Adriano Rusfi
Dec 29, 2016
Sebenarnya saya bingung harus menjelaskan perangai tahun 2016 ini. Segalanya serba rumit, hingar-bingar dan seakan tak terkendali. Dimensinya sebenarnya cukup sederhana, hanya berputar-putar di pusaran politik praktis, plus sedikit riak-riak kecil di wilayah ekonomi dan hukum. Namun yang jelas sangat dalam negeri, sehingga menyingkirkan perhatian kita dari persoalan-persoalan mancanegara yang juga sangat butuh kepedulian : terorisme, Suriah, Palestina, Rohingya, pengungsian, pilpres AS dan sebagainya. Sejujurnya, saya terseret arus lokal yang sangat kuat itu. Walau saya telah berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada isyu strategis seperti keluarga, pendidikan, aqil-baligh dan SDM
Tahun 2016 seakan menjadi tahun pertarungan, karena segalanya disikapi secara sangat bipolar : lovers vs haters, kawan vs lawan, kami vs kalian. Bahkan dunia sangat abu-abu semacam politik praktis ingin dipisahkan antara hitam dengan putihnya. Gesekannya tentu saja menjadi sangat panas, bahkan bisa terjadi hingga ke dalam rumah. Dua bersaudara bisa bermusuhan, saya diremove oleh teman dunia maya, dan teman-teman lama gugur beruntun di group Whatsapp. Isyu-isyu cenderung dipersonalisasi. Sehingga presiden, misalnya, tidak lagi diperlakukan sebagai jabatan, tapi sebagai person. Mencela presiden adalah mencela person, berarti mencela saya juga, dan saya sakit hati dibuatnya.
Perseteruan kian menjadi-jadi begitu pluit pilkada ditiupkan. Dan aroma busuk politik praktis mulai bertebaran ke udara, sebagaimana yang selalu dan akan selalu terjadi, walau ingin ditampik oleh sekian banyak orang. Maka hoax, fitnah, konspirasi, makar, hate speech, asing, aseng, kebhinnekaan, keutuhan NKRI, intoleransi, kafir adalah isyu-isyu yang cepat digoreng dan laku dijual. Adalah Ahok yang kemudian menjadi tokoh simalakama, sehingga berkelahilah antara orang-orang yang ingin memakannya dengan orang-orang yang tak ingin memakannya. Garis batas benar-salah, baik-buruk, pantas-tak patut seakan telah Allah tarik ke lagit. Prinsip dikalahkan oleh kondisi, pokok ditelikung oleh cabang, sedangkan importancy (kepentingan) mengalah pada urgency (kegentingan).
Anehnya, segala suasana panas ini hanya pengap di udara (on air). Carut-marut yang berseliweran dari mulut-mulut itu ternyata bak knalpot panas yang semburan asap polusinya sengaja diarahkan ke langit. Udara sangat bising : noisy ! Ucap-ucap yang terlontar benar-benar tak patut di dengar. Namun jangan berharap bahwa itu akan berbuah menjadi ring tinju di darat (off air). Anda akan kecele jika berpikir bahwa segala sumpah serapah itu akan berbuah amuk (amock) sebagaimana tradisi kita selama ini. Segala amarah tampaknya telah dilepas ke udara, sehingga bumi menjadi relatif adem-ayem.
Ini mengingatkan saya akan suatu malam di kampung halaman, ketika seorang pejalan kaki tersenggol sepeda lalu berteriak murka : “Berhenti !!! Musuh tak ku cari, bertemu pantang ku elakkan…”. Dari kerasnya teriakan, saya berpikir akan ada tinju yang terlontar dan ada darah yang tumpah. Namun yang terjadi hanyalah baku ucap, lalu berpisah. Tapi itulah kampung halamanku : letih mendengar segala hal menjadi gossip, namun sekaligus menjadi negeri terdamai di dunia. Dan itu pulalah tanah airku, yang mulut dijadikan ventilasi dan kanalisasi agar rusuh tak perlu terjadi. Aneh bukan ?
Maka dalam keanehan itu saya harap-cemas : ini adalah tahun transisional yang amat menentukan. Ini adalah tahun ambang kehancuran atau ambang kebangkitan, namun saya 100 % yakin untuk memilih yang ke dua. Kenapa ? Ya, karena segala keanehan musykil dan tak masuk akal ini menandakan bahwa Allah sedang mengambil alih nyaris segala peran, dan meluluhlantakkan segala asumsi logika. Ya, karena Allah berjanji : ketika manusia bermain tipu daya, mereka mengundang Allah untuk membalasnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s