Najelaa Shihab
Pendiri Sekolah dan Kampus Guru Cikal

Sebagian kita bisa menjawab saat ditanya apa kurikulum yang digunakan di sekolah dulu, sebagian yang lain tidak ingat sama sekali. Sebagian kita mampu menceritakan apa yang dipelajari di masa lalu, sebagian yang lain menyatakan tidak banyak yang bermanfaat.

Kurikulum adalah salah satu kata yang paling sering diasosiasikan dengan pendidikan. Karena dalam definisi yang utuh, kurikulum adalah kerangka program pendidikan. Masalahnya, bahkan diantara para pendidik, apa yang dimaksud dengan kurikulum pun seringkali rancu.

Sebagian pengurus yayasan pendidikan mewajibkan kurikulum nasional tahun tertentu, tanpa merasa perlu mendalami lebih jauh. Semua “yakin”, sudah pasti ini pilihan rasional, padahal dokumennya tidak dibahas utuh bersama seluruh komunitas sekolah. Beberapa sekolah menyederhanakan penjelasan tentang kurikulumnya dengan menyebut nama salah satu ujian internasional, menguatkan miskonsepsi bahwa tujuan kegiatan sehari-hari di kelas tak ada bedanya dengan bimbingan tes – lulus ujian dengan nilai tinggi. Ada orangtua yang dengan bangga menyatakan bahwa kurikulum yang dilalui anaknya adalah kurikulum dari negeri jiran, semata-mata karena menggunakan buku terbitan sana.

Bagian pertama dari kurikulum yang menumbuhkan merdeka belajar, selalu dimulai dengan gambaran CITA-CITA. Kejelasan kompetensi ideal yang akan ditumbuhkan, menjabarkan bagaimana kita dapat mengasess capaian, dan bagaimana tahapan menuju tujuan (assessed curriculum). Pertanyaan sederhana tentang tujuan bersama, sedihnya bukan pertanyaan yang dengan mudah dijawab oleh banyak orang di satuan pendidikan. Sebagian kita merasa tidak memiliki kemerdekaan menetapkan tujuan, sebagian lagi jarang merefleksikan pengalaman masa lalu atau kesulitan saat diminta membayangkan masa depan.

Proses pendidikan yang begitu kompleks, dalam kurun waktu belasan tahun dilalui tanpa menjawab pertanyaan mendasar, untuk apa saya hadir di kelas, belajar dan mengajar setiap hari. Akibatnya, banyak hal yang kita pikir kita dapatkan dari pendidikan, mungkin sekedar “kebetulan” bermanfaat. Bukan proses yang dengan eksplisit dan sengaja direncanakan, dengan kata lain, bukan kurikulum. Tak heran sebagian anak jadi tertinggal, tak heran nasib anak ditentukan bukan oleh kualitas pendidikan tapi oleh proses seleksi alias kondisinya saat masuk sekolah.

Bagian kedua dari kurikulum yang utuh, menggambarkan dengan jelas prinsip CARA menuju cita-cita. Standar dan praktik apa yang disepakati dan harus dilakukan dalam proses belajar mengajar (taught curriculum). Di sisi lain, standar dan praktik yang tidak boleh dilakukan juga sesuatu yang perlu disepakati. Kesepakatan cara sering dianggap tidak penting, padahal ini salah satu ciri utama dari komunitas dan organisasi yang berhasil.

#SemuaMuridSemuaGuru

“Banyak jalan menuju Roma”. Kita biasanya berhenti di ungkapan ini, lupa bahwa bila ada penumpang bis yang tidak membawa bekal tertentu, kelebihan muatan atau sering berhenti di tengah jalan, akan mempengaruhi kualitas perjalanan dan resiko keselamatan.

Pendidikan jauh lebih kompleks dari sekedar perjalanan ke Roma. Tapi kita sering memilih yang gampang- menyederhanakan perkembangan manusia dengan berbagai alasan struktur pendidikan. Standar nilai, jurusan peminatan atau jam pelajaran ditetapkan berdasar alasan administratif teknis – yang disadari atau tidak- minim kaitannya dengan cita-cita pendidikan.

Dari interaksi saya dengan ribuan pendidik, saya juga belajar bahwa jarang yang memilih prinsip cara bersama-bersama. Pendidik seharusnya memilih prinsip paedagogis dan menilai keselarasannya dengan standar dan praktik tim kerja dan organisasinya.

Di rumahpun, dengan pasangan, kita membuktikan bahwa perbedaan paradigma pengasuhan seringkali jadi hambatan harian dalam mendidik satu anak. Anda bisa bayangkan kekacauan yang terjadi saat kombinasi kepala sekolah, guru, orangtua, “dijodohkan paksa” untuk mendidik sekian banyak anak dengan cara yang kadang bertentangan.

Bagian ketiga dari kurikulum Merdeka Belajar yang utuh adalah CAKUPAN. Materi yang diajarkan dalam proses pendidikan (written curriculum). Walau ini adalah bagian yang menjadi definisi banyak orang tentang kurikulum, banyak juga miskonsepsi dalam pelaksanaannya.

Seringkali fokus utama kita hanya terbatas pada apa, tanpa menyadari bahwa urutan akan sangat menentukan proses perkembangan dan pencapaian kompetensi. Setiap hari kita mendengar keluhan murid tentang sulitnya menyelesaikan soal-soal ujian geometri, karena banyak yang melewati tahapan eksplorasi kongkrit dengan benda sehari-hari, atau sejak dini dituntut menghafal rumus menghitung pekarangan sebatas soal ulangan.

Kadangkala juga saat bicara cakupan, kita seolah melupakan cita-cita dan cara yang sebelumnya sudah ditetapkan. Setiap hari kita melihat contoh anak yang belasan tahun mendapat pendidikan kewarganegaraan tapi tidak siap menjadi pemilih pemula saaat pilkada karena banyaknya pemahaman esensial yang tidak tercakup dalam kurikulum kewarganegaraan.

Menetapkan cakupan kurikulum juga berarti membuat pilihan. Tidak ada kurikulum yang mampu mengajarkan semua hal, karenanya prioritas mengenai apa yang esensial dan relevan adalah pilihan yang perlu dilakukan dengan penuh kesadaran. Banyak dari kita yang memaksa menjejalkan terlalu banyak hal. Tak heran, semua pemangku kepentingan trauma setiap kali mendengar kata revisi atau perubahan kurikulum, karena seringkali berarti waktunya rebutan jam pelajaran atau bertambahnya beban anak.

Pendidikan memang proses yang kompleks, kurikulum pun bukan sesuatu yang bisa disederhanakan. Kompleks bukan berarti teoritis dan tidak bisa diimplementasikan. Pengalaman di Cikal justru menunjukkan, perjalanan yang menantang ini seringkali lebih menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s