Harry Santosa – Millenial Learning Center
November 17, 2016

#fitrahkeimanan
#fitrahkeindahan

Barangkali banyak diantara kita tidak yakin bahwa keimanan adalah bawaan lahir. Kita bahkan sering menganggap bahwa keimanan kepada Allah dari anak anak di bawah usia 7 tahun adalah sebagai indoktrinasi kedua orangtuanya.

Ketika ditanya, lebih mudah mana mendidik anak menjadi shalih atau mendidik anak menjadi “jahat”? Banyak yang ragu menjawabnya.

Namun ada banyak bukti pada kajian ilmiah modern, yang kemudian dibenarkan oleh Islam, yang menyatakan bahwa “keimanan kepada Allah adalah bawaan lahir atau telah terinstal ketika lahir”.

Pada sebuah kajian ilmiah, anak-anak usia 6 dan 7 tahun ditanya mengapa burung pertama ada di dunia ini. Mereka menjawab “untuk membuat musik yang indah” dan “karena hal itu menjadikan dunia tampak indah”. Sungguh ini adalah jawaban yang berangkat dari keyakinan bahwa ada Sang Maha Pencipta.

Dalam penelitian lainnya bahkan anak-anak yang usianya belum melebihi 4 tahun, sekalipun telah paham bahwa meskipun sejumlah benda dibuat oleh manusia, namun benda benda yang ada di alam semesta sungguhlah berbeda.

Eksperimen yang lain menunjukkan seorang bayi berusia 12 bulan menunjukkan mereka terkejut ketika melihat sebuah bola yang bergulir tiba-tiba menciptakan susunan rapi sebuah blok dari tumpukan yang sebelumnya berantakan.

Riset Prof Edward Tronick, 1975, “Still Face Experiment” menunjukkan bayi usia 8 bulan bereaksi positif terhadap “wajah baik” dan berekasi negatif bahkan histeris terhadap “wajah dingin”.

Di Universitas Yale, Paul Bloom, 2008, juga membuktikan bahwa bayi usia 3 bulan dan 8 bulan, telah memiliki “sense of morality” untuk membedakan mana “baik” (indah) dan mana “buruk” dengan memperlihatkan sandiwara boneka.

Riset-riset ini sekaligus menyatakan bahwa rasa keindahan (fitrah keindahan) pada anak juga adalah bawaan lahir dan terkait dengan fitrah keimanannya.

Adalah Dr. Justin L. Barrett yang menyanggah pandangan sebagian kalangan Ateis. Kalangan yang mengingkari Pencipta itu berpendapat bahwa keyakinan agama didapatkan anak melalui indoktrinasi dalam keluarga.

Hal ini telah dibantah ilmu pengetahuan modern. Menurut Dr. Barrett, bukti-bukti ilmiah selama kurang lebih 10 tahun terakhir lebih kuat menunjukkan bahwa lebih banyak faktor yang nampak alamiah mempengaruhi perkembangan pola pikir anak. Ini di luar dugaan semula.

Di antara faktor ini adalah kecenderungan anak anak untuk melihat dunia alamiah sebagai sesuatu yang memang telah dirancang dan punya tujuan, dan bahwa suatu wujud cerdas ada di balik tujuan itu,

Dr. Barrett memiliki bukti-bukti hasil temuan ilmiah di bidang psikologi yang melibatkan anak-anak. Menurutnya, kumpulan bukti ini menunjukkan anak-anak memperlihatkan keyakinan naluriah bahwa hampir segala sesuatu yang tercipta telah SENGAJA DIRANCANG UNTUK TUJUAN KHUSUS.

Dia menambahkan bahwa hal ini berarti anak-anak lebih cenderung percaya pada penciptaan dan bukan evolusi, terlepas dari apa yang pernah diberitahukan oleh orang tua maupun guru mengenai agama.

Dr Barret mengklaim antropolog telah menemukan bahwa secara naluriah anak-anak percaya kepada Tuhan meski ketika ajaran agama dihalangi dari mereka.

Menurutnya, anak-anak secara wajar dan naluriah membangun pemikiran mereka untuk memiliki kecenderungan percaya kepada ciptaan Tuhan dan rancangan cerdas. Sebaliknya, evolusi adalah tidak natural bagi pemikiran manusia, relative sulit diterima.

Di samping itu, pakar antropologi telah menemukan bahwa di sejumlah masyarakat tertentu anak-anak mengimani Tuhan bahkan ketika ajaran-ajaran mengenai agama tidak diberikan kepada mereka,

Hasil kajian ini berarti bahwa anak-anak secara fitrah lebih cenderung percaya mengenai penciptaan daripada evolusi, terlepas apa yang dikatakan para guru atau orang tua mereka.

Dalam bukunya “Why Would Anyone Believe in God?” (Mengapa Orang Percaya Tuhan?) Dr. Justin Barrett memberikan jawaban sederhana atas pertanyaan yang menjadi judul bukunya tersebut: itu karena POLA PIKIR KITA SUDAH DIRANCANG DEMIKIAN.

Buku itu memaparkan hal ini disertai bukti berlimpah dari bidang ilmu kognitif (cognitive science), yakni ilmu yang mempelajari perihal pola pikir dan kecerdasan.

Barret menyimpulkan bahwa pola pikir yang mengalami perkembangan secara wajar dan alamiah pada diri anak-anak menjadikan mereka lebih mudah meyakini penciptaan ilahiah dan perancangan cerdas. Sebaliknya, evolusi tidaklah alamiah bagi nalar manusia; relatif sulit untuk dipercaya.

“Jika kita meninggalkan seorang anak di sebuah pulau dan mereka tumbuh besar seorang diri, saya rasa mereka akan tetap percaya pada Tuhan”

Benarlah tutur Rasulullah SAW “Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (keimanan), orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Ingatlah bahwa kita semua pernah bersaksi ketika di alam rahim ibu kita:

“Bukankah Aku Tuhan kamu ?
Mereka berkata : “Benar! kami menyaksikan”.
Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat:
“Sungguh kami lalai dari persaksian ini”
– (QS. 7 al-A’raf : 172)

Jadi, masih ragu anak kita dilahirkan dalam keadaan beriman atau memiliki fitrah keimanan? Jadi lebih mudah mana mendidik anak menjadi shalih atau menjadi “jahat”?

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s