“Creative Thinking” : Sumber Mata Air Inovasi

Jusman Syafii Djamal
8 Jan 2017

Pada 9 Oktober 2014, Dr. Ary Syahriar seorang sahabat facebook yang kebetulan PhD, ahli fiber optic lulusan Imperial College dan salah satu dekan Universitas Al Azhar Jakarta, pernah memberi buku.

Judulnya :”The Five Faces of Genius : Creative Thinking Styles to Succeed at Work”. Pesannya : ini buku kenangan buat Pak Jusman selama kita bekerja sama di Komite Inovasi Nasional dibawah pimpinan alm Prof. Zuhal. Sabtu malam tadi buku itu saya baca kembali. Dishare disini semoga bermanfaat.

Penulis buku adalah Annete Moster Wellman, konsultan Inovasi Fire Mark Amerika Serikat. MBA dari Universitas Chicago dan Master Princeton Seminary. Keahliannya 15 tahun, berpengalaman sebagai konsultan business leadership dan marketing. Ia melakukan research on the nature of creativity.

Dalam buku ini kita ketemu pertanyaan menarik. Seperti :”How did Albert Einstein get the idea of the theory of relativity ? How did Andy Grove create the computer giant Intel ? How Wolfgang Amadeus Mozart, Leonardo da Vinci get their path to ideas, how they developed breakthrough ?

Bagaimana Albert Einstein ketemu ide teori relativitas pengguncang dunia itu ? Bagaimana Andy Grove raksasa pencipta industri processor Intel , menemukan gagasannya ?

Can we understand their path ? Will we be able to master their way of doing thing ? Mungkinkah kita mengenali dan memahami jalan para jenius itu ? Mungkinkah kita menguasai tatacara mereka bekerja membangun ide ?

Dapatkah kita mengikuti jalan yang ditempuh mereka ? Apakah tatacara kerja para Genius ini dapat kita pelajari dan kuasai ? Bagaimana jalan terbaik untuk meningkatkan daya kreativitas yang telah kita miliki saat ini ?

Apakah kreativitas dapat dipelajari ?

William Blake seorang sastrawan Inggris pernah bilang begini :”It is my business to create”. Menciptakan gagasan baru adalah bisnis semua orang. Tanpa ide bagaimana ada kemajuan ? Mereka yang penuh ide disebut seniman. Mereka yang terampil tangan dan kakinya dalam menyelesaikan masalah rinci dan printilan disebut tukang insinyur. Mereka yang tiap hari menjaga toko dan sibuk dengan urusan jual beli barang sering disebut saudagar atau business manager.

Pertanyaannya dapatkah tukang insinyur, saudagar atau business manajer memiliki keahlian seperti Seniman ? Can we stop being like a business manager and began living like an artist , full with creativity ? Every day create one small new ideas ?

Pertanyaan yang sukar dijawab.

Annete Moster mencoba menemukan jawabannya. Ia mulai dengan pengantar yang sangat bagus. Ia mengutip George Eliot yang bilang begini :”Genius is at first the ability to receive discipline”.

Setelah ia melakukan riset terhadap kehidupan para seniman dan scientist serta business people dengan melakukan wawancara pada 45 seniman, 45 pakar iptek (engineers and scientist) serta 42 business people.

Annete sampai pada dua kesimpulan.

Kesatu : “I found higly creative people are dedicated to ideas”. Semua orang creative focus perhatiannya pada Gagasan Baru. Kedua : They don’t rely on their talent alone, they rely on their discipline. Their imagination is like a second skin. They know how to manipulate their imagination to the fullest.

Mereka yang kreatip memiliki keteraturan dan ketelitian serta kecermatan pola hidup dan cara kerja yang dibangun secara sungguh sungguh melalui discipline ketat. Mereka memiliki disiplin dan dedikasi , tidak hanya bergantung pada talenta yang dimiliki sejak lahir. Mereka umumnya memiliki daya imajinasi yang kuat. Imajinasi menjadi indera keenam yang selalu dimanfaatkan sepenuh penuhnya untuk melahirkan gagasan dan terobosan baru.

Hasil wawancara itu kemudian diklasifikasi oleh Annete. Ada lima ‘style creative thinking” . Kelima style of creative thinking ini adalah :

Pertama : Seniman , mereka yang kreatip memiliki Ruang Imajinasi amat luas. Mereka “menari samba” sebagai pengolah Imajinasi. Mirip Messi atau Ronaldo yang memiliki mata dikakinya. Bola digerak gerikkan dalam sebuah tarian mencetak gol ke gawang lawan. Mampu memainkan banyak pola imajinasi dalam fikirannya ketika berhadapan dan ketemu sesuatu masalah yang menarik hatinya. Mereka adalah The Seer pemilik The Power to Image.

Memiliki daya imajinasi kuat. Bisa tenggelam sebagai pelamun atau penghayal kelas berat. Menciptakan ide baru melalui imajinasi yang dipermainkan dalam otaknya baik ketika terjaga maupun tidur. Mereka mampu melahirkan “gambar hidup” yang datang silih berganti dalam fikirannya. Membayangkan postur “bulan dalam kepala”. Potongan gambar imajiner ini kemudian diwujutkan menjadi ide baru. The seer : see pictures in their mind’s eye, and these picture become impetus for ingenious ideas.

Style kedua : Seniman, mereka yang kreatip memiliki Ruang Analisa amat luas. Mampu membangun pola fikir dan memiliki kemampuan analisa detektip seperti Sherlock Holmes ditempat kejadian perkara. Menelusuri setiap rincian titik pengamatan dan dikoneksikan satu sama lain serta diolah dan direkonstruksikan dalam fikiran. Ditulis kembali dalam frame berbeda. Mereka dijuluki The Observer pemilik The Power to notice detail.

Kemampuan observasi untuk mencermati objek secara rinci dan mendetail sangat luar biasa. Ketika berhadapan dengan suatu benda dengan cepat mampu mengkonstruksikan rincian benda itu dengan tepat. Bahkan disana sini dapat menemukan kekeliruan betapapun kecilnya dalam rincian yang ada. Ada semangat perfectionist dalam mengamati benda disekitar mereka.The observer, notice the details of the world around them and collect them to construct a new ideas. They scan their environtments for interesting information and use this data to create breakthrough.

Style ketiga : Seniman, mereka yang kreatip memiliki laboratorium dalam kepala. Style berfikir dan pola kerja mereka mirip sebagai peracik atau peramu obat, farmakologi, ahli kimia di laboratorium. Menemukan dua atau lebih unsur berbeda untuk dipadu padankan melahirkan komposisi baru. Mereka disebut sebagai The Alchemist pemilik The Power to Connect Domains.

Ahli kimia atau alchemist adalah peramu unsur. Mereka sangat memahami tabiat setiap unsur dalam sebuah racikan. Air dikenal mereka sebagai gabungan dua unsur utama Hidrogen dan oksigen, dan kedua unsur itu dengan komposisi yang tepat dapat diramu menjadi air dan juga dapat diurai menjadi gas oksgen dan hidrogen. Itu contoh keahlian ahli kimia.

Dari keahlialn kimia muncul pharmacyst peramu obat obatan. Dengan kata lain seorang ahli kimia seringkali mampu melahirkan kombinasi racikan dari pelbagai unsur utama yang disebut domain. Alchemist bring together separate domains. Different ideas, different discipline or different systems of thought can be connected into unique way to develop breakthrough ideas.

Daya kreativitas bisa terwujut dalam realitas jika kita memiliki kemampuan untuk menelaah unsur unsur utama dari pelbagai jenis ide dan pola fikir untuk kemudian diramu dan dijadikan ide baru yang mampu menerobos kebuntuan.

Style keempat : Seniman, mereka yang kreatip memiliki ruang rasa ingin mengetahui segala sesuatu yang amat luas. Rasa ingin tau yang berlebih menyebabkan mereka memiliki style dan pola kerja dengan terus ajukan banyak pertanyaan.. Seperti orang tersesat. Mereka dapat menelusuri jalan yang sama secara terus menerus. Mereka mencoba menemukan apa yang keliru dibalik phenomena. Stay foolish stay hungry kata Steve Jobs. Banyak tanya seperti anak kecil. Pertanyaan : “ini apa , itu bagaimana, mengapa jadi begini kenapa tidak begitu” sering terdengar dari mulut mereka. Memiliki terus lapar dengan rasa ingin tau. Menjelajah ruang pengalaman baru. Mereka dijuluki sebagai The Fool pemilik The Power to Celebrate Weakness.

Seringkali ide jenius lahir dari kelemahan dan sebuah kekeliruan. Ketololan yang berlangsung tanpa diduga akan juga mampu melahirkan ide baru. Roy Plunkett seorang penemu Teflon, adalah contoh dari kekeliruan yang menghasilkan penemuan hebat. Suatu hari tanpa sengaja ia tertidur di laboratorium ketika ia sedang menanak cairan kimia dalam sebuah tungku pemanas. Ketika bangun dipagi hari ia kaget, panci tempat ia menggodok cairan ramuan kimianya sudah kering dan dibawah panci muncul sebuah benda padat hasil polimerisasi. Benda itu sesungguhnya bukan yang ia kehendaki. Ia membuat ketololan yakni tidur ketika sedang meramu bahan dilaboratorium.

Hasilnya sebuah benda yang tak jelas juntrungannya. Akan tetapi Plunkett tidak terus kecewa dan benci pada keteledoran dan ketololan yang dibuat. Ia terus memiliki rasa ingin tau yang tak kenal henti. Ia tak berhenti untuk menyelidiki, apa yang terjadi. Mengapa ia tertidur. Mengapa lahir benda padat itu. Bagaimana ceritanya dan seterusnya, ia telusuri kembali jalan mengapa semua itu terjadi dan akhirnya dari kelemahan yang dilakukan ia melahirkan temuan baru bahan polimer yang kini dikenal dengan nama Teflon.

Style kelima : Seniman, mereka yang jenius dan kreatip selalu bekerja keras untuk menyederhanakan definisi masalah. Kemampuan menyederhanakan problema yang dhadapi memerlukan keahlian .Mereka membangun kebiasaan untuk menemukan rumusan sederhana dari masalah rumit. Menyederhanakan formula masalah. Menemukan titik terang dalam kegelapan. Mereka disebut sebagai The Sage pemilik The Power to simplify.

Dari basil wawancara dengan 45 seniman dan scientist serta 42 business people, Annetete menemukan satu pola menarik lain. Ia menemukan kesamaan mereka dalam membangun kekuatan untuk mampu menyederhanakan masalah rumit. Mereka yang kreatip memiliki keahlian untuk mereduksi masalah menjadi potongan esensi yang dibungkus dalam kalimat sederhana, lugas dan jelas. Kemudian mem”frame” kembali menjadi inspirasi untuk melahirkan ide baru. Simplicity is their credo.

Begitu kurang lebih buku “the five faces of Genius”, yang mudah mudahan dapat dikenali untuk diterapkan dalam membangun ruang kreatip pada generasi anak anak kita semua. Ruang kreatip yang mampu menjadi sumber mata air inovasi, penggerak perubahan dan kemajuan ekonomi dan politik kesejahteraan suatu bangsa.

Mohon maaf jika keliru. Salam

LikeShow more reactions

Comment

Advertisements