Jusman Syafii Djamal
December 12, 2016

Pagi ini karena libur panjang saya menemani isteri belanja. Salah satu yang kami kunjungi adalah pasar legendaris, pasar tradisional yang turun temurun dikelola oleh generasi pedagang dari kakek diturunkan ke anak cucu. Tentunya pasar Majestik, dekat RSPP Kebayoran Jakarta Selatan.

Pasar Mayestik ini biasanya jadi langganan ibu ibu. Banyak pembeli nya. Selalu ramai dan karena banyak langganan. Disini Cost Competitiveness nya terjaga. Banyak bahan kebutuhan rumah tangga terjangkau kantong.

Di pasar Mayestik ini ada banyak toko kan. Salah satunya toko kain Nusantara BUDHE, milik sepasang suami isteri yang bernama Budi dan Made. Keluarga yang menempatkan “core competencies” nya pada tenun tradicional dan kain yang dirajut oleh pengrajin kecil dari seluruh Nusantara. Di pasar ini juga ada penjual garang asam, rumah makan padang sepakat dan warung penyaji masakan jawa lainnya. Ada juga restoran Mandala yang menjual masakan Chinese dan Indonesia. Halal dan maknyus.

Kita bisa bertemu kebhinekaan dipasar pasar tradicional seperti ini.

Pasar Mayestik adalah Sebuah potensi pasar yang dapat dikembangkan jadi Pusat Kuliner Nusantara dan Pusat Penjualan Kain Nusantara serta Pusat Tukang Jahit Pakaian. Destinasi Parawisata lokal yang masih terbelenggu potensinya.

Pasar legendaris selalu ada di tiap kota besar atau kota kecil. Riwayatnya menyertai tumbuh berkembangnya sebuah kota. Dari pasar tradisional yang legendaris ini kita mampu menelisik naik turunnya suhu atau kondisi ekonomi sebuah kota. Apakah kota sedang maju atau mundur dapat ditelusuri dari riwayat jatuh bangunnya pasar tradisional yang legendarIs.

Persaingan sering tak kenal kompromi. Tumbuh berkembangnya pasar pasar modern lain yang lebih rapih,bersih,nyaman dan wangi sering menyebabkan pasar traditional kehilangan pelanggannya. Akan tetapi sebuah pasar traditional yang legendaris seperti Pasar Majestik adalah pasar yang perlu diperhatikan dengan seksama oleh kita semua.

Sebab ini lokasi seperti ini mirip gedung di kota tua Semarang atau diujung jakarta. Yang menyimpan riwayat sebuah perjalanan dari masyarakat. Ada jejak artefak masa lalu disini. Sebuah artefak keabadian perjuangan kaum pedagang menghadapi goncangan ekonomi yang mulur mungkret sepanjang masa. Sebuah sustainability, ketahanan untuk timbul tenggelam bersama kemajuan jaman. Di Negara lain pasar tradisional yang legendarIs dan gedung gedung tua dipelihara dengan rapi sebagai objek Turisme. Disini kita seolah melupakan yang tua dan selalu mencari yang baru.

Sambil menemani isteri saya sering bertanya soal yang sederhana kepada para pedagang. Pertanyan yang muncul dari rasa ingin tau. Sebab salah satu bidang yang menarik untuk ditekuni adalah Competitiveness. Daya Saing. Karenanya pertanyaan :”apakah kini pelanggan makin banyak atau makin sepi”, merupakan pertanyaan awal yang perlu dikemukakan. Sepi tidaknya pembeli disuatu pasar menentukan bangkrut tidaknya pasar tersebut. Dulu bangsa Ingris sering diolok olok orang Jerman sebagai bangsa penjaga toko. Akan tetapi ketika perang dunia kedua pecah penjaga toko ini mampu mengalahkan Jerman.

Tadi ketika saya tanya tentang sepi tidaknya pasar dalam empat atau lima bulan terakhir, mereka menjawab makin sepi pak. Saya tanya kemudian :”apakah karena kalah bersaing ? dan Harga lebih tinggi”. mereka menjawabannya bukan pak. Lantas kenapa ? saya tanya sebab saya takut jangan jangan ini tanda resesi, atau kata orang medan Belanda sudah dileher akibat kantong semakin menipis tergerus harga naik. Ternyata para pedangan bilang ini bukan karena sitasi ekonomi. Mereka lebih merujuk pada hal hal yang bersifat teknis.

Mereka jawab :”Gimana ngga lari pelanggannya pak. Travelator nya atau ban berjalan atau tangga berjalan untuk ibu ibu turun naik sudah lama macet dan tak terurus pak. Lift nya pun lama turun naiknya.Sudah lapor pak ? saya tanya. Mereka jawab sudah tapi reaksi tak kunjung datang.

Pedagang lain bilang tentang jenis ketidak nyamanan lain. Gimana mau rame pembeli pak, mau parkir aja susah dan semrawut. Semua centang perenang. Keteraturan dan kerapihan tak terkelola dengan baik. Lantas saya bertanya :”apakah calon gubernur DKI sudah berkampanye disini ?”. Semua tersenyum tak ada jawaban.

Dari dialog seperti ini saya jadi sådär bahwa tidak semua masalah yang muncul akarnya berasal dari masalah makro atau yang besar besar. Ada masalah yang timbul dari ketidak mampuan menjaga kinerja alat peralatan utama yang digunakan. Seperti lift, tangga berjalan, truk kebersihan, pengaturan parkir dan masalah teknis lainnya. Masalah operasional. Ketidak nyamanan yang muncul karena masalah sepele terkuak.

Dan sambil pulang saya bertanya pada isteri. Apa kah ia akan kembali ke Pasar Mayestik untuk berbelanja keperluan sehari hari. Ia dengan enteng menjawab, kenapa tidak ?

Sebab ujarnya :”disini di pasar tradisional seperti Majestik kita ketemu saudara”. Aku bisa ngobrol ngalor ngidul, kita Bukan seperti pembeli dan penjual yang tak saling kenal mengenal. Setiap penjual dan orang disana seolah sudah punya keterikatan emosi yang datang dan pergi.

Saya jadi teringat ketika mahasiswa punya langganan warung makan. Yang selalu jadi tempat berlabuh ketika kiriman uang atau dompet lagi kosong. Bisa kas bon. Sebuah metode simpan pinjam tradisional yang bikin hidup bergotong royong jadi punya arti.

Kekuatan dan daya tahan untuk survive, atau Sustainaibility to face uncertainty in turbulent times seringkali muncul dari persahabatan dan sifat saling tolong menolong yang ada dalam spirit Gotong Royong kita sebagai suatu bangsa.

Dan itu kini seolah pudar karena kita lupa pada hal hal kecil sederhana. Soal tangga berjalan yang macet, kebersihan yang tak terjaga, yang menyebabkan sebuah pasar traditional menjadi kumuh, tak terurus dan kehilangan pelanggannya.

Kita seolah lupa mengelola pasar tradisional dengan tatacara manajemen berbasis komunitas. Manajemen yang memiliki kemampuan reaksi cepat jika masalah sepele melanda tetangganya. Sumber daya tahan yang tak pernah pudar ditelah zaman. Di pasar seperti itu kita seolah bertemu mereka yang sering disebut oleh para sosiolog sebaga “the forgotten men and women”, yang tak tersentuh perlindungan kebijakan.

Nietzsche punya bahasa latin untuk menyebut daya tahan survival model pedagang Mayestik seperti ini dengan istilah “amor fati”, the love of fate. Kecintaan pada sesuatu yang hadir begitu saja dalam perjalanan hidup mereka. Yang tumbuh dari rasa percaya pada kekuatan kasih sayang Allah atas kesempatan memeproleh rezeki dari tiap orang yang datang.

Amor fati, love of fate , kecintaan dan kepasrahan pada nasib yang menyertai mereka. Kecintaan yang melahirkan rasa bersyukur dan kesungguhan untuk maju tak kenal menyerah, berkembang dalam komunitas dan ekosistem yang mereka cintai melalui zaman yang berubah sepanjang waktu.

Apa benar begitu ? Wallahu alam. Mohon Maaf jika Keliru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s