Didiklah anak anak kita (bagian 2)

Harry Santosa – Millenial Learning Center
December 12, 2016

Mendidik anak itu seperti berdakwah, mendahulukan amar ma’ruf daripada nahi munkar, mendahulukan berita gembira (bashiro) sebelum peringatan (nadziro), selalu melihat kondisi kesiapan, kedewasaan dan psikologis obyek dakwah apalagi obyeknya adalah anak dengan segala aspek fitrahnya dan tahapan perkembangan usia dstnya, sehingga tentu tidak bisa gebyah uyah.

Misalnya ketika anak batuta (bawah 7 tahun) naik ke atas meja makan maka alangkah baiknya jika mengatakan hal baik yang akan diingat sebagai kebaikan “nak, meja makan untuk makan, sedangkan kaki untuk berjalan di lantai atau ke masjid”.

Mendahulukan mengatakan larangan thd hal buruk membuat anak hanya mengingat yang buruknya namun lupa dengan hal yang baiknya. Kebaikan itu menurut Ibnu Abbas RA dalam atsarnya, “membuat hati menjadi terang, wajah menjadi bercahaya, badan menjadi sehat, rezqi menjadi lapang”

Para Sahabat Nabi SAW, jika kita baca kisah kisahnya, juga lebih banyak menanyakan kebaikan segala sesuatu kepada Nabi SAW daripada menanyakan keburukan segala sesuatu.

Rasulullah SAW sering melakukan hal ini, dan tidak selalu mendahulukan larangan, tetapi mendahulukan perintah kebaikan. Bahkan membolehkan anak batuta melakukan hal hal tertentu yang orang dewasa dilarang, seperti mempunyai boneka kesayangan, bermain kuda kudaan ketika sholat dll. Allah Maha Tahu, karenanya perintah Sholat baru diperintah kepada orangtua untuk menyuruh anaknya di usia 7 tahun bukan sejak dini. Segala sesuatu ada tahapannya, baik dalam dakwah juga dalam mendidik anak.

Begitupula anak pada usia selanjutnya. Misalnya ketika Asma yang menjelang gadis melintas dengan pakaian biasa saja, Nabi SAW memanggilnya dan dengan lembut mengatakan, “sesungguhnya aurat wanita itu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan”. Tiada kata larangan atas keburukan yang disebutkan, tetapi perintah berupa kebaikannyalah yang disebutkan.

Ini jauh lebih berkesan dan terekam kebaikan dalam ingatan. Redaksional sangat penting dalam berdakwah atau mendidik anak. Secara alami, nurani manusia menolak jika dikatakan “salah”, nurani selalu ingin benar, mereka mencari pembenar atas tindakannya. Beberapa anak pada tahap tertentu amat suka mengambil negasi. Maka mendahulukan berita gembira sangat baik untuk fitrahnya dan menghidupkan kesadaran nuraninya.

Dalam hal khusus dan urgent terkait akidah dan dengan mempertimbangkan kesiapan anak, maka kata “larangan” tentu saja bisa dipergunakan.

Jadi sebaiknya tidak gebyah uyah dalam mendidik, tetap perhatikan zhuruf (situasi/perasaan anak), audha’ (kesiapan/ kondisi/usia), ahdats (konteks peristiwa), syakhsiyah (karakteristik keunikan anak).🙏😊

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s