Adriano Rusfi
Jan 13, 2017

Manusia itu makhluk kategorik. Apapun akan ia golong-golongkan. Dan pengalaman sangat mempengaruhi manusia dalam melakukan penggolongan itu. Terkadang penggolongan itu dipaksakan, tapi itulah manusia. Maka suatu ketika saya pernah digolongkan sebagai Salafi. Anehnya di saat yang sama saya juga berkategori Sufi. Pernah pula saya dinyatakan sebagai Muslim Humanis. Tapi gelar Muslim Fundamentalis mungkin paling sering melekat pada diri saya. Manusia sering keliru dalam mensikapi, karena keliru kategori. Toh manusia tak pernah kapok melakukannya.

Lalu, berkategori apakah Muslim Indonesia kelak ? Pertanyaan ini muncul di banyak benak pasca aksi 411 dan 212. Betapa tidak, ekspresi mereka terasa makin militan dan radikal. Mereka kompak naik pitam “hanya” gara-gara seorang gubernur salah ucap. Mereka rela berjalan kaki “cuma” karena seorang Kapolri melarang bis mengangkut mereka. Mereka memboikot sebuah merek roti “semata” karena public release yang gegabah dan tak peka. Lalu, kategori-kategori bernada cemaspun berhamburan tentang mereka : intoleran, anti-kebhinnekaan, radikal berjamaah, bersumbu pendek, anti NKRI, penebar SARA, mudah mengkafirkan dan sebagainya.

Salahkah persepsi dan kategori itu ? Salah, namun dimaklumi !!! Ya, saya dapat memakluminya, karena pengalaman-pengalaman manusia membuatnya menciptakan hubungan sebab-akibat : Jika jidatnya hitam, maka orangnya kaku; Jika jenggotnya panjang, maka ia radikal; Jika ia bercadar, maka ia tertutup. Itulah stereotipe : sebuah kesan dan penyimpulan gegabah hanya dari hasil pengamatan jarak jauh yang penuh prasangka. Mungkin mereka tak pernah mengalami hal yang pernah saya alami : dilayani dengan begitu komunikatif, ramah dan profesional oleh seorang perempuan bercadar di bagian penitipan barang Bandara Hasanuddin Makassar…

Tapi ada satu hal yang saya sepakati : bahwa Muslim Indonesia ini ke depan akan makin beragama, taat beribadah, ghirah Islamiyah yang memukau, radikal, militan, taat pada ulama. Tapi jangan salah, karena bersamaan dengan itu mereka juga akan semakin wasathan dan rahmatan lil-‘aalamiin : ramah, manusiawi, empatik, ringan tangan, inklusif dan kontributif. Lihatlah : pekik mereka adalah takbir dan merdeka sekaligus, mereka Islamis dan nasionalis sekaligus, mereka bershalawat dan nyanyikan Indonesia Raya sekaligus. Bagi kaum yang gagal move-on, ini tentunya kombinasi yang mustahil. Tapi percayalah, mereka akan menjadi saripati Indonesia.

Tentunya bersamaan dengan itu akan tercipta garis pemisah yang tajam diantara perilaku sesama Muslim itu sendiri. Diantara mereka tentu tak kalah banyaknya yang memilih jalan berbeda : kompromistis, sinkretis, akomodatif, kebanci-bancian, membeli predikat “Muslim toleran” dengan harga berapapun, mengais gelar “rahmatan lil-‘aalamiin” dengan pengorbanan apapun. Pada awalnya, golongan ini yang akan menjadi “pemenang”, karena kekuasaan akan memilih untuk mengakomodasi mereka. Tapi ini tak lama, karena elan perjuangan mereka sebenarnya buruk.

Lalu, ketika Indonesia menjadi medan pertarungan yang begitu kerasnya, menjadi ajang perebutan pengaruh dan sumber daya yang begitu tajamnya, maka saat itu prajurit-prajurit Muslim NKRI yang militan itu akan tampil unjuk jatidiri. Merekalah sejatinya Indonesia, karena darah bangsa ini adalah darah patriot, bukan darah banci. Ketika bangsa ini dikepung oleh kecanggihan-kecanggihan strategi dan teknologi yang ingin mengoyaknya, saat itulah musuh terperangah bahwa satu-satunya senjata yang mampu mengalahkannya adalah militansi. Ya, bukankah saat inipun cyber army terorganisir dan berteknologi tinggi dikalahkan oleh cyber army amatir dengan militansi tinggi ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s