Jusman Syafii Djamal
December 31, 2016

Travelling note kedelapan kali ini sy buat ketika sedang mampir di Rest Area. Di Jepang setiap supir diwajibkan untuk beristirahat menhentikan mobil nya setiap dua setengah jam. Sebab supir mengantuk di jalan tol bebas hambatan sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya, penumpang dan pihak ketiga atau juga penderitaan keluarga dirumah.

Karenanya jika naik bis setiap dua setengah jam berhenti. Yang menarik Tiap rest area memiliki keunikan. Serupa tapi tak sama. Istirahat yg cukup bikin supir terjaga instinct safety nya

Misalnya di Rest Area Sheki Provinsi Miye Daerah Toba Ishe. Ini merupakan “show case” dari produk unggulan daerah Miye. Terkenal wagyu matsuzaka, abaloni, ishe ebi dan pelbagai rumout laut serta jeruk. Disini kita bisa menikmati bakpau yg isinya wagyu matsuzaka yg tak ada didaerah lain. Unik begitu juga pelbagai jenis penganan rumput laut. Opak, keripik udang, dendeng wagyu dan juga bala bala. Potongan porsi nya dibuat dalam Kemasan kecil.

Dengan kata lain Rest Area adalah tempat kita menikmati pelbagai jenis makanan, minuman atau keripik hasil tangkapan nelayan dan buah buahan serta Sayur sayuran jerih payah petani. Ada jaringan Mata rantai distribusi dan penjualan produk lokal. Uang beredar di daerah pedesaan awal nya dari Rest Area.

Karenanya tidak ada Rest Area yang adu jualan produk buatan wilayah orang lain. Tiap rest area bangga dengan desa sekitarnya. Disini terlihat aturan lalu lintas untuk safety memiliki rantai pengaruh untuk peningkatan produk wilayah setempat. One Village One Product.

Menyusuri kota dan desa dengan naik bis menyebabkan kita dapat memahami makna Cost Competitiveness dan Differentiation Competitiveness. Keunggulan wilayah tercipta dari keunikan produk unggulan nya dan kemasan tiap unit produk agar harganya tak menguras kantong penumpang kenderaan bermotor yang mampir.

Dengan tradisi proses transaksi seperti ini saya amati industri rumah tangga di jepang seolah tak takut bersaing dengan online business. Sebab bagi mereka proses jual beli di pasar tradisional bukan soal urusan duit pindah dompet semata. Ini bukan soal “pocket to pocket” relationship melainkan urusan “heart to heart meeting”. Manusia bertemu saling guyon dan harmoni di kedai kopi menunggu supir beristirahat menikmati cangkir minuman nya.

Kepatuhan pada Road Safety berbuah pertumbuhan ekonomi desa. Begitukah?

Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s