Oleh: Hasanudin Abdurakhman

KOMPAS.com — Ada orang yang kelebihan berat badan. Ia bertekad untuk menurunkan berat badan. Maka dari itu, ia mulai melakukan diet, juga berolahraga. Ia melakukannya dengan penuh semangat. Namun, itu hanya berlangsung seminggu. Setelah itu, ia lupa ada diet, juga lupa pada olahraga.

Kita banyak mendengar cerita seperti itu, bukan? Karena itu kita mengenal ejekan, ”Hangat-hangat tahi ayam.” Kenapa bisa begitu?

Membuat perubahan adalah sebuah kerja berat yang melelahkan. Normalnya, orang ingin kerja berat itu segera selesai agar bisa segera menikmati hasilnya, dan beristirahat.

Makanya, banyak orang membayangkan perubahan besar terjadi dalam sebuah momen yang besar, sesuatu yang radikal, yang membuat segalanya berubah. Atau setidaknya, sebuah momen kecil yang memicu perubahan-perubahan lain, tanpa harus melakukan kerja besar.

Kenyataannya tidak demikian. Perubahan besar umumnya terdiri dari ribuan, bahkan mungkin jutaan momen kecil, ibarat serpihan. Artinya, kita harus terus-menerus melakukannya. Begitu kita berhenti, maka perubahan juga berhenti. Atau, ia berbalik ke arah yang berlawanan dari yang hendak kita tuju.

Sebenarnya situasi ini tak sulit untuk dipahami. Coba perhatikan bagaimana seseorang menjadi gendut. Adakah orang yang gendut dalam sekejap, jadi gendut dalam seminggu atau sebulan? Tidak.

Menjadi gendut itu adalah proses yang berlangsung lama, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Setiap hari kita menabung sekian gram kelebihan lemak akibat konsumsi makanan lebih banyak dari energi yang kita butuhkan.

“Tabungan” 10 gram sehari, atau 30 gram sehari, menumpuk menjadi satuan kilo setelah beberapa lama. Lalu satuan itu meningkat jadi puluhan kilo, setelah sekian lama lagi.

Berat badan saya sendiri meningkat sebanyak 10 kilo selama 10 tahun, artinya naik 1 kilo setahun. Kenaikan per harinya cuma 2,7 gram.

Menurunkan berat badan adalah proses kebalikan dari proses tadi. Yang kita perlukan adalah mengurangi sekian gram lemak setiap hari. Sebenarnya proses ini bisa lebih cepat dari proses menjadi gemuk tadi, tetapi tentu saja tetap memerlukan waktu.

Otomatis ia memerlukan kesabaran. Tidak mungkin seseorang menurunkan berat badan 10 kilo dalam waktu 2 minggu, misalnya. Setidaknya, itu perlu waktu 6 bulan.

Bagaimana agar kita bisa bersabar dalam melakukan perubahan? Orang yang gagal membuat perubahan biasanya hanya memasang target, tanpa rencana.

Rencana meliputi target besar dalam suatu rentang waktu yang panjang. Rencana itu harus dipecah-pecah menjadi target-target kecil, dalam rentang waktu yang lebih pendek.

Bayangkan kita hendak mendaki gunung. Saat kita berada di base camp di kaki gunung, kita lihat ke puncak yang hendak kita tuju. Apa yang kita rasakan? Jauh. Kelihatannya berat, tetapi bisa juga menantang.

Setiap pendaki gunung sadar bahwa ia harus mendaki selangkah demi selangkah. Ia harus menghabiskan ribuan langkah untuk sampai di puncak sana. Kesadaran itu memberi kita keyakinan bahwa tujuan itu bisa dicapai.

Ketika seseorang mulai mendaki, apakah ia terus-menerus menatap puncak tujuannya? Tidak. Ia fokus pada langkah kakinya. Ia perhatikan jalan di depannya, ada halangan apa di situ, dan bagaimana melewatinya. Melihat ke puncak sana cukup sekali-sekali saja.

Itulah yang harus dilakukan oleh orang yang sedang membuat perubahan. Fokuslah pada apa yang ada di depan kita sekarang, tetapi dengan kesadaran bahwa yang kita kerjakan ini sedang menuju pada suatu tujuan.

Nah, untuk memastikan bahwa setiap langkah kita menuju tujuan itulah maka diperlukan perencanaan. Target-target kecil dalam rentang waktu pendek tadi kita pastikan tercapai dengan langkah-langkah maju kita.

Dalam pendakian, kita bagi jalur pendakian kita menjadi beberapa etape. Setiap etape yang berhasil kita lewati memberi kesempatan pada kita untuk istirahat sejenak.

Namun, fungsi yang lebih pentingnya adalah menyadarkan kita bahwa kita membuat kemajuan. Ini akan menjadi sumber energi yang besar untuk melangkah lebih maju lagi.

Itulah kunci untuk sukses membuat perubahan. Kita sadar bahwa perubahan besar tidak datang sekaligus, tetapi dalam serpihan-serpihan kecil. Kita susun strategi agar kita bisa bersabar dalam menapaki setiap langkah menuju tujuan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s