Harry Santosa
Dec 8, 2016

Robbku mendidiku atau meng-Adab-kanku (melalui beragam peristiwa) maka menjadi baiklah Akhlaqku.

“Adabbani Robby faahsin Khulqy”

Barangkali kita lebih sering belajar karena sesuatu yang sudah dikurikulumkan kemudian mengukurnya dari pencapaian pemahaman atas kurikulum yang disajikan. Itulah banyak diantara kita yang kemudian ketika dewasa sulit menangkap dan menggali makna dari maksud Allah atas peristiwa atau momen di sekitar kita. Kita lebih terpesona pada yang tampak bukan yang haq sehingga sama sekali tidak menambah mulia adab atau akhlak kita.

Padahal secara fitri, ketika kecil, anak anak selalu terkesan dengan peristiwa keseharian yang mereka alami lalu secara alamiah mereka belajar dari pengalaman yang berkesan itu dan berusaha menjadi semakin baik. Semakin berkesan sebuah peristiwa semakin banyak kesempatan menggali hikmah, menemukan peran yang pas di kemudian hari dan memuliakan adab. Being through living moment.

Begitu pula secara syar’i, kita diminta untuk selalu memikirkan penciptaan Allah dalam momen pergantian siang dan malam, dalam setiap penciptaan di langit dan di bumi. Kita diminta untuk “sairu fil ardh” berjalan di muka bumi (exploration, expedition dll) untuk mengamati pola di dalam peristiwa kehidupan baik di masa lalu (sejarah) maupun masa kini yang kita alami. Spirit inilah yang menjadi tradisi hebat dalam peradaban Islam yang kemudian menghebatkan peradabannya.

Begitulah alQuran diturunkan ayat demi ayat ketika Rasulullah SAW dan para Sahabat mengalami momen peristiwa dalam keseharian kehidupannya sehingga menjadi sangat berkesan mendalam, merekonstruksi nalar, mengelola kejiwaan dan mengelola pensikapan, menajamkan kemampuan “mubsyaroh” kemudian berusaha mengamalkannya dan memperindah adab atau akhlaqnya.

Karenanya menumbuhkan fitrah anak yang paling baik adalah berinteraksi dengan momen peristiwa peristiwa keseharian sesederhana apapun, baik di alam maupun di kehidupan lalu menjadi gairah dan antusias pembacaan terhadap ayat ayat Kauniyah (ayat Allah di alam semesta).

Pembacaan atas peristiwa ini sejatinya berawal pada menemukan makna hakiki dan pengetahuan yang mendalam dan luas kemudian mentadaburi ayat ayat Qouliyah (ayat Allah di Kitabullah) sehingga makna dan pengetahuan yang ditemukan menjadi tepat dan akurat serta menebar banyak rahmat dan manfaat serta berujung pada adab yang semakin mulia.

Allahlah sesungguhnya Sang Maha Pencipta Waktu dan Peristiwa, The Moment Designer n Creator, sepanjang kehidupan manusia, untuk semakin memperindah akhlak dan adab manusia dengan catatan manusia menggunakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami makna. Yang tidak mau mempergunakannya dianggap lebih buruk dari binatang ternak.

Mari didiklah Anak anak kita melalui momen dan peristiwa berkesan yang terus berdatangan setiap saat dari Sang Maha Pencipta Peristiwa agar Adab dan akhlak mereka kepada Allah, kepada Alam dan kepada Manusia dan Peradabannya semakin baik dan mulia.

Coba renungkan, andai Allah memberi momen yang hebat dan langka kemudian adab kita semakin tidak mulia, semakin sibuk dengan kebathilan dan meniru keburukannya, semakin galau pada alBathil maka barangkali kita lebih buruk dari binatang ternak. Semoga anak anak kita tumbuh hebat fitrahnya dan semakin mulia adabnya dengan momen peristiwa yang Allah karuniakan setiap hari.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlaq
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s