Jusman Syafii Djamal
10 Nov 2016

Ketika Donald Trump menang Pemilu Presiden Amerika semua orang cemas begitu kata headline harian tempo hari ini. Tetapi seorang Teman wartawan senior bang izharry menulis di wall fb nya kurang lebih berbeda 180 derjat. Ia bilang :”apa pula urusan Donald Trump sama kebahagiaan awak, kok kita ikut pusing ?”.

Saya jadi ingat cerita komik si Mat Som yg dibuat cartoonist Malaysia. Dalam sebuah episode si Mat Som yg berusia 10 tahun pontang panting berlari pulang kerumah nya. Sambil terengah engah ia melapor pada ibu nya yg sedang merebus air di gubuk nya yg reot atapnya bolong. “Emak ada berita gembira , tadi kulihat harga tv turun 75 %, murah sekali sekarang”.

Emaknya pun tanpa menoleh menjawab :”buyung apa pula artinya harga TV turun. Tak berubah kebahagiaan awak jua. Mau Beli pake daun jambu, kau Buyung ? Lagi pula disini tak ada stop Kontak, darimana pula listrik diambil ?”

Meski ingat cerita emak si Mat Som , sy punya rasa ingin tau mengapa Donald Trump yang memiliki kelemahan “moral leadership to govern usa and the related world” dibanding Hillary Clinton ,bisa menang telak dalam electoral votes ? Meski Hillary menang popular votes satu juta suara?

Salah satu kunci kemenangan Trump kata beberapa pakar sejarah yg diwawancara CNN adalah :”the forgotten men and women” silent majority yang hadir dikotak suara.
Mereka adalah “uneducated college women — mereka yg tak sekolah di Perguruan Tinggi, 60% memilih Trump dan 30% milih Hillary. Begitu juga “blue collar, white men” pekerja industri berkulit putih bekerja paruh waktu atau menganggur yg tinggal dikota industry, kaum urban yg kehilangan pekerjaan karena pabrik tempat mereka bekerja di offshoring pindah ke Mexico atau Tiongkok.

The forgotten men and women yg terpukau dengan retorika politik Donald Trump tentang dinding pembatas di Mexico dan ancaman nya untuk membangkrutkan perusahaan America yg berlokasi di negara lain. Retorika politik yg bikin cemas semua orang yg merindukan sustainable economic growth.

Kebetulan dipagi hari tgl 9 Nopember kemarin sy dundang Ketua LIPI untuk beri kenote speech dalam Forum Tahunan IPTEK dan Inovasi. Dalam kesempatan itu sy juga mendorong para hadirin untuk memusatkan perhatian pada “the forgotten issue yakni Peningkatan Anggaran Riset and Development menjadi 1%GDP”.

Saya berpendapat tak mungkin Inovasi dapat menjadi Engine of Economic Growth” Tanpa Pembangunan infrastructure IPTEK berbasis R&D”. Dan tak mungkin pula Kekuatan Inovasi bisa muncul jika anggaran R&D masih pada level 0,3% GDP seperti saat ini.

Karenanya judul keynote saya adalah Politik Innovasi 2020 : Kemana kita hendak melangkah ? Sy berharap Inovasi tidak menjadi “the forgotten issue”. Politik sy definisikan sebagai arena tata kelola konflik dan Konsensus untuk alokasi sumber daya bagi peningkatan kesejahteraan. Dan inovasi adalah tatacara berfikir out of the box melaui sistimatika dan metode iptek untuk lahirkan disruption. Dengan definisi itu inovasi sangat erat koneksi nya dgn kapasitas R&D.

Mohon maaf jika keliru, Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s