Handry Satriago

Setiap orang pasti pernah mengambil keputusan dalam hidupnya. Kali ini saya akan membahasnya dalam konteks manajemen dan kepemimpinan.

Semua orang tahu, bahwa mengambil keputusan adalah tugas berat bagi seorang pemimpin. Strategi ditentukan dari keputusan-keputusan yang diambil. Satu hal yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan adalah tidak boleh ragu-ragu. Karena apa? Karena setiap keputusan selalu ada konsekuensinya, maka perhitungkan semua hal yang bisa dianalisis sebelumnya. Pertanyaannya, berapa lama mau analisis? Terlalu lama menjalankan proses pengambilan keputusan, bisa lewat keretanya. Terlewat kesempatan yang baik. Sedangkan kalau terlalu cepat, akan tidak bisa dihitung dengan tepat dampaknya. Seni danscience nya ada di sini.

Ada banyak tools dan metodologi untuk pengambilan keputusan dalam manajemen. Tapi kali ini saya tidak ingin membahas yang terlalu teknis. Cara paling mudah dan sederhana adalah buat dua kolom untuk setiap keputusan yang akan Anda ambil. Satu kolom untuk dampak positif dari keputusan tersebut dan satu kolom lagi untuk negatifnya. Ini bukan rocket science, tapi dalam banyak presentasi saya untuk mengambil keputusan, tools 2 kolom tersebut adalah alat komunikasi yang efektif dan cepat.

Sekarang tentang merespon saran dan feedbackeksternal. Tentu saja kita harus mendengarkan setiap saran dan feedback dalam proses pengambilan keputusan, tapi harus kita tetapkan batas waktu untuk mendengarkan. Secara teknis misalnya, kirimkan email ke semua orang yang perlu kita mintai saran danfeedback nya ketika akan memutuskan sesuatu lalu tetapkan batas waktu. Tidak merespon hingga batas waktu tersebut artinya setuju.

Dalam setiap proses pengambilan keputusan memang kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Seorang pemimpin harus siap dengan rasionalitas yang baik saat terjadi protes. Ada banyak situasi dimana kita mengambil keputusan yang disetujui oleh mayoritas tim kita. Kita dengarkan mereka. Ini adalah situasi ideal yang kita harapkan. Tapi akan ada saatnya kita harus berkata “I hear you all, but this is my decision”. Karena bagaimanapun pada akhirnya pemimpinlah yang bertanggungjawab atas keputusan tersebut. Yang penting bangun environment dan culture bahwa tim kita tahu dan merasa bahwa mereka punya hak bersuara terhadap keputusan yang akan diambil. Terlalu sering mengambil keputusan yang berbeda dengan aspirasi team, maka orang-orang bagus dalam tim yang Anda pimpin bisa pergi. Tapi mengambil keputusan berdasarkan keinginanan semua orang, tanpa keyakinan diri sendiri, maka kredibilitas sebagai pemimpin akan lemah. Harus ada balance nya antara mengikuti pendapat team dan “I hear enough and this is my decision”. Pengalaman saya perbandingannya sekitar 70:30.

Tetap saja satu hal yang pasti, kalau urusan integritas dan compliance, maka harus tidak ada kompromi dalam keputusan yang diambil. Kalau harus pecat orang, ya pecat. Kalau harus rugi dan tidak dapat proyek, ya tidak dapat. Integritas tidak boleh dan tidak bisa dikorting.

Ada kalanya juga pemimpin harus membuat keputusan yang tidak popular. Dalam situasi ini, pahami benar rasionalitasnya, komunikasikan secara transparan, dan putuskanlah dengan cepat. Jangan menunda-nunda mengambil keputusan dengan harapan masalah akan selesai dengan sendirinya. Resiko late decisionseringkali lebih besar. Dalam pengalaman saya, lebih baik membuat keputusan yang salah tapi kita punya waktu untuk belajar dan membuat keputusan yang lebih baik daripada kita terlambat mengambil keputusan.

Apa langkah yang harus ditempuh ketika kita membuat keputusan yang salah. Tidak ada cara lain yang ampuh selain mengakuinya, dan bertanggung jawab terhadap hal tersebut serta belajar dari situ. Blaming othershanya akan membuat kita jadi pemimpin yang kerdil dan kehilangan trust.

Berikutnya, dalam setiap proses pengambilan keputusan, selalu siapkan opsi yang out of the box. Ini akan memberikan ruang untuk bereksperimen. Bantak keputusan yang bagus-bagus dalam studi kasus manajemen lahir dari opsi yang out of the box tersebut.The “Why Not?” things. Sering saya tantang diri saya dan tim untuk assess opsi “Why Not?” tersebut sebelum mengambil keputusan. Ini bisa berguna sekali.

Lalu jangan mengambil keputusan saat sedang emosi atau saat perasaan clouding rasionalitas. Saat harus mengambil keputusan yang berat, tips untuk ingatkan diri bahwa “leader deal with tough issues” seringkali membantu untuk kuat. Walaupun kadang ada keputusan yang dibuat berdasarkan gut feeling, tetap harus ada rasionalitasnya yang bisa dijelaskan. Terutama dalam kondisi krisis dan waktu terbatas, ada keputusan yang diambil berdasar gut feeling. Sesuatu yang diyakini adalah benar. Jam terbang dan belajar dari proses pengambilan keputusan di masa lalu biasanya akan membantu keputusan yang harus pakai gut feeling seperti itu.

Akhirnya, dalam proses pengambilan keputusan, pemimpin harus paham benar masalahnya, opsi-opsinya, batas waktunya, dan impact dari keputusan yan dia ambil.

Demikianlah apa yang bisa saya bagikan tentang mengambil keputusan. Semoga berguna!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s