Jalan Unik Peradaban Bangsa

Adriano Rusfi
3 Dec 2016
Bicara peradaban selalu saja akan mengajak kita kepada bukti-bukti fisik adiluhung : tentang piramid di Mesir, Colosseum Romawi Kuno atau Candi Borobudur di Jawa Tengah. Setidaknya, peradaban juga bisa ditandai dengan karya-karya ilmu pengetahuan. Sehingga kita lalu bicara tentang Thales, Hypocrates dan Socrates di Yunani Kuno. Atau tentang Ibnu Sina, AlKindi dan AlKhawarizmi dalam Islam. Cina akan mengangkat The Great Wall atau Tsun Zu, sedangkan Barat akan bicara tentang Einsten dan Apollo. Intinya, sebuah peradaban akan niscaya identik dengan supremasi iptek.
Di situlah terkadang saya merasa sedih… Bangsa ini seakan tertatih di lapangan iptek, sukar sekali di ajak berjalan di jalur ini. Saya pernah menyampaikan rasa duka setengah putus asa untuk urusan yang satu ini, dalam sebuah tulisan “Sebuah Gelisah Tentang Iptek”. Dan ketika Korea Selatan, yang dulu pernah setara dengan kita, kini menjangkau peradaban lewat Samsung, Hyundai atau K-Pop, sedangkan Tiongkok memacu diri di ranah adidaya ekonomi, maka kita justru masih asyik ngobrol tak habisnya di warung kopi, atau bercarut dan menyebar hoax di media-media sosial.
Tapi kini kabut itu mulai sedikit tersibak. Bangsa ini tiba-tiba membelalakkan mata dunia lewat sebuah aksi “kemustahilan” sosial : Unjuk rasa jutaan manusia tanpa sebatang rantingpun patah !!! Adidaya dan peradaban mana mana yang mampu menggalang rekayasa sosial semacam ini ??? Ingat, ini bukan unjuk rasa berbasis institusi, tapi sebuah aksi berbasis komunitas. Ingat, ini bukan kumpulan aksi BEM, KNPI, HMI, Golkar PPP atau PDIP, tapi berhimpunnya orang Ciamis, Bogor, Situbondo, Minang, Medan, Balikpapan, Makassar dan seterusnya. Inilah aksi dari orang-orang dengan pijakan teritorial yang jelas. Sedangkan komando telah dipegang oleh para ulama.
Ya, ini adalah cikal-bakal dari sebuah peradaban sosial, SEBUAH PERADABAN KOMUNITAS, peradaban yang ditegakkan di atas kaki-kaki yang berpijak kokoh di teritorial bumi (at-tamkiin fil ardh), lalu mereka digerakkan oleh para ulama yang menyentuh hati, bukan oleh program-program yang menguasai isi kepala. Maka, pemimpin mereka adalah para ulama. Konsentrasi-konsentrasi mereka tak lagi di kampus-kampus, atau di kelompok-kelompok studi, atau di gerakan-gerakan organisatif, atau di partai-partai politik. Mereka sepenuhnya adalah community, BUKAN SOCIETY. Mereka berbasis teritorial, bukan fikrah. MEREKA ADALAH UMMAH, bukan organisasi.
Sebagai komunitas informal, mungkin mereka sangat bising : noisy. Di media sosial mereka penuh carut-maki. Di dunia online mereka menumpahkan rasa lewat marah-marah. Mulut adalah media katarsis dan kanalisasi agresivitas mereka, karena secara sosial mereka terkenal dengan budaya amuk. Mereka memang tak butuh penyaluran agresi lewat ring tinju atau lintasan balap, tapi lewat mulut (adab lisan ini memang masih menjadi PR kita semua). Dan ketika kotoran telah terbuang lewat lidah, lalu otak, hati, tangan dan kaki mereka terpimpin sangat terkendali. Ah, sayang UU ITE kurang paham psikologi yang satu ini.
Lalu, mari bayangkan peradaban dunia di masa depan, andai dunia bagaikan sebuah korporasi : ada Korea Selatan yang menguasai elektronika, ada Jepang yang menguasai otomotif, ada Tiongkok yang menguasai pemasaran, ada Jerman yang merajai farmasi, ada Amerika Serikat yang menjelajah antariksa, ada India yang menyuplai energi dunia, sedangkan Eropa Timur unggul dengan seni dan budaya. Lalu, di mana Indonesia ??? Ah, rupanya mereka sedang MENGGERAKKAN DAN MEMIMPIN ITU SEMUA. Indonesia adalah dirigen dari sebuah orkestrasi dunia.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s