Eileen Rachman & Billy Latuputty

EXPERD  CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Kompas, 9 Juli 2016
KEGAGALAN yang paling populer pada momen momen Lebaran ini adalah kemacetan arus mudik yang ternyata belum menemukan solusi yang tepat. Kita dengan segera akan mengacungkan telunjuk ke pemimpinnya, yang kebetulan, di media, sudah pula memberikan good news kepada masyarakat, bahwa keadaan akan lebih baik. Apakah pihak yang bertanggung jawab sudah melakukan sesuatu? Sudah, namun hasilnya, belum mencapai tingkat di mana kita bisa menikmati solusinya. Terlepas dari soal arus mudik, kita memang sering melihat gejala ini.
Pemimpin yang dipersalahkan, tetapi juga, di lain pihak, pemimpin yang tidak memperlihatkan kekuatan dan kinerja timnya. Kesemua perkembangan atau persoalan hanya terlihat samar. Yang sering keluar adalah gerutu dari tim di dalam, yang tidak puas pada keputusan-keputusan pemimpin, atau bahkan saling menyalahkan ketika ada kritik atau keluhan dari luar.
Apakah kita sebagai pemimpin sudah pernah meninjau kembali efektivitas kepemimpinan kita? Mari kita tinjau apa yang sebenarnya sering terjadi pada pemimpin kita, yang, seringkali sangat populer di mata anak buah dan masyarakat, sehingga dengan sedikit bicara, hal-hal yang magic akan terjadi. Pemimpin bisa berkharisma, menenangkan, dan bahkan ber-power, tetapi ingatkah bahwa tugasnya adalah “guiding and motivating people toward agreed-upon outcomes”. Adakah kita juga tidak bersibuk diri saja, dan tidak berfokus pada kinerja tim? Atau, kita sibuk menenangkan tim, atau anak buah dengan mengatakan bahwa segala sesuatu aman, sementara faktanya organisasi tidak maju-maju bahkan berkinerja mundur? Bahkan, yang lebih parah, kita sibuk mempertahankan posisi dan tidak sempat memikirkan kinerja tim? Mungkin saja, kita merasa sudah cukup mendengar dan membaca laporan perkembangan kinerja tim, tetapi, apakah kita sudah membuat tim kita memenangkan big wins? Bukankah pemimpin manapun tidak bisa bekerja dan sukses sendiri?
Hindari kebiasaan kebiasaan “bossy”
Salah satu penyebab dari kesulitan mengembangkan orang, datang dari kepedean pemimpin. Pernahkan anda berada dalam situasi, di mana ketika tim sedang seru-serunya memecahkan persoalan dan sudah membuat kemajuan, seorang pemimpin memotong ditengah dan segera memberikan solusi versinya? Intervensi seperti ini sering membuat pemimpin merasa gagah, tanpa ingat bahwa mental dan spirit tim tidak tumbuh. Kemudian, kita mengeluh tentang masalah tidak adanya inisiatif.
Hal yang sering juga tidak kita sadari bahwa pemimpin memang mempunyai power lebih besar daripada anak buah. Karenanya, apa yang kita ucapkan akan selalu membawa impact. Suara kita, walau perlahan, seolah-olah selalu mempunyai dampak bagai berpengeras suara. Bagaimana mungkin kita bisa menanggulangi hambatan, bila brainstorming dalam tim tidak digalakkan. Semampu apa kita sebagai pemimpin melihat semua lubang hambatan dan jebakan?
Antusiasme tim adalah bisnis pemimpin yang serius. Bila anak buah sudah tidak antusias, mereka tidak mungkin membuahkan ide,apalagi yang berbentuk terobosan beresiko dan kreatif. Ketulusan dalam menyemangati dan menghargai pikiran dan kerja anak buah, sangat penting. Jangan sampai setiap ada usulan, kita memberi usulan lain. Jangan sering mengajukan pertanyaan “what about…”. Kalaupun ingin mengembangkan ide, tanyakan, ”why not…” Jadi, para pemimpin perlu sekali menyadari adanya tingkah laku yang berfungsi sebagai movers atau mana yang justeru mengerem inisiatif bawahan.
Mundur untuk maju
Ketika Presiden Jokowi mengumumkan penyederhanaan gaya hidup, banyak pejabat merasakan kemunduran dan bahkan terhina. Sebenarnya, banyak peristiwa yang tidak usah terjadi bila pengambilan langkah mundur atau penghentian kebiasaan dilakukan, dan bahkan bisa membawa ke pada kesuksesan. Kodak adalah penemu kamera digital. Namun, ketika itu kamera dengan filem rol masih sedang laku-lakunya. Kekhawatiran akan terjadinya kemunduran bila memasarkan produk baru menjadikan Kodak berlama lama tetap maju menjual filem rol nya, dan mempertahankan pasar yang lama. Padahal pasar yang dipertahankan mengempis secara drastis.
John O’Leary dalam bukunya On Fire: The 7 Choices to Ignite a Radically Inspired Life, menyatakan beberapa prinsip hidup, yang bisa diterapkan para pemimpin yang takut mengambil risiko: Comfort is popular, but courage changes lives. Untuk orang yang biasa bergerak maju, membuat kemajuan sering sudah tidak terasa lagi. Kita juga sudah terbiasa mempelajari hal baru. Namun, di banyak situasi, hanya melihat ke depan, tanpa mengevaluasi, dan bahkan berhenti atau justru mundur, kadang diperlukan.
Kita bisa mundur, berubah, misalnya membuat produk digital, dengan kesadaran bahwa uang yang didapat sangat kecil dibandingkan dengan pemasaran produk yang sekarang. Namun kita tidak punya pilihan lain. Kita juga tidak perlu sangat brilian dalam mengambil tindakan mundur ini, tetapi kita butuh kebranian ekstra untuk mengambil arah lain, daripada selalu maju dan lupa pada realitas. Bahkan saat sekarang kitalah yang perlu mengambil langkah disruptif, bila ingin benar benar mengubah keadaan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s