Saya Kira Saya sudah Mendidik Anak

Oleh: Hasanuddin Abdurakhman

Seorang teman saya mengeluh soal anaknya.

“Masak dia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di tempat dia ikut bimbingan.”

“Lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis dia gagal, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”

ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orang tuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang tua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah nggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu nggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

Advertisements