Gang Kecil Kuliner dan Toko Moci berusia 300 tahun Kyoto Benchmarking Warung UmKm

Di Kyoto sebagai kota tertua di Jepang sy bertemu sebuah toko khusus penjual moci. Sy jadi ingat Toko moci dan oleh oleh di Cianjur sebelum tol cipularang lahir. Disini di Kyoto Yg punya seorang ibu. Ia bilang kiosk nya hanya menjual moci. Tradisi turun temurun. Usia toko nya bikin sy melongo dan bingung.

Tiga ratus tahun. Hanya menjual moci. Bagaimana sebuah resep dan tatacara membuat moci dapat bertahan tiga abad dari generasi ke generasi.

Di Jogja mungkin kita sukar bertemu dengan penjual gudeg turun temurun hingga lebih tiga generasi . Begitu juga penjual pecel Madiun atau Rawon atau kepala kambing Bakar di Tegal. Konflik keluarga biasanya bikin warung makan terkenal pecah jadi dua atau lebih. Resep nya juga hilang tanpa catatan.

Di Kyoto ini ketika sy tanya tentang resep nya apa disimpan rapi dan tertulis? Ia hanya menunjuk sebuah ruangan bersih dan penuh lemari serta ruang baca. Ada perpustakaan keluarga didalam nya . Arsip dan hobby mencatat apa yg terlihat memang ciri khas Jepang. Semua difoto dan disimpan serta diklasifikasi. Di kita itu yang hilang dari khasanah.

Sy jalan jalan ke Pontocho sebuah gang kecil dengan banyak lorong. Dikiri kanan nya berjajar warung makan. Masing masing dengan makanan khas nya. Ada yg khusus tempura. Ada yang ikan segar mentah atau sashimi. Ada yg unagi atau ikan sidat dan lain sebagai nya. Ada soba atau udon yg dilengkapi dgn potongan Kol yg diiris tipis tipis dan selada serta kacang merah, slada teman sukiyaki.

Yg menarik porsi nya dibuat kecil agar tidak mahal harga nya. Gang ini berdiri sejak ratusan tahun lalu ditepi sungai Kamogawa. Sejak Zaman Edo abad 16.

Gang kecil ini ditata rapi dan amatlah bersih. Sy terbayang gang ini mirip barisan kiosk cikapundung tempat sop kaki. Sayang tak terawat. Padahal jika kali cikapundung nya bersih dan kiosknya dibuat teratur rapih alangkah sedap nya.

Kunci keindahan Pontoco adalah kali yg bersih, kiosk yang tertata rapi, hygienist dan bersih. Resep tradisional milik keluarga yang dirawat rapi ratusan tahun.

Konsistensi mempertahankan tradisi, kuktur memang bisa melahirkan inspirasi dan inovasi bagi yg hadir. Ini semacam tempat tetirah para seniman dan engineers untuk berkarya bagi masa depan.

Di Jogja sy pernah nikmati sate Klatak bersama Prof Baiquni di pasar wonokromo. Enak satenya sayang pasarnya gelap seperti tak tersentuh PLN. Juga banyak tumbuh rumah kuliner baru yg contemporer seperti warung kopi klotok. Di Jogja, Solo, Makasar seolah telah lahir generasi baru usahawan kuliner yg bikn kota lebih hidup. Saya fikir Malioboro di Jogja, Laweyan di Solo dan Cikapundung di Bandung atau Losari di Makasar dapat menyaingi Pontoco ini .

Apa begitu ? Wallahu alam . Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s