Jusman Syafii Djamal
December 27, 2016·

Tulisan ini sy ketik diatas iphone dan di unggah liwat jaringan wifi LTE dalam perjalanan menuju Nagoya dengan Shinkansen Nozomi. Kecepatan kereta API ini 330 km perjam. Stabil dan terlihat dikanan kiri bangku saya anak kecil tertidur dipangkuan ibunya. Tenang nyaman dalam kecepatan tinggi. Safety first. Mahakarya teknologi Jepang.simbol penguasaan teknologi setelah kalah perang dunia ke 2.

Kemarin siang ketika sedang jalan di slasar Keio University sy bertemu seorang ibu memakai kerudung sedang bersama anaknya. Dari cara jalan dan gerak geriknya isteri sy menebak ini pasti orang Indonesia. Lantas kami menyapa Assalamualaikum , apa kabar bu ? Beliau kaget dan bertanya :” dari Indonesia ya ?” Kami jawab ya bu. Ia menyebut namanya ibu Melia.

Dan selanjutnya kami terlibat dalam perbincangan penuh Kekeluargaan. Kami banyak bertanya tentang pengalaman mengajar bahasa Indonesia di Keio University. Bahan berharga yang menyebabkan sy mudah menjawab pertanyaan seorang Guru Besar yg sy temui kemudian :”mengapa anda tertarik mengunjungi universitas tertua Keio ini ?”

Ternyata ibu ini seorang ahli kimia yang sedang mengajar di Keio University tapi tdk dalam bidang keahlian nya. Beliau menjadi Dosen Mata kuliah Bahasa Indonesia. Mahasiswa nya dari Jepang. Ketika sore hari atau disela waktu mengajar nya beliau aktip memberi ceramah tentang Islam di Indonesia dan mengajar tentang agama Islam di mesjid atau Pusat pengajian di Tokyo. Karenanya beliau diminta untuk jadi salah satu assessor dan sekaligus auditor independen tentang Halal Food di Tokyo ini.

Menurut beliau Halal Food kini jadi trend restaurant di Jepang. Mereka sedang bersiap menyambut olympiade 2020. Jepang sebagai Tuan rumah ingin memberi layanan sempurna bagi atlit dan penonton olympiade 2020. Termasuk bagi atlit dan penonton yang beragama Islam dari Negara Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Arab Saudi dan UAE.

Beliau nitip pesan Pak tolong beritau ulama di Indonesia bahwa Jepang sedang memerlukan dukungan dan bantuan untuk assesment dan audit serta mentransformasikan restaurant nya untuk disertifikasi Halal Food. Sayang nya “Saya sudah mengetuk banyak pintu ” tapi tak kunjung ada jawaban.

Akibat nya di Jepang kiblat proses sertifikasi Halal Food kini pindah ke Malaysia. Ulama disana aktip dan sering ikut memuluskan jalan untuk sertfikasi Halal Food. Hanya kebetulan karena Saya ahli kimia dan muslimah menyebabkan kini sering diminta jadi auditor independen.

Halal Food di Jepang di jadikan bagian penting dari layanan jasa boga untuk turis muslim terutama bagi persiapan olimpiade 2020. Sebuah value creation dalam industri turisme yang di Indonesia sering dianggap hal sepele. Beruntung sy bertemu seorang ibu ahli kimia yg telah tinggal di Tokyo selama 5 tahun. Dan sy ikut bangga juga karena paling tidak ada wakil Indonesia yg berperan aktip untuk menambah kemudahan bagi kita yg berkunjung ke Jepang untuk mendapatkan restoran halal Food.

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s