Jusman Syafii Djamal
December 22 at 11:45am ·

Pernah ada satu masa dimana pepatah Tidak cuma satu jalan menuju Roma, jadi mantra. Seolah semua jalan sukses adalah lintasan menuju ke Roma. Kini pepatah itu pudar karena Kota se besar Roma dan punya pengaruh di dunia tidak hanya Roma. Kini kita hidup di era banyak pilihan . An Era of Terrific Deals kata Robert Reich. Dimana jalan menuju sukses banyak cabang dan rantingnya.

Pilihan yg bervariasi ada yg bikin mudah tapi tak juga sederhana. Sebab tiap pilihan pastilah punya drawback. Punya pro and con. Punya advantage dan disadvantage. Memilih yang terbaik bagi sebuah kelompok bisnis ataupun suatu Bangsa memerlukan Art, Management and Science of Decision Making.

Memilih memerlukan strategy dan “The essence of strategy is choosing what not to do. ” begitu ujar Michael E. Porter

Sebab memilih yang terbaik adalah berkompetisi merebut keunggulan Sumber Daya.

Kompetisi bisnis saat ini adalah mirip perang merebut teritori , pangsa pasar. Perang dalam bentuk lain. Kekuatan keunggulan produk, kecanggihan proses produksi, jaringan value chain dan juga kekuatan logistik dan distribusi. Michael Porter menyebutnya dgn istilah Cost Competitiveness n Differensiation.

Ketika tahun 85 an saya ditempatkan dalam divisi New Product Development di beberapa Industri Pesawat Terbang untuk belajar memahami dan menguasai ilmu rekayasa dan rancang bangun pesawat terbang, awalnya selalu ditempatkan pada seksi Operation Research. Disini sy belajar tentang Market Research, Competitive Analisys dan Model optimisasi. Bahkan ketika tahun 96 ketika diminta menjadi Lead Engineer Rekayasa Otomotive sy pernah ditempatkan di Pusat Bongkar Pasang. Atau strategic option and decision analysis (soda) dimana pilihan design produk baru didasarkan pada daya saing produk baru milik kompetitor.

Disini tiap produk baru ditear down, dipreteli dan dipisahkan satu sama lain. Mobil utuh berubah jadi ribuan komponen dan suku cadang.

Sebab kata industrialist nya tiap Mobil pada dasarnya sebuah Maha karya. Sebuah hasil team work dari para engineer. Kita harus membedah dan mempelajari anatomi nya untuk mempelajari falsafah design dan Mata rantai proses produksi dari hulu kehilir.

Tak boleh percaya pada “public information” yg Ada dimajalah dan brosur. Hanya Mata dan analisa para ahli yg bisa bedakan mana info bener mana yg palsu.

“All warfare is based on deception. Hence, when we are able to attack, we must seem unable; when using our forces, we must appear inactive; when we are near, we must make the enemy believe we are far away; when far away, we must make him believe we are near.” Begitu kata Sun Tzu dalam bukunya The Art of War

Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan alokasi sumber daya terbaik. Diperlukan talenta jenius masa kini. Perlu alokasi capital dalam bentuk capex berjangka panjang. Kita tdk bisa bikin program seperti bermain yoyo. Konsistensi yg bisa bikin kita mundur maju.

Ingin menguasi takut terbentur ongkos tak terduga. Tak dikuasai takut jadi “arm length” perpanjangan rantai orang, kelompok atau bangsa lain.

Iptek adalah sumber keunggulan dan kemandirian suatu Bangsa. Kini tidak semua jalan menuju Roma. Tapi All roads always going to Science and Technology.

Era banyak pilihan makin menjadi problema ketika kita masuk ke era Revolusi Industri gelombang ketiga. Internet of things.

Semua benda bisa ditempelin processor dan sensor serta signaling equipment untuk terkoneksi di setiap tempat disetiap waktu begitu kata Michio Kaku seorang fisikawan dalam bukunya.

Internet juga yang menyebabkan kini seorang entrepreneur dapat melahirkan virtual office dan virtual reality.

Internet yang tadinya muncul sebagai cara komunikasi tanpa tatap muka antar expert di DARPA kemudian menglobal menjadi manajemen tukar menukar informasi dan komunikasi antar pelaku bisnis dalam mata rantai value chain. Muncul banyak website, dikenal istilah nodal atau adress dalam sistem Internet Protocol.

Muncul istilah Cyber Space yang melengkapi Physical Space. Dua pilar Public Space yang memerlukan Tata kelola berbeda. Management Teknologi di Era Analog sangat berbeda dgn Era Digital . Dulu akselerasi kemajuan teknologi menerlukan siklus 10-15 tahun . Kini bisa seketika. Disruption.

Tak heran sering Pemimpin di era digital terpukau dgn kemajuan dibelahan dunia lain. Lupa pada keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek di Negeri sendiri. Me lakukan proses deregulasi yang menyebabkan akar kekuatan industri nasional kehilangan batu pengikatnya.

Kini seolah keahlian iptek yg dimiliki oleh generasi muda yg jenius seolah jadi tak punya makna. Kita lebih percaya pada expert dari Negeri lain untuk memecahkan persoalan pelik yang menantang daya kreativitas kita sebagai Bangsa.

Apalagi di masa kini dengan smartphone seolah tiap persoalan sudah tersedia di cyber space. Seolah Google jadi solutions provider. IA menyediakan mesin pencari yang canggih dan mumpuni. Meliwati batas negara.

Ada banyak orang yg punya paradigma dan mindset bahwa Mesin Pencari atau Search Engine adalah solusi segala persoalan.

Lahir Googleism. Dan bahaya baru muncul kita seolah lebih tau dari expert.

Dan seperti Novel Jiwa Jiwa Matinya Gogol kita seolah kehilangan rasa percaya pada orang lain. Seolah hanya mesin yang tak bisa bohong dan hanya mesin yang bisa jujur.

Pekerja ahli tak lagi dianggap mampu lahirkan efficiency produktivitas dan sistem tata kelola yang baik dan benar. Online business , automation, memisahkan interaksi antar manusia kini jadi modus operandi. Kita kehilangan upaya menciptakan lapangan kerja.

Mungkin kata “Development with Human Face” perlu dimasukkan kembali dalam Kosakata. Apakah begitu ??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s