Dari Tradisi ke Inovasi : Catatan dari Keio dan Waseda (Travelling Note 2)

Jusman Syafii Djamal
27 Dec 2016

Kemarin saya sempat berkunjung ke dua Universitas tertua di Jepang. Keio dan Waseda. Tahun 1858 Founder Fukuzawa Tukichi membangun dan sekolah untuk mempelajari kemajuan Eropa terutama Belanda di kota Edo (kini Tokyo). Sekolah ini membangun tradisi tacara belajar mengajar yg disebut Dokuritsu Jison. Tanpa hirarki murid dan guru. Mandiri dan Independent. Guru adalah “partner in progress bagi murid begitu sebaliknya”.

Sekolah itu diberi nama Keio Gijuku Sacho No Yikusaku. Tahun 1922 Albert Eunstein pernah diundang sebagai Guest Professor untuk memberikan keynote speech tentang theory in relativity. Sekolah itu kini bernama Keio University.

Tahun 1882 Okuma Shigenabu mendirikan sekolah bernama Tokyo senmon gakku. Tahun 1992 berubah nama menjadi Waseda University. Sebuah Universitas tertua dan ternama di Jepang. Sangat dikenal karena delapan Perdana Menteri Jepang adalah alumni Waseda.

Begitu juga ada ratusan CEO yg merupakan alumni nya. Diantaranya Nario Saseki former CEO Toshiba, CEO Uniqlo, Takeo Fukui former CEO Honda, Lee Kun Hee Chairman Samsung Korea dan di Indonesia Prof Ginanjar Kartasasmita.

Dua universitas tertua ini hingga kini dikenal masih konsisten menjaga tradisi nya dalam pengembangan Science and Technology. Tak banyak universitas yang mampu bertahan dan membangun tradisi nya dalam perubahan zaman selama lebih 139 tahun seperti kedua universitas ini.

Di Indonesia Ada tiga universitas tertua Gajahmada, Universitas Indonesia dan ITB.

Bandung Institute Technology yang didirikan tahun 1920 dan baru berusia 96 tahun saja sudah terlihat tak sabar dengan sejarah masa lalu nya. Ada kegamangan dari generasi baru pimpinan universitas yg terus menerus ingin keluar dari tradisi temukan Jati diri baru. Bahkan ada yg malu mengakui hari lahir ITB dimasa kolonial tahun 1920. Dan merubahnya jadi tahun 1959. Ada pula yg bermaksud ganti logo. Terus berkutik dalam “proses in search of identity”. Motto universitas pun berubah setiap lima tahun bergantung rektor nya. Hari ini ingin jadi Research University besok mau jadi Entreprenuership University. Art, Science Technology and Humanities yang semula ingin diblend sebagai core values memudar dipersimpangan jalan.

Tidak begitu di Dua universitas tertua di Jepang ini. Kita bisa gunakan jadi benchmark bagaimana tradisi masa lalu dipelihara dan direlevankan menjadi “core value” tersendiri.

Tatacara belajar mengajar, proses learn to unlearn between teacher n student, perpustakaan dengan khasanah buku buku tua yang tertata tapi,

kehidupan kampus semuanya menverminkan keajekan dalam tradisi masa lalu Bangsa Jepang yang terus menerus bertekad menguasai iptek yang berkembang di Barat. Menjadikan Eropa dan Amerika sebagai reference untuk dikejar dan dilampoi. Dikedua kampus ini kemajuan iptek barat di adopsi sebagai anak angkatnya. DNA ayah dan ibu kandungnya tak berubah tetapi sifat alamiah anak angkat berubah ikuti tradisi ibu dan ayah angkatnya. Sehingga ayah kandungnya tak lagi kenal anak yg Ia temui kemudian di pasar yg semakin kompetitif ini.

Di kedua kampus ini Tradisi seolah di transform menjadi ruh kekuatan Inovasi.From Tradition come Innovation. Tradisi menjadi rahim tempat benih dan embryo inovasi di semai dan dipelihara. Tradisi menjadi breeding ground inovasi.

Berjalan jalan disiano hari di Keio dan disenja hari di Waseda, menyusuri taman, plaza, ruang2 kelas, asrama mahasiswa, cafe, perpustakaan nya membuat kedua kampus tertua ini terasa seperti batu karang yang berdiri kokoh menghadapi gelombang pasang surut perubahan zaman.

Diatas karang tradisi itu dibangun Mercusuar , lampu berkelap kelip ditengah gulita malam. Sumber cahaya nya berasal dari spirit inovasi yg tak pernah berhenti. Lampu inovasi yg membuat Nakhoda kapal yg tersesat ditengah badai dapat instrument navigasi menuju pelabuhan yg dituju.

Mungkin peran universitas tertua harus seperti itu. Memelihara tradisi sebagai suatu core values dan menjadikan nya sebagai rahim dari benih inovasi. ?? Wallahu alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s