Jusman Syafii Djamal
7 Jan 2017

Problema Geography of Inequality, kesenjangan ekonomi antar wilayah, antar klaster ekonomi terus membayangi pengambil kebijakan public diseluruh negara. Baik dimasa kini maupun dimasa depan.

Kesenjangan perolehan pendapatan diantara 20 % top earnings masarakat yg hidup di Negara Industri maju dengan 80% kelompok masyarakat lainnya di Negara Emerging Market yang tak punya pertumbuhan pendapatan telah menganga.

Begitu juga market access bagi 20 % masyarakat yang ada dipuncak piramida, mendapatkan kesempatan terbuka sedemikian rupa , sehingga pertumbuhan pendapatannya bergerak dengan kecepatan tinggi. Yang 80% bergerak tumbuh dengan deret hitung, Yang 20% tumbuh dengan deret ukur.

Mereka yang memiliki pendapatan tinggi dan kaya , tumbuh secara eksponensial pendapatannya. Sementara yang miskin dan berpendapatan rendah terjebak dalam “permanent proverty” yang bersifat structural.

“Income inequality moved with astonishing speed from the boring backwaters of economic studies to “the defining challenge of our time.” , begitu kata Thomas Piketty , Maha Guru di Paris School of Economics.

Piketty adalah salah seorang ekonom yang terus menerus melakukan riset dan kajian tentang kesenjangan untuk memahami fenomena ini. He is one of a handful of economists who have devoted their careers to understanding the dynamics driving the concentration of income and wealth into the hands of the few. Ia menulis buku menarik berjudul “Capital in the Twenty-First Century,”

Dalam buku Capital in the Twenty First Century tersebut Piketty provides “a sort of unified theory of capitalism”. Ia mencoba menemukan teori tentang fenomena kapitalisme secara komprehensif. Terutama untuk melihat bagaimana struktur dan mekanisme yang bekerja yang menyebabkan fenomena kesenjangan antara kaya dan miskin tersebut terjadi. Membesar atau mengkerut. Bagaimana wujutnya dan apa bahayanya. Ia berharap dengan penjelasannya para pengambil kebijakan fokus pada upaya memotong rantai kesenjangan ini. Dan mewujutkan pemerataan,

Eduardo penulis kolom Porter’s Economic Scene membuat wawancara dengan Pikkety. Ada potongan dialog dengan Piketty yang menarik untuk dishare, begini bunyinya :

Eduardo : Mengapa anda hawatir sekali dengan Kesenjangan. Padahal ekonom lain bilang tidak usah takut. Sebab, sampai lebaran kodok pun kesenjangan akan terus hadir. “Ekonomi Pasar” akhirnya akan melahirkan kemakmuran bersama. Jika semua bangsa sudah naik Kapal bernama “Market Economy”, pastilah kemiskinan akan dapat dientaskan, dan kesenjangan hilang. Apa bukan begitu? For much of the last century, economists told us that we didn’t have to worry about income inequality. The market economy would naturally spread riches fairly, lifting all boats. Is this not true? Are you arguing that income inequality could grow forever? How so?

Piketty : Aku hanya mencatat sejarah. Aku mengumpulkan data perihal kekuatan yang bekerja dalam interaksi ekonomi di pasar tiap Negara. Aku mencoba menemukan penyebab kesenjangan kaya miskin, mengapa ia bisa menganga atau menyempit disatu wilayah dan mengapa ditempat lain berbeda. Aku mencoba membangun teori baru jika ada dan menemukan “equation of motion” kesenjangan disuatu wilayah. Aku ingin semua pengambil kebijakan dapat memahami mana faktor dominan dan variabel utama institusi dan kebijakan yang mampu mempersempit kesenjangan ekonomi wilayah.

Aku amati kesenjangan ekonomi pada akhirnya sangat bergantung pada seberapa jauh ilmu pengetahuan , teknologi dan keterampilan rekayasa dan rancang bangun serta produksi barang dan jasa dapat ditumbuh kembangkan. Tanpa kekuatan produktip ,tanpa memiliki “critical mass” , tak mungkin kesenjangan dapat dipersempit. Selama masyarakat hanya pintar membeli barang dan tak mampu membuat produk teknologi, kesenjangan akan terus terjadi.

Kekuatan pasar yang tidak berdiri diatas kekuatan produktip masyarakat pastilah menjadi mekanisme penguras sumber daya lokal untuk jatuh kepangkuan mereka yang menguasai pasar tersebut.History tells us that there are powerful forces going in both directions. Which one will prevail depends on the institutions and policies that we will collectively adopt. Historically, the main equalizing force — both between and within countries — has been the diffusion of knowledge and skills. However, this virtuous process cannot work properly without inclusive educational institutions and continuous investment in skills. This is a major challenge for all countries in the century underway.

Pada jangka panjang kekuatan dominan yang mempengaruhi apakah kesenjangan akan terus menganga lebar atau tidak sangat tergantung pada dua hal Laju pertumbuhan kapital apakah lebih besar dari pertumbuhan ekonomi tidak ? Jika laju pertumbuhan kapital jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi, kemana larinya “capital accumulation tersebut”, menetap pada mayararakat dan berputar dalam siklus bisnis masarakat diwilayah tersebut atau terpompa keluar wilayah ??

Pertumbuhan ekonomi adalah indikator kekuatan ekonomi masyakarat disuatu wilayah. Masalahnya apakah pertumbuhan ekonomi mampu ditransformasikan menjadi lapangan kerja tidak ? Apakah pertumbuhan ekonomi merupakan indikator dari konsumsi masyarakat ? Atau konsumsi pemerintah ? atau Kekuatan Eksport atau Kekuatan Investasi ?

In the very long run, the most powerful force pushing in the direction of rising inequality is the tendency of the rate of return to capital (r) to exceed the rate of output growth (g). That is, when r exceeds g, as it did in the 19th century and seems quite likely to do again in the 21st, initial wealth inequalities tend to amplify and to converge towards extreme levels. The top few percents of the wealth hierarchy tend to appropriate a very large share of national wealth, at the expense of the middle and lower classes. This is what happened in the past, and this could well happen again in the future.

Eduardo : Kesenjangan ekonomi bukannya dipelbagai negara industry maju telah menunjukkan angka penurunan sepanjang abad ke 20. Bagaimana ini mungkin terjadi ? Apakah ini ini tidak berarti pendapat anda yang menyatakan terjadi peningkatan kesenjangan ekonomi itu keliru ? Inequality declined in the so-called industrial world through much of the 20th century. How did that happen? Does this not argue against the notion of ever-increasing inequality?

Piketty : Jangan lupa penurunan kesenjangan yang terjadi selama ini sebab utamanya adalah karena kejutan dan loncatan timbul tenggelamnya modal yang digelontorkan untuk membangun kembali semua kerusakan infrastuktur akibat perang dunia kedua pada kurun waktu 1914-1945.

Destruksi karena perang, krisis dan depresi yang terjadi, inflasi semuanya membuat kekuatan modal muncul sebagai penyelamat. Pendekatan kebijakan fiscal yang terarah untuk mengurangi dampak penderitaan dan kemiskinan yang terjadi akibat perang dunia kedua serta institusi social yang menyertainya sebagai akibat depresi besar 1929 telah menyebabkan modal secara teratur mengalir kedalam aliran transaksi masyarakat yang kehilangan tulang punggung dan miski. Dan sebagian besar membawa perubahan atas keseimbangan kaya miskin disatu wilayah. Sementara sebelum perang dunia pertama tidak terlihat ada “natural tendency” dari penurunan angka kesenjangan itu.

Selama abad ke duapuluh, laju pertumbuhan ekonomi dimasa rekonstruksi Eropa dan Jepang misalnya dengan Marshall Plan dan Pembangunan Kembali Industri Jepang, menyebabkan pertumbuhan ekonomi baik di Jepang dan Eropa meningkat sangat tinggi. Dan pertumbuhan itu merembes menjadi kekuatan pembangkit tingkat produktivitas dan efisiensi ekonomi masyarakat. Universitas, Infrastruktur Industri dan logistik yang dibangun telah menjadi wahana bagi kelompok masyarakat untuk menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dan iptek ini pada gilirannya melahirkan kekuatan inovasi.

Ini yang menjelaskan mengapa pada kurun waktu 1950-1980 , kesenjangan seolah tidak terjadi. Tapi setelah itu di tahun 1980 keatas, persoalan kesenjangan itu muncul kepermukaan. Sebab ada perbedaan kecepatan pertumbuhan capital diantara 20% kelompok masyarakat dengan 80 % kelompok lainnya. Modal yang ditanam dalam masyarakat tidak seluruhnya berbuah menjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan yang berimbang diantara kelompok masyarakat. Sebagian tergerus oleh pajak dan pengeluaran modal lainnya.Apalagi setelah itu kebijakan fiscal dan moneter yang mengikuti nya seolah lebih terfokus untuk menciptakan “pasar bebas tanpa kendala” dan “daya saing tanpa pembatasan “playing field”.

Begitu kurang lebih dialog yang terjadi. Melalui dialog ini saya ingin mengetengahkan pendapat nya Piketty yang mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi yang terjadi disuatu wilayah muncul akibat perbedaan kecepatan pertumbuhan capital yang terjadi diwilayah itu. Dan perbedaan kecepatan itu dapat diredam jika penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dikedepankan sebagai ujung tombak kebijakan.

Selain itu perbedaan kecepatan itu juga dapat diharmonisasikan melalui kebijakan fiscal dan “social incentive” yang berbeda diantara mereka yang memiliki kekuatan produktip dan yang tidak. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai hendaknya dijadikan pilar kekuatan inovasi diwilayah tersebut. Sebab inovasi pada gilirannya mampu menjadi engine for growth dan sekaligus wahana atasi kesenjangan yang terjadi.

Apa benar begitu ? Mohon Maaf Jika keliru.

Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s