Najelaa Shihab (Pendiri Sekolah dan Kampus Guru Cikal)

Kebanyakan dari kita memahami kurikulum dengan sangat terbatas, sesuatu yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pemahaman ini menumbuhkan pandangan “ganti menteri ganti kurikulum”. Yang lebih mengkhawatirkan, hal ini menimbulkan miskonsepsi berikutnya, bahwa kurikulum bukan milik bersama komunitas sekolah, tidak ada hubungannya dengan guru dan anak yang berada di kelas.

Tak heran, karena tidak merasa punya otonomi, banyak pendidik yang melihat kurikulum sekedar sebuah dokumen yang ditetapkan di awal tahun ajaran atau bahkan di awal pendirian sekolah. Saat berbicara tentang kurikulum kita perlu terus mencoba melihatnya secara berkesinambungan, bukan hanya tentang Permendikbud tertentu yang menetapkan kompetensi inti dan kompetensi dasar tapi mulai dari tujuan pendidikan nasional, sampai silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun setiap guru dan disepakati dengan setiap murid di dalam kelas. Kepala sekolah, guru, orangtua, murid yang merdeka belajar memang sarat mutlak kurikulum yang tidak hanya indah di atas kertas atau ditumpuk di laci atasan.

Kurikulum merdeka belajar tidak bisa sekedar diberikan, apalagi diperjualbelikan. Kurikulum merdeka belajar juga tidak bisa di-copy/paste-kan dari sekolah sebelah atau kelas tahun ajaran sebelumnya. Faktor murid menjadi faktor penentu utama implementasi kurikulum di saat tertentu. Cakupan materi apa, tahapan dan pilihan sebagaimana diuraikan dalam written curriculum, perlu keterlibatan semua lewat percakapan bermakna.Di Cikal, kami terus mengupayakan beberapa praktik baik dalam mendesain dan mengimplementasikan kurikulum.

Kami percaya pada pentingnya proses PARTISIPATIF. Seluruh pemangku kepentingan di ekosistem pendidikan, punya kompetensi berkontribusi dalam pengembangan kurikulum. Tantangan partisipasi tentu bisa muncul untuk berbagai pihak. Ada sekolah yang mengeluhkan partisipasi orangtua dalam forum rutin yang membicarakan tujuan pendidikan jangka panjang ataupun forum singkat yang sekedar membahas tujuan sebuah tugas atau perjalanan karyawisata. Berbagai bentuk komunikasi tertulis atau jaring komunikasi lain perlu terus diupayakan oleh sekolah. Orangtua yang tidak hadir bukan berarti tidak peduli, justru berarti orangtua butuh dukungan khusus untuk bisa terlibat aktif.

Kami percaya pada proses KOLABORATIF. Dokumen kurikulum adalah milik bersama, transparan dan diberi umpan balik dari Kepala sekolah, guru, murid, orangtua dan bahkan tim non-akademik. Salah satu contoh masalah nyata di banyak satuan pendidikan adalah kapasitas guru sering tidak ditumbuhkan. Guru jarang diminta membaca dokumen kurikulum dengan utuh untuk berbagai jenjang, kebanyakan hanya tahu unit yang diajarkannya di semester tersebut. Padahal, tanpa kolaborasi guru dan pemahaman utuh, tentu sulit merancang program pembelajaran yang berkesinambungan antar jenjang.

Kami percaya proses REFLEKTIF. Kurikulum terus ditinjau kembali lewat beragam kegiatan rutin dan digunakan sebagai alat analisa dan rencana aksi. Tantangan utama yang sering dialami adalah waktu, kurikulum seringkali dianggap sesuatu yang hanya dikerjakan setahun sekali atau saat akreditasi. Padahal kurikulum adalah dokumen hidup yang berkembang seiring perkembangan proses belajar komunitas sekolah, seiring perubahan lingkungan dan zaman.

Sekali lagi, mewujudkan merdeka belajar dalam kurikulum memang tidak mudah. Cita, cara dan cakupan kurikulum bukan sekedar perlu ditetapkan. Mengatakan kurikulum kami adalah kurikulum merdeka belajar yang memenuhi semua bagian diatas, mungkin tidak sulit. Yang menantang adalah melalui proses yang merdeka dalam menyepakati dan mempraktikkannya. Tetapi bukankah kita memilih jalur pendidikan karena masing-masing kita tahu bahwa ini adalah cara paling efektif menuju cita-cita?

Merdeka belajar dalam pendidikan adalah kunci warga dan negara demokratis. Cita-cita yang perlu terus diupayakan bukan hanya di atas kertas tapi di dalam setiap kelas. Keberhasilan selalu dimulai dari praktik baik sebagian orang dan organisasi yang diceritakan dan ditularkan. Karenanya pengalaman unik setiap satuan pendidikan yang sudah berhasil menetapkan dan menyepakati kurikulum merdeka belajar, perlu terus disebarluaskan.

#SemuaMuridSemuaGuru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s