Jusman Syafii Djamal
15 Jan 2017

Kebetulan saya kemarin sore dapat berkah. Beberapa sahabat lama ketika di Komite Inovasi Nasional tahun 2010 an yang diketuai oleh Prof. Zuhal almarhum, muncul dikantor saya. Ketika itu kami banyak sahabat yang saling belajar mengajari. Learn to unlearn. Sebab ketika itu di Komite Inovasi semua Rektor dan Kepala Badan Riset serta banyak Maha Guru pelbagai keahlian sering bertemu dipimpin ketua. Kemarin sore Prof. Bustanul Arifin, Prof Achmad Lubis Rektor Universitas Al Azhar dan Doktor Vanny Narita datang. Kita ngobrol “chit chat” ngarol ngidul minum kopi sambil makan roti canai dikantor saya.

Kita bicara tanpa agenda tertentu, jadi bicara mengalir kesana kesini. Topiknya tetap kembali kespektrum pokok bahasan yang kami senangi untuk didiskusikan. Apalagi kalau tidak tentang Inovasi dan Daya Saing ditengah perubahan iptek seperti saat ini. Kebetulan kami punya pengalaman bertemu dan berdiskusi dengan pengelola pusat pusat pertumbuhan inovasi baik milik pemerintah maupun swasta di pelbagai negara, seperti Korea Selatan, Brazilia, Finlandia, Amerika dan Eropa.

Sungguh sebuah, pertemuan yang bikin saya punya insight untuk buat beberapa catatan dipagi ini, untuk dishare. Catatan yang tersimpan dikepala sejak lama. Mudah mudahan berkenan.

Daya Inovasi suatu bangsa dapat dibangkitkan momentumnya. Tiap Bangsa pasti secara inherent, memiliki talenta. Selalu lahir “A Genius of his time” dalam diri putra putri terbaiknya. Tumbuh berkembangnya inovasi memerlukan habitat dan ekosistem. Pohon durian terbaik seperti “kucing tidur”, “mosanKing” atau “kumis hitam” yang lezat hanya tumbuh di tanah tertentu. Begitu juga kopi Arabica terbaik cita rasanya seperti kopi gunung puntang Preanger hanya produktip pada “milleu” yang tepat.

Tidak semua lahan baik untuk Kelapa Sawit. Tidak semua pulau bagus untuk tanaman monokultur. Indonesia amat kaya dengan “bio diversity”. Aneka rupa benih tanaman flora dan fauna. Kekuatan bio diversity ini yang menyebabkan “kepulauan Maluku” misalnya menjadi pusat rempah rempah dimasa lalu yang ikut membuat kota Alleppo di Suriah tumbuh berkembang.

Kecenderungan mono kultur dimana semua lahan telah ditanami oleh kelapa sawit menyebabkan kini kita kekuarangan kemampuan produksi Teh dan Karet misalnya.

Pada tahun 2030 diprediksi akan ada 1,7 Milyar mobil didunia, diperlukan kurang lebih 6,8 milyar ban mobil. 60 percent bahan baku ban mobil adalah karet, karena itu tidak heran jika ada ahli yang memprediksi harga karet akan meningkat 350%. Peluang ini hilang jika kita terus membanjiri semua lahan dengan kebijakan tanaman mono kultur seperti saat ini. Diperlukan inovasi dan perubahan mindset.

“Benih kejeniusan” talenta terbaik Indonesia memerlukan “milleu”, ekosistem yang baik dan menyenangkan agar sumber mata air inovasi tak pernah berhenti. Inovasi memerlukan komitmen para Pemimpin.Dan komitmen para pemimpin pada umumnya lahir menjadi konsensus bersama. Saya menyebutnya Politik Inovasi.

Abad 21 adalah abad Teknologi. Akselerasi kemajuan teknologi kini jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Ketika Alexander Graham Bell menemukan tilpon , diperlukan waktu lebih 50 tahun untuk membuat separuh masyarakat Amerika menikmatinya. Diperlukan waktu 38 tahun untuk membuat radio mencapai angka 50 juta pendengar.

Akan tetapi dengan lahirnya teknologi elektronika diperlukan waktu 13 tahun bagi televisi untuk capai angka 50 juta pemirsa. Serta munculnya kemajuan teknologi dalam digital electronics, processor dan layar sentuh, Ipod mampu mencapai angka 50 juta pengguna dalam waktu 4 tahun, internet 3 tahun, facebook satu tahun dan twitter seperti bayi hanya 9 bulan.

DI Tiongkok, WeChat perangkat lunak berkomunikasi seperti WA yang dibuat generasi muda padat teknologi China’s Tencent hanya memerlukan waktu kurang dari dua tahun untuk mencapai angka pelanggan tiga ratus juta.

Kurva adopsi yang dipecepat membuat inovasi kini semakin terkaselerasi. Dua tahun setelah iphone di”launching”, oleh Steve Jobs pengembang perangkat lunak diseluruh dunia telah melahirkan 150000 aplikasi untuk dijual di “apps store” nya apple. Tahun 2014 jumlah aplikasi meningkat menjadi 1,2 juta apps dan pengguna iphone telah mengunduh 75 milyar applikasi. Masing masing user iphone telah membeli sepuluh aplikasi. Begitu kurang lebih fakta yang dikemukakan oleh Richard Dobbs dalam bukunya No Ordinary Disruption.

Kurva pertumbuhan Innovation melahirkan Disruption. Inovasi dan disrupsi adalah dua sisi mata uang yang sama. Disrupsi yang berasal dari benih inovasi yang terakumulasi dalam kemajuan teknologi, telah melahirkan gelombang perubahan landskap ekonomi.

Munculnya Revolusi Industri pertama yang didorong oleh penemuan mesin uap oleh James Watt telah menyebabkan landskap ekonomi masyarakat agraris berubah. Revolusi industri kedua yang ditandai oleh munculnya industry elektronika dan computer juga merubah peta persaingan. Revolusi Industri ketiga yang bertumpu pada internet juga begitu.

Gelombang perubahan landskap ini ibarat gempa , muncul dari pergeseran lempeng tempat berdirinya bangun struktur industry masa lalu. Ada kekuatan dari luar diri suatu sistim Kekuatan eksogen.

Kemajuan teknologi kini semakin cepat. Akselerasi pertumbuhan teknologi memicu siklus dan platform bisnis berubah, tanpa diduga. Daya saing dapat lenyap dan kadaluarsa dalam hiungan detik. Siklus perubahan pola bisnis tak dapat dihindari apalagi ditolak.

Disrupsi adalah fenomena perubahan landskap dan bangun Tekno Ekonomi akibat kekuatan dari luar, yang tak dikuasai sepenuhnya. Diperlukan adaptasi dan mitigasi.

Sementara Inovasi adalah langkah sistimatis berkesinambungan yang direncanakan. Inovasi adalah tindakan sengaja untuk memperbaiki daya saing suatu kelompok masyarakat maupun suatu Bangsa. Inovasi kata Schumpeter ahli ekonomi yang menulis buku tahun 1934 adalah “Creative Destruction”, proses secara sengaja rekayasa ulang bangun struktur ekonomi agar daya survival nya meningkat. Agar Daya saingnya tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Ada tiga dimensi dan orientasi Inovasi. Pertama inovasi untuk menemukan tatacara berproduksi yang jauh lebih baik dari masa lalu. Tatacara produksi yang lebih efisien, hemat sumber daya dengan kualitas dan delivery time yang jauh lebih sempurna. Tatacara untuk memperbaiki tingkat keunggulan operasi sebuah perusahaan atau kelompok masyarakat. Operation in Excellence.

Tatacara produksi yang menekan biaya operasi dan meningkatkan EBITDA atau margin Revenu dan Cost.

Kedua adalah inovasi untuk menemukan produk berteknologi tinggi yang jauh lebih unggu. Innovation on New Product.

Ketiga adalah inovasi untuk menemukan pilar dan platform bisnis yang baru. New Business platform untuk menemukan “revenue stream” baru , wilayah bisnis yang baru meninggalkan yang kadaluarsa.

Ketiga dimensi itu dapat diterapkan secara terpisah atau berbarengan tergantung pada sifat, jenis dan skala bisnis yg dikelola.

Kata schumpeter proses Creative Destruction yang berarti menjebol yang kadaluarsa dan menemukan benih masa depan menuju satu tujuan bersama yang disepakati. Proses Antisipasi dan Siasat atasi Disrupsi.

Tak ada perusahaan dapat tumbuh berkembang tanpa inovasi. Begitu juga Bangsa. Inovasi adalah “engine for economic growth”. Tanpa engine dan sayap tak mungkin pesawat terbang “take off and landing” dengan baik.

Dalam hal ini saya punya kerisauan. “Policy on Technology” di Indonesia hingga kini masih saja diperlakukan terpisah dari “policy on economic growth”.

Amati saja kecenderungan politik anggaran R & D disetiap masa pemerintahan. Pasti masih dianggap sebagai sesuatu diluar sistem. Jika pertumbuhan ekonomi melambat pastilah Anggaran di LIPI,BPPT atau Pusat Pusat Riset yang dipotong duluan. Seminar, workshop, pertemuan antar para ahli dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu, hanya melahirkan kertas saja tanpa action kata banyak kalangan. Padahal tanpa kertas kerja dan judul telaahan akademis serta analisa bagaimana mungkin strategi dapat dilahirkan. Tak mungkin ada action tanpa strategi.

Kita selalu berada dalam dilemma. Akuisisi Teknologi ibarat seperti satelit bergerak dalam orbit berbeda dari pertumbuhan ekonomi. Teknologi diperlakukan sebagai faktor eksogen. Ada diluar sistim ekonomi yang dibangun dan dikembangkan. Kadangkala ditempatkan secara keliru sebagai produk jadi, mudah dibeli.

Kita tidak memiliki Politik Inovasi. Politik untuk membangun kesejahteraan Bangsa dengan kekuatan inovasi bersumber pada penguasaan iptek Bangsa sendiri.

Peran penguasaan teknologi belum berlangsung terstruktur sistimatis dan massif, dalam kebijakan industry yang diterapkan. Tidak ada konsistensi. Daya Saing dan Daya Dobrak untuk menembus pasar global terasa merosot sepanjang waktu. Teknologi terus saja dianggap sebagai sesuatu elemen yang mudah dicangkok. Gampang dibeli sebagai produk jadi dari supermarket dunia.

Hingga kini, Bangsa Indonesia tumbuh dengan sifat senang belanja. Konsumtip. Sebetulnya sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menggerak kan “demand” mengatur ”supply”.

Potensi pasar domestic yang besar volume nya dengan potensi kebutuhan untuk lebih 250 juta rakyat dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan industry nasional. Industri sebagai wahana transformasi. Agar kita dapat bermetamorfosa menjadi Bangsa Produsen.

Sudah saatnya kita membangkitkan kemampuan Bangsa Indonesia untuk kembali menguasai Teknologi. Sudah saatnya Pasar domestik yang mudah diakses produk import, dapat dikembalikan statusnya bukan menjadi “Free Market”, melainkan “manage market”, pasar terkelola dgn barrier to entry, mumpung kecenderungan semua Negara Adi Daya sedang ingin kembali memproteksi pasar domestic nya dari serbuan produk import.

Kini kita perlu menyadari bahwa Demand yang tumbuh didalam negeri akibat Konsumerisme yang merebak, tidak mampu dieksploitasi menjadi kekuatan pasar domestic untuk melahirkan Produsen Teknologi yang mumpuni. Roadmap kemandirian Bangsa tak diikuti dengan policy yang konsisten dan sistematis berkesinambungan.

Muncul “mismatch” dalam proses pembangunan ekonomi. Penguasaan Teknologi untuk kemandirian bangsa menjadi “adhoc policy”. Kebijakan yang dicangkokkan dalam system. Pendekatan modular seperti ini ibarat menanam benih “inefficiency” dan “bottleneck” yang tertidur dalam system. Ada “dormant failure”, benih kegagalan yang tertidur dalam system. Manusia berSumber Daya iptek tak dijadikan actor utama. Akibatnya, banyak alokasi sumber daya tanpa outcome dan tingkat produktivitas memadai.

Karenanya kita perlu Politik Inovasi.

Politik kata seorang ahli adalah “the art of possibility for impossible dream”, seni untuk meraih yang tidak mungkin. Mirip seperti film “mission impossible”, banyak kendala dan hambatan ditengah jalan. Politik sebagai strategi mencapai tujuan menjadi seni menemukan jalan terbuka dari kebuntuan harapan.

Para politisi adalah mereka yang menjadi dealer of hope. Pembangkit harapan yg Pudar.Politisu karenanya memiliki keahlian bersilancar dalam spektrum gelombang dan arena konflik untu ber upaya membangun konsensus bersama. Sebab Politik adalah pertarungan diantara kekuatan kepentingan yang bekerja dalam masyarakat untuk alokasi sumber daya. Dalam politik tidak dikenal kata musuh nan abadi, yang ada hanya kelanggengan kesamaan interest.

Membangun konsensus memerlukan seni “take and give”. Masa depan generasi muda kita memerlukan “wisdom” masa kini agar jalan inovasi, ekosistem untuk peningkatan daya saing dan penguasaan teknologi lebih terbuka. Fondasinya adalah Trust. Kekuatan meraih kepercayaan diantara para players.

Membangun kepercayaan memerlukan visi. We need something to aim for. Begitu ucapan Richard Branson, seorang innovator bisnis maskapai penerbangan. Ia bilang begini :

WE NEEDS SOMETHING TO AIM FOR
You can call it a challenge, or you can call it a goal. It is what makes us human. It was challenges that took us from being caveman to reaching for the stars.If you challenge yourself, you will grow.Don’t Waste Time – Grab Your ChancesHave a Positive Outlook On Life. When it’s Not Fun, Move On”Your life will change. Your outlook will be positive. It’s not always easy to reach your goal but that’s no reason to stop. Never say die. Say yourself ‘I can do it. I’ll keep on trying until I win.’

For me, there are two types of challenge. One is to do the bests I can at work. The other is to seek adventure. I try to do the both. I try to stretch myself to the limit. I am driven. I love the challenge of looking for new things and new ideas. To me, the stretch is fun.” (Richard Branson. “Screw It, Let’s Do It.”)

Generasi muda kita memerlukan sesuatu yang bernilai tinggi, beyond expectation sebagai tujuan bersama. Kita menyebutnya sebagai tantangan menuju puncak. Atau boleh juga disebut sebagai tujuan bersama. Tantangan yang menyebabkan kita berjuang, merangkak sebagai manusia gua dan menjadi insan dirgantara yang ingin meraih bintang bintang dilangit. Puncak gunung yang harus didaki sebagai manusia bersumber daya iptek.

Impian yang tinggi sukar dicapai, akan menyebabkan generasi muda , anak anak kita akan bekerja keras tak kenal menyerah, sekuat tenaga. Semua energi fikiran dan emosi serta sumber daya yang dikuasai akan dikerahkan. Jika tiap orang memiliki impian yang sukar diraih kecuali dengan kerjasama, tak mungkin muncul “inward looking” keinginan untuk mengutak ngatik perbedaan yang ada. Semua pasti akan fokus pada impian bersama, menemukan persamaan diantara perbedaan yang ada untuk saling asih, saling asah dan saling asuh. Harmoni dalam kemajuan.

Dengan Impian itu, generasi muda tak mungkin lagi sempat tawuran, sebab mereka dapat tumbuh berkembang seperti batu karang yang tahan badai perubahan, menuju keunggulan sebagai bangsa yang maju.

Apa benar begitu Wallahu Alam. Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s