Persekolahan dan Paham Behaviourisme

Harry Santosa – Millenial Learning Center
October 30, 2016 ·

Di sebuah sekolah Islam yang sangat mahal, seorang guru di sekolah itu dengan bangga mengatakan telah “memberhentikan” beberapa siswa yang dianggap tidak patuh. Sekolah ini merasa sukses telah menerapkan disiplin yang sangat hebat. Peraturan yang ketat dirancang untuk membuat siswa menjadi patuh dan taat.

Diantara hal yang lumayan “aneh” adalah mereka menerapkan konsekuensi bagi anak yang tidak sholat Jumat untuk tidak boleh Sholat Jumat pada pekan berikutnya. Lho? Inilah diantara potret kebingungan untuk “mengubah perilaku” dengan panduan bukan dari Islam.

Memang membuat anak patuh dan taat dengan mudah dan cepat adalah sangat sederhana (walau efeknya tak sesederhana yang dibayangkan), yaitu terapkan SOP yang ketat lalu berhentikan yang melanggar dan beri gelar si “baik” atau hadiah untuk yang patuh.

Begitulah, sebagaimana umumnya persekolahan modern, sekolah Islampun banyak menggunakan cara cara Behaviourisme, yaitu menggunakan cara “conditioning” atau pembiasaan, “reward n punishment”, “irrelevant consequency”, stimulus dsbnya. Cara cara ini sebenarnya cara shortcut yang berangkat dari paham behaviorisme yang amat sangat menolak bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah atau Innate Goodness (kebaikan bawaan).

Betapa amat gemarnya kita untuk melakukan shortcut untuk merubah perilaku anak. Pendidikan selalu dikonotasikan sebagai upaya mengendalikan, mengubah, mengatasi, membentuk perilaku anak. Kita sudah sangat lama dijajah dengan pemahaman bahwa anak tidak punya kapasitas memilih untuk baik, tidak punya kemampuan untuk baik, dan tidak punya kesadaran untuk “commitment” layaknya hewan yang bisa dibuat patuh tanpa perlu memperhatikan jiwanya, keinginan terdalamnya, perasaannya dstnya.

Paham Behaviorisme sudah menjadi agama sejak 200 tahun terakhir. Mereka menganggap manusia sama seperti hewan, dapat dibuat “beradab” apabila diberi hukuman atau hadiah. Model Stick n Carrot (reward n punishment) yang cocok untuk keledai dipakai juga untuk manusia. Pembiasaan atau stimulus untuk Anjing Pavlov juga digunakan untuk manusia bahkan anak anak usia dini. Bentuknya sudah pasti yaitu formal SOP dan “check list” !

Prof Dr Muhammad Yasien, seorang pakar pskolog Muslim, penulis buku Fitrah, Islamic Human Nature, mengatakan bahwa konsep dan praktek behaviorisme berlawanan dengan konsep fitrah, karena berangkat dari keyakinan bahwa manusia lahir tanpa terinstal apapun (fitrah) dan meyakini bahwa manusia adalah hewan yang bisa dilatih patuh untuk menjadi apapun.

Padahal bagi manusia, cara cara shortcut behaviorisme begitu sangat tidak permanen dan menimbulkan dampak lain yang lebih buruk. Mengapa? Karena perbuatan atau perilaku didorong oleh motif eksternal (extrinsic motivation) bukan berangkat dari niat yang kuat. Islam dengan jelas menyebut “sesungguhnya amal itu karena niat”. Hampir semua bab awal Kitab klasik islam selalu ada bab Niat karena pentingnya niat. Dalam psikologi modern bab Niat ini disebut Intrinsic Motivation.

Ingatlah bahwa upaya pembiasaan akan berubah ketika ada pembiasaan baru yang lebih seru. “Mass Conditioning” dalam banyak kasus juga akan mengalami kejenuhan dan stagnan karena tidak alamiah. Begitupula Hukuman, akan membuat perilaku buruk kumat lagi jika hukuman tidak ada lagi. Sementara Reward adalah little punishment, yaitu anak merasa dihukum jika tidak mendapat hadiah. Sifatnya sama, anak akan berhenti melakukan kebaikan jika hadiah berhenti diberikan bahkan cenderung menjadi manipulatif atau “suka disuap”.

Misalnya seorang ayah yang keras menerapkan kedisplinan tanpa kesadaran pada anak anaknya, maka kedisplinan itu hanya akan berlangsung ketika sang ayah masih hidup dan akan segera ditinggalkan bersamaan dengan apabila sang ayah tutup usia.

Padahal Islam dengan jelas membedakan manusia dengan hewan. Islam menyatakan bahwa Allah memberikan Fitrah kepada manusia sebagai bawaan kebaikan (innate goodness), maka sejatinya perilaku akan membaik secara permanen jika orangtua atau pendidik jika bisa menumbuhkan “innate goodness” menjadi kesadaran.

Innate Goodness atau Fitrah ini perlu ditumbuhkan dari dalam (inside out), dengan menemukan antusias, gairah, cinta anak untuk melakukan sesuatu. Dalam banyak sekolah “fun learning” diterapkan dengan maksud agar anak suka melakukan sesuatu, namun sayangnya seringkali tidak pernah berempati mendalam, apakah memang anak suka apa yang guru rancang untuk fun? Tiap anak tentu berbeda dan unik mensikapi sebuah kegiatan.

Professor L Deci, menyebutkan bahwa agar manusia mau melakukan sesuatu maka dilakukan dengan menemukan “intrinsic motivation” dengan kesadaran bahwa pertama, manusia punya “Autonomy” yaitu kebebasan otonomi untuk memilih apa yang dia ingin lakukan karena manusia bukan benda atau hewan. Kedua, bahwa manusia mau melakukan sesuatu jika mereka “Competence” atau “mampu” melakukan dengan baik. Ketiga, bahwa manusia mau melakukan sesuatu jika mereka punya “Commitment” terhadap sesuatu.

Dalam pendidikan berbasis fitrah tentu berangkat dari keyakinan bahwa manusia punya kapasitas yang cukup bahkan berlimpah untuk menjadi baik dan berperilaku baik. Dengan syarat bahwa manusia mau melakukan sesuatu dengan permanen dan berangkat dari dalam (intrinsic motivation) jika

  1. Relevant dengan Fitrahnya baik satu aspek atau beberapa aspek fitrah, misalnya fitrah keimanan, jika ini tumbuh menjadi gairah dan kecintaan kepada Allah maka anak akan bersedia melakukan amal dengan antusias dan ikhlash. Misalnya fitrah bakat, tentu manusia akan mau melakukan sesuatu jika relevan dengan sifat uniknya atau aktifitas yang disukainya atau peran yang dijalaninya dengan bahagia.dsbnya
  2. Relations. Hubungan kelekatan dan kecintaan yang mendalam akan membuat manusia mau melakukan apapun. Banyak guru atau pendidik berfikir, jika SOP dan checklist sudah tersusun lalu anak akan mau menjalaninya. Barangkali mereka lupa, apakah dirinya sendiri mau melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh orang yamg tidak dicintainya atau tidak punya relasi yang kuat?
  3. Reason. Jika ada alasan yang sangat kuat dan diyakini sebagai sebuah misi penting maka manusia mau melakukannya sepanjang hidupnya. Umumnya manusia yang mampu menemukan “Why” atau mengapa mereka hadir di muka bumi, lalu apa misinya dstnya akan mau melakukan sesuatu dengan permanen bahkan sampai mati.

Jadi berhenti dan bertaubatlah untuk mengubah perilaku anak dengan cara shortcut yang nampak berhasil dalam waktu singkat namun tidak permamen dan merusak banyak aspek fitrah.

Dalam pameran pertanian di Jepang, ada sebuah pohon tomat dengan buah 20000 butir tanpa rekayasa teknologi apapun. Ternyata ditemukan melalui pengamatan pola bahwa akar tomat cocoknya di air bukan di tanah.

Maka bershabarlah dan bersyukurlah dalam mendidik fitrah bagai menjadi seorang petani yang harus telaten dan empati serta konsisten menemukan pola pola tumbuh tanamannya dan menumbuhkannya selaras dengan polanya (fitrahnya) itu. Jika ditemukan maka tanaman akan berbuah hebat. Temukan intrinsic motivation atau niat yang kuat dalam diri anak sehingga mereka beramal sepanjang hidupnya tanpa perlu ada kehadiran kita.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s