Fitrah Jasmani

Harry Santosa – Millenial Learning Center
December 15, 2016

#fitrahjasmani #karakter #adab #aqilbaligh

Di dalam pendidikan olahraga sepakbola standar FIFA, dengan riset mahal dan serius, ternyata penggemblengan pemain professional dimulai sejak usia 10 tahun. Sebelum usia 10 tahun, pendidikan sepakbola melarang seorang anak berlatih teknik sepakbola yang rumit, “just playing soccer for fun”.

Namun sejak seorang anak ditemukan bakatnya di olahraga sepakbola pada usia 10 tahun, melalui Talent Scouting yang ketat, maka kemudian pendidikan sepakbola mengharuskan mereka untuk menjalani penggemblengan baik knowledge n skill yang berat.

Jangan kira tidak ada pendidikan karakter dalam pendidikan sepakbola, justru latihan yang berat, konsisten, disiplin tinggi adalah bagian dari pembentukan karakter seperti: layak dipercaya atau jujur (trustworthiness), saling menghormati (respect), bertanggung jawab (responsibility), bersikap adil (fairness), merasa senasib dan peduli (caring).

Jangan kira cuma latihan fisik semata, ketahuilah bahwa seorang pemain sepakbola, dalam sebuah pertandingan, dalam situasi kritis, harus mengambil keputusan cepat dengan banyak pilihan dalam hitungan detik, lebih cepat dari seorang presiden sekalipun.

Bukan cuma teori, mereka digembleng di “lapangan nyata” yaitu wajib melakukan match (pertandingan) 36 kali setahun untuk U10 sampai U13, kemudian wajib melakukan match 48 kali setahun untuk U14 sampai menjadi Pro di U17 ke atas. Ini berarti dalam sepekan setidaknya 1 kali match, dan hanya dibutuhkan 6 tahun untuk menjadi seorang professional berkarakter.

Apa hikmahnya? Sebagaimana pendidikan sepakbola menghaslkan pemain pro dalam waktu 6 atau 7 tahun sejak usia 10 tahun, seharusnya pendidikan profesional lainnya juga bisa. Jadi semestinya persiapan Pro bisa dimulai sejak ditemukan bakat seseorang di usia 10 tahun dan tidak ada pembebanan apapun sebelum usia 10 tahun.

Lalu seorang Pro bisa dicapai di usia 15-17 tahun apabila serius dikembangkan dengan pemagangan real (dalam sepakbola berupa pertandingan) sejak ditemukan bakat di usia 10 tahun.

Jadi jika anak sudah diketahui berbakat dalam sebuah peran spesifik misalnya di bidang pertanian pada usia 10 tahun semestinya sudah menjadi petani professional di usia 15-17 tahun. Begitupula jika anak sudah diketahui berbakat dalam sebuah peran spesifik di bidang kedokteran atau kesehatan, semestinya sudah menjadi tenaga medis professional di usia 15-17 tahun. Dalam Islam AqilBaligh secara umum ditetapkan pada usia 15 tahun, dimana seorang anak sudah setara dengan kedua orangtuanya dalam tanggungjawab syariah maupun kemandirian hidup.

Begitupula peran peran lainnya seperti perdagangan, perikanan, creative industry dll termasuk jika anak diketahui berbakat dalam peran spesifik dalam ilmu agama, maka seharusnya sudah bisa menjadi ulama dalam bidang tertentu di usia 16-17 tahun dan itu semua cukup dimulai pada usia 10 tahun. Di bawah 10 tahun fokus saja pada antusias dan penumbuhan semua aspek fitrah dan adab/akhlak dasar.

Apakah mungkin usia 15-17 profesionalisme dan kemandirian tercapai? Lihatlah sepanjang peradaban manusia bahkan peradaban Islam, bertaburan para pemuda dengan peran peran spesifik peradaban di usia 15-19 tahun.

Sejarah mencatat Rasulullah SAw sudah mulai magang berdagang bersama pamannya sampai ke Syiria pada usia 11-12 tahun, sudah punya bisnis sendiri di usia 16-17 tahun. Seorang Sahabat muda, Usamah bin Zaid RA, dinikahkan Nabi SAW di usia 14-15 tahun, dan sudah ditunjuk menjadi panglima di usia 16-17 tahun. Tradisi ini dilanjutkan oleh pemuda pemuda pada generasi generasi selanjutnya.

Pantas saja di dalam islam, usia 10 tahun menjadi tahapan yang penting. Kamar dipisah dan boleh dipukul jika meninggalkan sholat. Apa artinya? Sejak usia 10 tahun fitrah seksualitas dan fitrah keimanan harus tuntas, mengapa? Karena anak masuk ke fase serius usia 10-14 tahun yaitu pre aqilbaligh, dimana penggemblengan kemandirian, penggemblengan kemampuan memikul beban syariah dan pengembangan bakat dan akhlak sehingga menjadi peran peradaban spesifik berupa professional di bidangnya dengan karakter yang mulia pada usia setidaknya 15-17 tahun.

Mengapa kerentanan dan kenakalan anak banyak terjadi di usia 12-19 tahun? Karena energi anak anak pemuda kita tidak diarahkan dan dikembangkan dengan serius. Pengembangan bakat yang konsisten dan keras sesungguhnya juga menghebatkan karakter seseorang.

Siapa yang tidak kenal Muhammad Ali, petinju yang sangat berkarakter. Siapa yang tidak kenal banyak pemain bola yang tidak hanya hebat dalam skill tetapi juga hebat dalam karakter, dstnya.

Mari kita tengok sistem persekolahan negara kita, anak anak kita sampai usia 17 tahun jangankan menjadi professional, bahkan karakterpun berantakan, lambat dewasa apalagi mandiri. Adanya UN, KKM dsbnya yang lahir dari sesat berfikir wacana prestasi akademis hanya melahirkan generasi dengan berorientasi nilai, curang, mempertuhankan prestasi dan kompetisi menghalalkan segala cara, mementingkan diri sendiri, elitisme, merendahkan orang lain, dstnya.

Sistem persekolahan negara kita sangat arogan, susah menerima perubahan dan “kekeuh” dengan wacana prestasi akademis yang mengabaikan dan melalaikan tahapan psikologi perkembangan manusia dan potensi fitrahnya sehingga gagal pula membangun karakter bangsa.

Kita sudah tahu atau pura pura tidak tahu betapa buruknya sistem persekolahan negara? Itu terserah kita. Pilihan di tangan kita. Namun ingatlah bahwa pendidikan adalah tanggungjawab orangtua dan komunitas di dunia dan di akhirat. Ingatlah bahwa negara hanya ingin mengendalikan pendididkan, namun mereka tidak pernah mau bertanggungjawab atas buruknya hasil sistem pendidikan yang mereka buat.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s