Lima Faktor Penyebab Mengapa Ekonomi Global Melambat ?

Jusman Syafii Djamal
November 23, 2016

Merujuk pada presentasi dari Jeffrey Frankel , Harpel Professor of Capital Formation & Growth pada 14 September 2016, berjudul :”Understanding the Global Slowdown”. saya share disini lima faktor penyebab mengapa ekonomi global masih mengalami tekanan hingga tahun 2017. Mendung perlambatan ekonomi global muncul dalam radar, agar dapat dipelajari sebagai food for thought.
Pertama : Harga komoditas seperti Minyak mentah, batubara, emas,tembaga,bijih besi, logam , bahan makanan, energi mengalami tekanan. TAhun 2005 hingga 2007 cenderung naik, anjlok pada tahun 2008 hingga tengah tahun dan meningkat sampai tengah tahun 2011 , flat dan tahun 2012 hingga 2016 anjlok kembali, Akibatnya sumber Revenu atau Pendapatan beberapa Negara yang mengandalkan komoditi sebagai sumber Pendapatan Negaranya kehilangan kekuatan untuk lakukan investasi dan pembangunan ekonomi, seperti diperlihatkan grafik berikut ini
Kedua : Perdagangan dunia mengalami penurunan. Biasanya perdagangan tumbuh dua kali lebih repat dibanding pertumbuhan PDB. Sejak resesi 2008-2009 perdagangan dunia lesu. Ekspor dan Import mengalami perlambatan. Ini mempengaruhi sumber pendapatan Negara.
Ketiga : Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan. Ekonomi dinegara maju merosot akibat melambatnya pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas kapital serta lapangan kerja. Pertumbuhan GDP menurun.
Keempat : Di Negara yang sedang tumbuh pasarnya setelah krisis nilai tukar mata uang tahun 90 an, banyak negara yang melakukan kebijakan pengetatan moneter dan fiskal. Terutama nilai tukar dibuat jauh lebih fleksibel. Dibiarkan ikut arus fluktuasi pasar mata uang terhadap perubahan kenaikan nilai dollar dan cadangan mata uang asing diperkokoh tidak tergerus. Ada batas bawah defisit neraca berjalan untuk selalu terjaga lebih kecil. Begitu juga ada tata kelola dikembangkan agar hutang dollar dibatasi. Serta kebijakan fiskal dibuat pro cyclical atau ikuti trend ekonomi dunia. Ternyata langkah ini juga rentan terhadap kejutan krisis finansial tahun 2008-2009. Hingga kini pengaruhnya masih terasa. Perusahaan banyak yang gulung tikar.
Akibatnya Emerging Market kehilangan daya pesona nya :
Capital Inflows ke EMerging Market cenderung menurun :
Dan Capital Flows di Emerging Market rentan terhadap semua resiko “uncertainty”
Dan nilai tukar rentan terhadap fluctuasi nilai dollar. Perusahaan sukar kelola kerugian akibat perubahan nilai tukar ini. Apalagi ditiap negara tatacara menyusun budget dan laporan keuangan serta transaksi harus dinyatakan dalam nilai mata uang setempat.
Sementara dari pengalaman di Eropa, negara negara yang mengembangkan kebijakan fiskal yang semakin ketat , kontraksi yang membatasi uang beredar baik volume maupun kecepatannya memperlihatkan tanda yang memburuk. GDP nya semakin anjlok.
Ada korelasi positip antara Goverment Spending dengan GDP pada Negara yang menerapkan kebijakan cyclical dan korelasi negatip bagi Negara yang menerapkan kebijakan “counter cyclical”.
Kelima : Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat dari rata rata diatas 10% tpada kurun waktu 1980-2010, merosot dibawah 7 % tahun 2015.
Kesimpulan : Fokus pada pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 dan tahun mendatang harus menjadi pusat perhatian. Perlu dikembangkan Strategi dan Langkah Aksi yang tepat melalui pendekatan sebagai berikut :
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s