Welcome Petabyte Age and Big Data Phenomena

Jusman Syafii Djamal
November 8, 2016

Di masa silam, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu diawali dari munculnya “grand theories”, raksasa iptek melahirkan teori baru. Di masa kini yang terjadi semua orang dibanjiri oleh informasi dan data yang muncul dari smartphone dari genggaman. Tiap detik dari pagi hari kita seolah seperti hidup dalam informasi yang mengalir tanpa henti. Seolah kecerdasan mengalir dengan mudah. Dengan modal “google” seolah setiap hari kita mampu berpindah profesi, mampu jadi dokter, insinyur ataupun ahli hukum , politik dan ekonomi seketika. Teori 20000 jam terbang untuk menjadi seorang profesional seolah menghilang dari kamus kehidupan.

Apalagi kini jari telah terlati , lebih lincah dan lebih cepat dari fikiran, otomatis tindakan share kanan kiri dengan metode copy paste berjalan seperti kereta api ekspress menembus dinginnya malam. Tak jarang kita juga tergagap dan terbius oleh volume data yang datang seperti airbah ditengah malam. Teori besar seolah tak muncul muncul. Kalah cepat dari kehadiran informasi dan data yang tiba secara acak. Pada tahun 2010 tercatat ada 500 juta devices saling terkoneksi satu sama lain itu berarti 1.84 devices terkoneksi dimiliki dan melekat pada satu orang. Satu orang punya dua smartphone paling tidak. Diprediksi pada tahun 2020 akan ada 50 milyar devices terkoneksi. Atau tiap orang memiliki 6.58 alat peralatan utama yang terkoneksi dengan internet dan dunia maya.

Selamat Datang Zaman Petabyte. Phenomena Big Data dan Cloud Computing sudah hadir di Indonesia,dengan semakin meningkatnya populasi pengguna internet sepanjang tahun seperti tampak dalam grafik berikat ini :(Source Mc Kinsey Unlocking Indonesia’s digital opportunity, september 2016)

tetabyte01

Masalah nya kita terbiasa mempelajari dan melihat segala sesuatu yang sebelumnya kita telah dilatih untuk berinteraksi dengan nya. Kini gimana mungkin kita mengatakan apa yang sebelumnya tak pernah kita dilatih untuk memandangnya. Bagaimana melihat dimensi tersembunyi dari yang kasat mata.Melihat yang menari dibalik milyaran data dan informasi yang bergelombang tiba didepan mata setiap hari, bukanlah sesuatu yang mudah.

Big Data muncul dengan style 4 V. Kita bisa saja gamang melihat Volume data dan informs yang mengalir dengan Variety dan Velocity serta Value yang saling berbeda disetiap detik, disetiap tempat. Tak mudah memiliki persfektip baku untuk mencernanya. Seperti diperlihatkan dalam gambar dibawah ini (source Carlos Cordon :”Strategy is Digital”):

tetabyte02

 
Banjir data dan informasi dalam era digital ini menyebabkan kita perlu menyadari problema berikut ini :

Pertama : Ditengah banjir air bah, mereka yang hanyut terbawa arus biasanya akan menggapai kesana kemari, mencoba menemukan segala sesuatu tempat bergantung. Bisa akar pohon , sampan, kapal atau apapun yang berada didekatnya dan terjangkau. Tak heran kini teori konspirasi atau stigma ini dan itu dengan mudah dilekatkan pada sekumpulan informasi yang hadir. Bisa benar dan mungkin ada stigma atau konspirasi. Tapi juga mungkin keliru dan terlalu cepat kesimpulan dibuat untuk munculkan stigma dan teori yang dimunculkan secara seketika tanpa analisa mendalam. Dua titik yang berada dikordinat yang sama tak mungkin diekstrapolasi jadi sebuah fungsi kontinu. Karenanya diperlukan metode, dan kehati hatian untuk memilah dan mengklasifikasi. Sayang nya waktu terlalu singkat untuk segera beradaptasi membangun sistimatika berfikir baru ditengah arus informasi yang deras mengalir.

Akibatnya Wisdom tak mudah ditemukan kembali. Apa benar begitu ? Wallahu alam.

The quest for knowledge used to begin with grand theories. Now it begins with massive amounts of data. Welcome to the Petabyte Age. (Chris Anderson, editor-in-chief of Wired)

The problem is :” We see what we’re trained to see. So how do you see what you’ve never seen before?”

Kedua : Digital technologies memberikan kesempatan bagi kita semua untuk meningkatkan produktivitas kerja manusia bersumber daya iptek Indonesia disemua sektor kehidupan. Generasi muda Indonesia memiliki potensi untuk mendapatkan manfaat peningkatan pertumbuhan ekonomi baik bagi dirinya maupun perusahaan tempat ia bekerja. Akan tetapi percepatan pemanfaatan kemajuan teknologi digital memerlukan langkah aksi yang tidak mudah. Selain pembenahan infrastruktur juga metode pendidikan ICT di Indonesia perlu direvitalisasi. Kita harus melakukan proses transformasi dalam hal ini. Atau seperti kata Mc Kinesy dalam laporan nya berjudul :”Unlocking Indonesia’s digital opportunity September 2016” :

” To win in a digital age, Indonesian businesses should pursue five strategic imperatives that will spearhead growth and efficiency :

1.Define customer-centric experiences to differentiate on design and agility.
2.Develop omnichannel engagement to link the online and offline worlds.
3.Leverage big data to drive real-time decisions across the value chain.
4.Double down on cybersecurity to protect information capital in a connected world.
5.Build digital capabilities to develop the organization of the digital age.

The digital age is commonly hailed as the fourth industrial revolution—except this revolution has the potential to transform every facet of daily life, from reshaping how people make decisions, enhancing customer experiences, and creating new business models to optimizing value chains for unprecedented levels of efficiency.

Mohon Maaf jika keliru Salam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s