Kampus Guru Cikal
Wednesday, June 8, 2016

Banyak yang belum menyadari dampak dari perkembangan teknologi informasi. Media sosial telah merevolusi relasi dan pola komunikasi kita. Jaman dahulu, kata-kata presiden dan menteri adalah titah raja yang tak terbantahkan. Jaman sekarang, kata-kata presiden dan menteri adalah bahan perdebatan. Bila tidak cocok, langsung dibantah, bila perlu disertai bukti-bukti yang bahkan belum diketahui oleh presiden dan menteri.

Pun demikian dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi bukan sekedar guru menyuruh murid untuk mencari bahan dari internet. Internet bukan sebatas ruang pengetahuan. Kehadiran media sosial membuat murid dan orangtua mendapat sosialisasi lebih banyak mengenai kebijakan, aturan, hak dan kewajibannya. Media sosial membuat murid dan orangtua jadi lebih berdaya.

Teknologi informasi dan media sosial bukan sekedar alat, tapi mengubah pola relasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan. Guru dan sekolah bukan lagi raja. Presiden dan menteri saja didebat, apalagi guru dan kepala sekolah.

Relasi guru-kepala sekolah dengan murid-orangtua tidak lagi vertikal, tapi horisontal. Pola komunikasi antara kedua belah pihak tidak bisa lagi dengan instruksi, tapi dengan dialog yang ditandai dengan: lebih sedikit bicara, lebih banyak mendengar.

Perubahan relasi dan komunikasi di jaman digital ini menuntut semua pihak untuk melakukan refleksi dan berpikir ulang tentang cara-cara lama yang digunakan selama ini. Barangsiapa yang bersikukuh dengan cara lama, akan menghadapi badai tantangan yang seringkali tidak mengenakkan.

Mari kita pikirkan kembali. Apakah tata tertib sekolah kita sudah selaras atau justru bertentangan dengan hak dasar dan kebajikan? Apakah cara mendidik kita telah didasari sikap menghargai murid sebagai manusia atau hanya menuntut murid untuk patuh bagaikan robot?

Apakah sikap kita sebagai pendidik telah menempatkan orangtua sebagai mitra yang sejajar atau kita perlakukan sebagai pelengkap penderita? Apakah kita mau menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan murid dan orangtua atau membatasi diri pada capaian indikator kinerja yang dibebankan birokrat pendidikan pada kita?

Tanyakan pada diri kita sendiri. Tanyakan apakah kita tetap bersikukuh dengan cara lama atau sudah saatnya belajar cara-cara baru? Jawabannya akan menentukan peran dan nasib kita sebagai pendidik di jaman digital ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s