalah sebuah pandangan yang sekular.

Selain pengagungan yang berlebihan kepada rasio, faham dualisme dan pandangan-alam sekular, Peradaban Barat juga bercirikan tragedi. Pandangan Hidup yang tragis, menurut al-Attas, yaitu menerima pengalaman kesengsaraan hidup sebagai satu kepercayaan yang mutlak yang mempengaruhi peranan manusia dalam dunia.

Semenjak zaman Yunani Kuno, bangsa-bangsa Yunani Kuno menganggap tragedi sebagai satu unsur penting kehidupan manusia; bahwa manusia itu merupakan pelakon dalam drama kehidupan dan pahlawan-pahlawannya membayangkan watak yang tragis. Faham tragedi kehidupan ini disebabkan oleh kehampaan qolbu dan iman. Kehampaan iman adalah akibat dari falsafah yang mengikrarkan adanya dua hakikat yang saling bertentangan satu sama lain hingga menimbulkan syak serta ketegangan jiwa. Keadaan jiwa yang tiada tenteram ini mengakibatkan pula perasaan takut dan sedih menjalani dan mengenang nasib diri.

Manusia Barat meyakini bahwa kehidupan manusia adalah sebuah episode-episode tragedi yang harus dilalui. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa nasib terburuk bagi manusia adalah dilahirkan. Kehampaan hati dari nilai-nilai spiritual yang kemudian diisi oleh perasaan tragis ini menganjurkan manusia Barat mencari jawaban dari persoalan-persoalan hidup, untuk giat berusaha menyelidiki, mengkaji dan mereka-reka teori baru, dan mengemukakan masalah asal-usul alam semesta dan manusia. Hasil fikiran tersebut dianggap sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang tidak lain hanyalah sekedar syak dan wasangka. Pengembaraan dan pencarian jawaban persoalan-persoalan tersebut malah menjadi semangat Peradaban Barat. Anehnya, mereka tidak ingin mengakhiri pencarian tersebut, justru pencarian tersebut bagi mereka setidaknya dapat mengurangi beban kekosongan dan kesunyian jiwa. Seolah-olah hal tersebut menjadi penawar hati yang tegang.

Menurut al-Attas, manusia Barat itu adalah seperti pejalan haus yang pada pertama kalinya secara tulus mencari air pengetahuan, tetapi kemudian, karena mungkin menemukannya kurang menarik, lalu dia mulai mengeraskan cangkirnya dengan garam keraguan sehingga rasa hausnya menjadi tidak terpuaskan meskipun dia minum secara berkelanjutan. Dengan demikian air tersebut tidak dapat menghilangkan hausnya dan dia pun telah lupa tujuan asal dan sejatinya untuk apa air itu dicari.

Manusia Barat akhirnya beranggapan bahwa mencari kebenaran itu lebih penting daripada menemukan kebenaran itu sendiri. Mereka akan senantiasa ‘menjadi’ (becoming) tetapi tidak pernah ‘jadi’.

Sifat-sifat asasi Peradaban Barat tersebut yakni pengagungan yang berlebihan kepada akal (rasio), keabsahan terhadap visi dualistik terhadap realitas dan kebenaran, pandangan-alam sekular, dan faham humanisme menjadi elemen penyusun Pandangan-Alam (Worldview) Barat. Peradaban Barat juga telah mengucilkan metafisika tempat teologi bersemayam; dalam bidang Epistemologi, Barat telah menolak wahyu sembari mengangkat tinggi-tinggi akal sebagai sumber ilmu pengetahuan; sedangkan dalam hal aksiologi, tujuan ilmu pengetahuan sendiri jadi tidak jelas. Akhirnya, kita harus memandang bahwa Barat bukan sekadar arah mata angin atau sebuah entitas politik, akan tetapi lebih dari itu, Barat adalah sebuah Pandangan-Alam.

Rujukan:
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2011. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2001. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: ISTAC
Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2012. Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Jakarta: INSISTS-MIUMI
Saefuddin, A.M. 2010. Islamisasi Sains dan Kampus. Jakarta: PT PPA Consultants
Rinaldi, Yogi T. 2014. “Kosmologi Dalam Pandangan Hamzah Fansuri”. Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. (Skripsi)
Materi Kajian Pekanan DISC, “Tragedi Barat: Sebuah Kandungan Penting dari Imperialisme Baru” oleh Khayrurrijal Abdul Halim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s