Stabilisasi Politik Ekonomi menuju 2017 ?

Jusman Syafii Djamal
19 Nov 2016

Di salah satu rak perpustakaan pribadi saya terselip sebuah buku menarik. Karya Hyman Minsky , seorang Maha Guru Ekonomi dari Washington University di St Louis.Hyman Philip Minsky (September 23, 1919 – October 24, 1996) was an American economist, a professor of economics at Washington University in St. Louis, and a distinguished scholar at the Levy Economics Institute of Bard College. Judulnya :”Stabilizing an Unstable Economy

Buku ini menarik dan enak dibaca oleh saya dengan latar belakang sebagai insinyur Penerbangan. Banyak analogi tingkah laku pesawat terbang baik pesawat komersial maupun pesawat tempur dalam fluktuasi perubahan cuaca yang bisa saya gunakan.

Ini memudahkan saya untuk mencernanya. Maklum saya bukan ahli economy, background matematika dan simulasi model komputer yang saya miliki sebagai aerodinamikawan membuat banyak simplifikasi yang hadir ketika membacanya.

Ketertarikan saya pada buku ini karena dua hal.

Pertama karena ada kata St Louis.Pesawat terbang yang diuji coba menyebrangi Samudera Atlantik kurang lebih seratus tahun lalu, pertama sequel, untuk membuktikan bah pesawat terbang memiliki tinkgkat keandalan untuk dijadikan wahana transportasi barang dan penumpang melintasi samudera. Cikal bakal pesawat terbang commercial.

Pilot Charles Lindberghtook tinggal landas dengan pesawat yang diberi nama Spirit dari lapangan terbang Roosevelt , Garden City Long Island, New York dan 33 jam, 30 menit comedian mendarat di Aéroport Le Bourget Paris, France. Terbang melintasi Samudera Atlantis menempuh jarak 3,600 miles atau 5,800 km.

Kedua, judul buku Stabilizing Unstable Economy juga memberikan sejenis imajinasi pada saya tentang perjalanan Pilot Charles Linberg yang terombang ambing diatas Samudera Atlantik menghadapi fluktuasi gelombang tekanan udara yang berubah setiap waktu.

Minsky adalah seorang Maha Guru murid dari Joseph Schumpeter dan Wasily Leontief yang mengembangkan teori economy yang mengkaitkan kerentanan sistem finansial terhadap tingkah laku spekulatip yang secara inherent ada dalam pasar finansial dan mampu menciptakan “gelembung” atau bubbles economy . “financial market fragility, in the normal life cycle of an economy” due to “speculative investment bubbles endogenous to financial markets.”

Menurut Minsky, DNA tiap sistim economy adalah Unstable. Tidak stabil. Ada kemungkinan Rapuh dan Rentan. Unstable Economy merupakan tingkah laku alamiah sistim Ekonomi suatu bangsa. Mirip seperti cuaca yang mempengaruhi proses terbentuknya awan berarak diangkasa, gelombang dilautan, dan angin putting beliung. Tiap wahana terbang pastilah akan menghadapi turbulensi, fluktuasi, pasang surut tekanan dan kecepatan udara yang silih berganti.

Dalam sistim ekonomi pastilah ada proses bisnis yang tumbuh berkembang, jatuh bangun, untung rugi silih berganti. Growth, Expansion, Saturation Jenuh, Melambat turun atau Declining, dan Resesi.

Karenanya tata kelola yang baik dan benar, diperlukan hadir setiap waktu. Agar kerentanan pasar finansial tidak beresonansi dengan investasi spekulatip yang beresiko besar dan tersembunyi serta tertidur dalam “financial market” menjadi krisis dalam realitas.

Menurut Minsky ketika economy sedang berada dipuncak, ada kecenderungan untuk ekspansi dan investasi serta diversifikasi bisnis. Ketika “cash flow” perusahaan dan rumah tangga sedang moncreng tawaran pinjaman dari Bank akan mengalir. Baik pinjaman konsumptip maupun pinjaman produktip.

Dalam kondisi bagus permintaan pasar tinggi. Barang produksi mudah terjual. Pasar membesar. Pendapatan meningkat. Margin keuntungan tersedia. Muncul tingkat kepercayaan Bank atas kemampuan untuk membayar tiap cicilan hutang pokok dan beban bunga. Ada leverage yang meningkat. Tak heran dimasa pertumbuhan, pembangunan Real Estates, Apartement, Perumahan tumbuh menjamur dan begitu juga investasi lainnya.

Minsky claimed that in prosperous times, when corporate cash flow rises beyond what is needed to pay off debt, a speculative euphoria develops, and soon thereafter debts exceed what borrowers can pay off from their incoming revenues, which in turn produces a financial crisis. As a result of such speculative borrowing bubbles, banks and lenders tighten credit availability, even to companies that can afford loans, and the economy subsequently contracts.

This slow movement of the financial system from stability to fragility, followed by crisis, is something for which Minsky is best known, and the phrase “Minsky moment” refers to this aspect of Minsky’s academic work.”He offered very good insights in the ’60s and ’70s when linkages between the financial markets and the economy were not as well understood as they are now,” said Henry Kaufman, a Wall Street money manager and economist.

“Minsky showed us that financial markets could move frequently to excess. And he underscored the importance of the Federal Reserve as a lender of last resort.

Di tahun tahun mandatang Indonesia memerlukan pasokan dana investasi. Arah pembangunan ekonomi berdiri diatas fondasi “investment lead growth economy”. Motor penggerak pertumbuhan ekonomi adalah investasi pembangunan infrastruktur. Dari pengalaman banyak negara pembangunan infrastruktur selalu berarti menanam uang pada proyek berjangka panjang. Dalam masa sepuluh dua puluh tahun semua investor yang menempatkan “capital expenditures” nya pada bangunan fisik berupa gedung, jalan raya atau generator listrik seolah seperti menanam pohon jati. Untuk mengembalikan modal yang ditanam diperlukan waktu. Karenanya kata “stabilitas politik” dan ekonomi suatu wilayah sangat menentukan apakah investor akan datang atau tidak.

Untuk itu Minsky membuat tiga kategori dan phase tingkah laku investor, yang perlu diketahui :

Pertama “Hedge Investor”, yakni investor yang secara hati hati mengkalkulasikan semua jenis hutang investasi pada bank yang dilakukannya. Perhitungan resiko menyebabkan ia memiliki pandangan jauh kedepan tentang masa pasang surut. Ia mengembangkan metode “worst case scenario”.

Jika kondisi terjelek muncul ia memiliki “langkah sampul” untuk membayar semua tagihan cicilan pokok dan cicilan bunga yang menjadi kewajibannya, dari “their current cashflow”. Jenis investor ini juga oleh Minsky disebut sebagai “Hedge borrower”. Peminjam yang kredibel.

Kedua Speculative Investor, yakni investor yang berpendapat bahwa ekonomi pastilah tumbuh sepanjang masa. Tak mungkin ada pasang surut. Setiap investasi pastilah berbuah “cash flow”. Mereka tidak memperhitungkan “worst case scenario”. Dimasa sulit investor jenis ini akan menhadapi masalah. Mereka sering kehilangan kemampuan untuk membayar hutang pokoknya dari “current cash flow” yang dimilikinya saat itu, akan tetapi punya kekuatan untuk membayar bunga hutang nya.

Pada umumnya investor jenis ini terpaksa melakukan negosiasi untuk merestruktur kembali jadwal jatuh tempo hutang hutangnya atau mencari partner lain yang bersedia membeli investasi yang telah ditanam baik berupa gedung, perusahaan atau jenis lainnya beserta segala jenis liabilitynya. Minsky menyebutnya juga sebagai “speculative Borrower” atau Peminjam Spekulan.

Ketiga Ponzi Investor. Ini jenis berbahaya. Karena investor jenis ini seperti penjudi. Masang kecil ingin untung besar. Pepatah Indonesia telah mewanti wanti bahaya dari investor jenis ini. Besar Pasak dari Tiang. Atau Gali lubang tutup lubang. Investor jenis ini selalu berhutang pada bank, atau menggunakan uang orang lain untuk berinvestasi pada segala jenis usaha yang menguntungkan.

Dan jika krisis investor jenis ini tidak akan mampu membayar baik cicilan bunga hutang maupun hutang pokoknya dari “current cash flow”nya. Investor modal dengkul ini disebut juga “Ponzi Borrower”.

Bagi saya apa yang dikatakan Minsky seperti proses navigasi Pilot pesawat Terbang dalam menghadapi medan cuaca yang sering berubah sepanjanga perjalanan mencapai tujuan. Stabilitas wahana terbang atau pesawat yg sedang berada dalam cuaca penuh turbulensi atau tidak stabil amat bergantung pada handling qualities. Keahlian menyetir merubah arah menghindar gumpalan awan comulunimbus yg berbahaya.

Maneuverability atau kecerdikan membawa pesawat menjauh dari zona bahaya ini yg oleh Minsky dan ahli ekonomi disebut sebagai fenomena tatakelola navigasi sistem ekonomi menuju kearah “multiple equilibrium”.

Dengan kata lain upaya menciptakan program stabilisasi ditengah situasi ekonomi yang tidak stabil memerlukan langkah sistimatis, bertahap dan berkelanjutan. Untuk membawa kita dari satu keadaan keseimbangan kearah keseimbangan baru.

Secara sistimatis kita perlu berupaya membangun kondisi dan ekosistem yg stabil dan seimbang dalam pelbagai perubahan cuaca ekonomi. Ukuran kestabilan adalah Inflasi, Suku Bunga, Volume dan kecepatan uang beredar.

Yg berfluktuasi dan yang membuat ekonomi tidak stabil adalah pasar domestik dan ekspor yg stagnan, menyempit dan mulur mungkret. Demand yg terus merosot. Daya beli yg rendah. Nilai tukar rupiah yg jatuh.

Kita menyaksikan bagaimana Pemerintah telah mengembangkan paket economy (economic package) tahap satu, dua dan tiga hingga empat belas yg diharapkan akan memberi stimulus ekonomi jangka pendek dan jangka panjang.

Dengan kata lain paket ekonomi diharapkan dapat membantu likuiditas sektor riel baik dalam jangka panjang. Perusahaan untuk tetap likuid dalam menjaga “current cash flow” untuk tidak terjerembab dalam kebangkrutan akibat tidak mampu membayar hutang pokok dan cicilan bunga yang jatuh tempo.

Selain paket ekonomi , para pelaku usaha memerlukan juga “pocket” ekonomi. Kebijakan jangka pendek yang bikin “kantong’ atau pundi pundi perusahaan jadi liquid. Perlu insentif fiskal atau kebijakan mikroekonomi yang baik.

Perlu kebijakan ekonomi yang membangun kantung kantung pertumbuhan ekonomi. Kantung daya beli masyarakat perlu diisi dengan pelbagai alternatip. Pungutan aneh aneh, peraturan pajak yg menjepit gerak tumbuhnya likuiditas atau free cashflow dalam rumah tangga dan perusahaan perlu dihindari.

Liquidity adalah kata kunci ditengah perlambatan ekonomi.

Dulu ditengah krisis ekonomi tahun 97/98 upaya untuk membangun kantong kantong Revenu pada masyarakat miskin dan kelas menengah dilakukan melalui pengembangan program kerja membangun inftastruktur padat karya, seperti merevitalisasi jalan kereta api, mengeruk kali yang dangkal dan pelbagai kegiatan dimana masyarakat dapat bekerja hanya dengan modal sederhana, cangkul dan tenaganya. Atau juga proses penggusuran pedagang kaki lima untuk sementara di “freeze” agar ada mekanisme perdagangan tradisional dan masarakat petani kecil memiliki akses kepasar. Dan lain sebagainya.

Revenue Generating Scheme untuk UMKM dan masayarakat kecil perlu dikembangkan.

Buku ini menarik untuk dibaca, agar ada gagasan baru untuk mencermati keadaan perlambatan ekonomi saat ini. Sehingga kita sebagai bangsa dapat terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkan.

Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s