Harry santosa – Millenial Learning Center
November 27, 2016

#fitrahfisik
#fitrahjasmani

Jarang yang memahami bahwa fisik atau jasmani manusia telah dipersiapkan Allah secara cukup untuk menjalani maksud penciptaan di muka bumi sebagai Hamba Allah dan sebagai Khalifah Allah. Maksud penciptaan adalah “alasan mengadakan” manusia untuk menjalani aktifitas yang ditugaskan, sementara tugas / peran manusia adalah “alasan keberadaan” manusia agar melakukan aktifitas sesuai yang dimaksud.

Secara fisik sejak di dalam kandungan, seorang bayi telah mempersiapkan fisiknya termasuk metabolisme nya agar mampu menjalani kehidupan di dunia kelak. Menurut Ane Murphy dalam risetnya, tubuh ibu seolah menjadi kotak surat bagi seluruh informasi dunia di luar rahim yang akan dihuni kelak oleh sang bayi.

Karenanya jika selama masa kehamilan sang ibu hidup di daerah pesisir yang banyak makan makanan laut, maka bayi mempersiapkan seluruh sel tubuh, pemcernaan dan pola metabolismenya agar bisa hidup di daerah pesisir. Begitupula jika orangtuanya hidup di daerah pertanian atau peternakan dsbnya.

Dalam riset lain ditemukan bahwa anak anak nelayan akan sakit jika terlalu banyak makan nasi. Sama halnya dengan anak petani akan sakit jika terlalu banyak makan ikan. Ini termasuk bayi bayi yang dikandung oleh ibu di masa perang atau masa paceklik, maka mereka menyiapkan tubuhnya untuk mampu hidup sesuai kesulitannya.

Bahkan konten dari ASI untuk anak lelaki dan perempuan berbeda. Riset yang dilakukan terhadap 76 wanita menyusui di Kenya, menunjukkan ASI untuk bayi lelaki lebih kaya protein dan lemak, sementara ASI untuk bayi perempuan lebih banyak kalsium. Secara jumlah ASI untuk bayi perempuan lebih banyak dari bayi lelaki. Apa maksudnya?

Tentu semuanya ada maksud yang perlu kita gali bersama dan kita manfaatkan untuk mendidik generasi yang lebih baik. Tetapi yang jelas semuanya telah disiapkan agar anak kelak mampu menjalani perannya sesuai maksud penciptaanya.

Islam adalah agama yang fitri, maka semua ajarannya sesuai dengan fitrah manusia termasuk terkait fisik manusia. Lihatlah bahwa sejak lahir anak sudah punya pola makan yang baik dan sehat, sudah punya pola tidur yang baik dan sehat, sudah punya pola gerak yang baik dan sehat, sudah punya pola kesehatan dan kebersihan yang baik dan sehat.

Inilah fitrah fisik yang Allah instal pada manusia, lalu orangtua dan lingkungannyalah yang menyimpangkannya. Setiap balita jelas suka makanan alami (natural), orangtuanyalah yang mengenalkan junk food. Setiap balita suka bangun sebelum subuh, orangtuanyalah yang menyuruhnya tidur kembali. Setiap balita suka bergerak dan beraktifitas, lalu orangtuanyalah yang menyuruhnya banyak diam. Setiap balita juga suka kebersihan mereka menangis jika pakaiannya kotor atau basah, namun orangtuanyalah yang malas menggantinya.

Fitrah fisik ini kelak akan terkait dengan kewajiban untuk fit dan sehat dalam beribadah dan berjihad secara fisik. Rasulullah SAW melarang orang orang yang punya keterampilan fisik untuk berjihad tetapi melupakannya.

Hari ini hampir di seluruh negara maju dan berkembang, masalah “over nutrisi” dan “malas gerak” sudah melanda anak dan pemuda. Belum lagi makanan dari hasil pertanian transgenik atau peternakan “full obat” yang memicu kanker dan obesitas di usia muda. Di beberapa negara bagian di Amerika, anak anak tidak bisa menikmati usia dewasa karena mereka mati muda karena obesitas, diabetes dan serangan jantung. Michael Pollan banyak membahas dalam buku bukunya tentang “food desires”.

Dalam konteks AqilBaligh, anak anak yang over nutrisi atau nutrisi yang tidak alamiah akan mengalami kecepatan aktifasi organ seksualitasnya, jauh lebih cepat daripada kematangan psikologisnya atau aqil. Maka bisa diduga, kegalauan dan turbulensi masa transisi baligh dan aqil (remaja) akan membuat generasi anak anak kita tidak fokus dan rentan berbagai kerusakan moral.

Pendidikan fitrah fisik ini jelas dimulai sejak usia dini. Anak anak kita harus tetap pada fitrah fisiknya dengan tetap pada pola makan makanan yang natural, pola tidur yang tidak suka tidur larut malam dan mudah bangun sebelum subuh, pola gerak yang berinteraksi dengan alam sebanyaknya sebagaimana Rasulullah SAW ketika batuta menggembala kambing sampai puncak bukit, pola bersih untuk menolak sesuatu yang kotor dan tidak nyaman (basah) dsbnya.

Anak anak yang sudah terlanjur menyimpang polanya bisa dikembalikan lagi pola aslinya sebagaimana fitrah fisiknya ketika lahir. Umumnya kita disibukkan pada kecerdasan otak semata melalui berbagai “input pengetahuan”. Padahal anak anak yang banyak bergerak dan beraktifitas justru fitrah belajar dan bernalarnya dsbnya tumbuh seiring fitrah fisiknya.

Jangan khawatir, sebuah riset di Inggris, yang menyediakan kantin makanan sehat alami dan junk food bagi anak anak sekolah dasar, dalam beberapa bulan antrian di barisan junk food yang semula penuh berpindah ke makanan sehat alami. Itu terjadi ketika anak anak dibangkitkan kesadarannya dan merasakan sendiri betapa “sakitnya” makanan “sampah”.

Kita lihat Rasulullah SAW yang fisiknya setara 10 orang dewasa, generasi Sahabat yang bugar dan fit serta siaga berjihad fisik setiap saat. Mari jangan kita lupakan fitrah fisik ini agar generasi peradaban anak anak kita bisa hidup lebih panjang dan bermanfaat lebih lama bagi peradabannya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s