Harry Santosa – Milenial Learning Center

Pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orangtua dalam mendidik anaknya adalah kata “bagaimana”, misalnya “bagaimana mengatasi anak yang keras atau susah diatur”, “bagaimana menghadapi anak yang dibully” , “bagaimana mengatasi anak malas belajar” dstnya.

Kemudian para praktisi parenting mengeluarkan jurus “tips & trick” untuk menjawab “bagaimana”. Sudah bisa diduga, jawaban yang ditunggu para orangtua adalah jawaban “cespleng” bagai “magic medicine” yang cocok untuk semua anak.

Dan sudah diduga, para praktisi kemudian berusaha memberikan “obat jitu” yang diupayakan cocok bagi semua situasi dan kondisi. Walhasil, orangtua bisa frustasi karena belum tentu cocok, tidak semua masalah perlu obat yang sama bahkan mungkin tidak perlu obat sama sekali karena hanya jeritan hati bahkan potensi yang memerlukan bimbingan untuk menemukan jalan keluar.

Kemungkinan kedua, para orangtua yang sangat mudah “bertanya” kepada orang lain, sebelum mencoba merenungi dan menemukan jawabannya sendiri ini, menjadi kecanduan bertanya alias ketergantungan tingkat tinggi pada ahli parenting.

Mohon maaf, ilmu mendidik anak sesungguhnya bukan ilmu “bimbingan test” yang mengeluarkan rumus dan “cara cepat” atau “smart solution” untuk mengerjakan soal soal ujian yang keluar setiap tahun. Ilmu mendidik bukanlah ilmu instan tetapi ilmu sepanjang masa masa mendidik anak sejak lahir sampai aqilbaligh. Ilmu mendidik bukan ilmu pengetahuan belaka tetapi ilmu pengenalan dan pengakuan akan adanya keindahan fitrah dan kemuliaan adab.

Karenanya, Ilmu mendidik anak juga sesungguhnya adalah ilmu yang memberikan kepercayaan diri, rasa optimis dan ketenangan pada orangtua bahwa Allah telah berikan hikmah yang banyak pada dirinya untuk mendidik anak anaknya dengan baik jika bersungguh sungguh memenuhi panggilan Allah untuk kembali ke fitrahnya mendidik anak anaknya.

Ilmu mendidik anak seharusnya mampu mengembalikan orangtua pada fitrah keayahan dan fitrah keibuannya termasuk fitrah mendidik anak anaknya sesuai fitrahnya.

Ilmu mendidik anak sejatinya mendorong orangtua untuk menajamkan fitrah keayahan atau fitrah kebundaannya, menajamkan firasat dan nuraninya dalam menyelesaikan masalah dan menemukan cara terbaik merawat, menumbuhkan dan membangkitkan fitrah anak anaknya.

Ilmu mendidik anak seharusnya tidak membuat orangtua menjadi tergantung dan takut dalam mendidik anak anaknya, karena dirinyalah yang diberi amanah anak anaknya oleh Allah, maka Allah pasti tidak salah pilih dan Allah pasti berikan hikmah yang banyak. Ilmu mendidik anak sejatinya membuat orangtua semakin bergairah dan bersemangatserta percaya diri.

Maka ilmu mendidik anak seharusnya mampu menjawab lebih banyak “Why” bukan “How” karena para orangtua akan dibawa untuk melihat gambaran utuh keseluruhan maksud pendidikan dan kaitan antara pendidikan dengan maksud penciptaan manusia di muka bumi dan peran peran peradaban yang harus mereka jalankan dan tuntaskan dalam rangka maksud penciptaannya itu.

Pertanyaan “bagaimana cara bershabar menghadapi anak” akan berubah menjadi “mengapa harus bershabar membersamai anak?”. Pertanyaan “bagaimana” menuntut jawaban instan dan kepanikan. Pertanyaan “mengapa” mendorong untuk tenang dan optimis menemukan jawaban yang mengakar.

Pertanyaan “bagaimana mengatasi anak yang keras kepala” , akan lebih terasa lebih fitri, menenangkan dan optimistik bila menjadi “mengapa ananda begitu kuat leadershipnya?”.

Maka ilmu mendidik anak yang terbaik selalu diawali dengan Tazkiyatunnafs atau pensucian diri para orangtua. Yang pertama, yaitu mua’ahadah atau untuk menyadari kembali fitrah perannya sebagai orangtua, untuk mengingat kembali janji janji pernikahannya kepada Allah.

Mu’ahadah adalah proses awal untuk menyadari kembali apa sesungguhnya makna mendidik anak dalam hidupnya serta kaitannya dengan tugasnya sebagai khalifatullah fil ardh dan hamba Allah.

Yang kedua, muroqobah, yaitu mendekat kepada Allah, agar Allah berikan Qoulan Sadida berupa tutur yang indah berkesan, idea yang bernas menggugah, hati yang berempati menenteramkan, sikap yang keren dan pantas diteladani dalam mendidik anak anaknya.

Yang ketiga, mujahadah, yaitu menjalankannya dengan sungguh sungguh, tidak separuh hati dan sisa tenaga dalam mendidik. Meyakini bahwa mendidik anak sesungguhnya adalah mendidik diri sendiri. Menumbuhkan fitrah anak sesungguhnya menumbuhkan fitrah diri sendiri. Mengadabkan anak sesungguhnya mengadabkan diri sendiri.

Yang keempat, muhasabah, yaitu senantiasa melakukan evaluasi dan perencanaan kembali. Membuat ukuran ukuran progress dalam mendidik sesuai dengan fitrah dan tahapan perkembangan.

Yang kelima, mu’aqobah, yaitu jangan pernah merasa paling benar, mau menerima dan bertaubat mengakui kesalahan lalu menerima segala akibatnya dengan ikhlash dan segera memperbaikinya.

Allahlah sesungguhnya Murobby (Pendidik) sejati anak anak kita, karena Allahlah yang paling mengetahui hakekat setiap fitrah anak anak kita, dan Allah tidak salah pilih karena telah memilih kita untuk memegang amanah dan karunia mendidik fitrah dan adab anak anak kita.

Banyaklah bersyukur sebagaimana Luqmanul Hakiem, sehingga Allah berikan banyak hikmah sebelum mendidik.

Mari, wahai para orangtua, kita asah kembali fitrah keayahan dan fitrah keibuan kita yang sudah lama tertidur, mari kita tajamkan nurani, naluri, firasat, intuisi dalam mendidik anak anak kita sendiri sesuai fitrahnya. Bukankah Nabi SAW berpesan, “Takutlah kalian pada firasat orang beriman”.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak/adab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s