Adriano Rusfi
January 1, 2017

Ujaran seorang teman membuatku terperangah :
Mau tak mau kita memang harus memilih dia. Saat ini kita tak punya stok pemimpin sebaik dia. Mulutnya memang kasar, namun hatinya tulus. Mari kita bersikap adil dan tak menutup mata atas segala perubahan positif yang ia lakukan. Sedangkan kita hanya melahirkan pemimpin korup, pengumbar janji, penuh nepotisme dan tak membanggakan

Dalam segelintir hal ia mungkin benar, dan saya harus belajar adil untuk mengakui kenyataan sepahit apapun. Tapi ini berarti “fasilitas” terakhir yang kita miliki harus kita serahkan kepada orang : kepemimpinan politik ! Kita sudah kalah di ranah ekonomi, kita sudah babak-belur di pertarungan media, kita hancur di kepakaran iptek, kita berkasta paria dalam pentas-pentas sosial, kita gagap di kanvas seni-budaya. Dan kini, sabuk kepemimpinan politik tampaknya pelan-pelan harus kita serahkan, bahkan ketika pertarungan belum dimulai dan lonceng pertandingan belum dipukul.

Wajah saya pucat pasi mengakui kekalahan demi kekalahan ini, tapi pasrah. Sebenarnya tak ada yang aneh dari tragedi kekalahan beruntun ini. Kita memang sedang bertarung di arena orang, bagaikan penari piring ikut lomba dansa Salsa. Mereka siapkan ring tinju, lalu kita ikut kontestasi bermodalkan pencak silat, dan kalah… Mereka sediakan lintasan Formula 1, lalu kita turut berkompetisi bermodalkan helikopter, dan kalah… Mereka tantang untuk adu sprint, lalu kita utus seorang pelari marathon handal, maka kitapun kalah… Bukan mereka yang hebat, tapi kita yang salah kostum.

Ya, kita memang kalah karena kita memang salah. Tak sepatutnya kita tergoda dengan tantangan persaingan, karena kita punya dunia sendiri sebagaimana mereka punya dunia lain. Jika seekor lumba-lumba merintih terluka karena kalah adu lari dengan seekor kuda, itu karena ia salah memilih arena. Maka, Edward deBono mengajak setiap keunikan manusia untuk ber-surpetisi, bukan berkompetisi. Sedangkan Allah tak pernah menawarkan ketinggian martabat karena keunggulan kompetitif, tapi : “Dan kalianlah yang tinggi jika kalian beriman...”.

Tapi penghujung 2016 memberikan secercah harap, bahkan mungkin limpahan harap. Ada shaf-shaf berbaju putih yang sedang memilih arena dan jalannya sendiri, yaitu “jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka”. Inilah lintasan fastabiqul khairat itu, yang seluruh pejalannya adalah kita, untuk sebuah tujuan yang telah Allah tunjuki. Maka, ketika kaum lain sibuk mencetak sekolah hebat, barisan putih itu justru mempersiapkan ibu hebat. Ketika kaum lain berkutat menyiapkan lelaki berkarir gemilang, kaum sarungan itu khusyuk menyadarkan ayah agar berperilaku bak Luqmanul Hakim yang mendidik anaknya sendiri. Ketika kaum lain merancang program canggih untuk mencetak remaja berkelas dunia, maka komunitas berkopiah itu sungguh-sungguh untuk membentuk pemuda aqil-baligh.

Shaf-shaf khusyuk itu ada yang santai berjalan kaki dari Ciamis sambil berdzikir, karena tak berniat adu cepat dengan bis-bis yang memang tak mau mengangkut mereka. Shaf-shaf khusyuk itu ada yang membawa plastik hitam, agar segala sampah dimasukkan ke dalamnya. Shaf-shaf khusyuk itu ada yang menghiba menawarkan nasi bungkus penghilang lapar, agar Allah mencatat di mana ia berpihak. Mereka dituduh SARA, tapi daunpun tak ingin mereka diskriminasi. Mereka dianggap anti NKRI, namun khidmat nyanyikan Indonesia Raya. Mereka dinista intoleran dan tak bhinneka, padahal mereka berbaris tanpa kasta. 2 Desember 2016 telah menjadi saksi terindah, bahwa mereka yang hari ini kalah di medan pertarungan yang keliru, diam-diam sebenarnya sedang mempersiapkan peradaban masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s