Ghiroh

Harry Santosa – Millenial Learning Center
November 6, 2016

Ada orangtua yang khawatir bahwa anak anaknya tak peka dan tidak memiliki ghiroh membela agamanya, tidak memiliki ghiroh terhadap kezhaliman, tidak memiliki ghiroh terhadap permasalahan Ummat dstnya. Lalu bertanya, bagaimana mendidik Ghiroh anaknya?
_______
Apa itu Ghiroh?

Ghiroh dalam bahasa Indonesia sering ditulis dengan Ghirah atau Gairah atau Antusias atau Semangat yang terkait dengan Kecintaan pada sesuatu. Menurut Almarhum Hamka, Ghirah artinya Cemburu terkait kehormatan dan kecintaan baik pada skala diri maupun skala agama. Seorang mukmin akan muncul ghirohnya atau cemburunya jika kehormatan dirinya, keluarganya, saudaranya, agamanya direndahkan, dihina, dilecehkan, dinistakan dstnya.

Ghiroh pada ghalibnya adalah fitrah manusia. Manusia pada fitrahnya menyukai ketuhanan, kebenaran, keadilan, kedamaian, kehormatan, keharmonian dstnya. Ghiroh ini tentunya memerlukan pengokohan, penguatan, penumbuhan dstnya melalui pendidikan yang relevan dengan fitrah manusia dan nilai nilai Kitabullah.

Mendidik Ghiroh

Mendidik Ghiroh anak sesungguhnya identik dengan mendidik aqidah atau Fitrah Keimanan dan beberapa aspek fitrah lainnya yang tidak bisa “gebyah uyah” tetapi memiliki tahapan dalam mendidik sejak usia 0-2 tahun, usia 3-6 tahun, usia 7-10 tahun, usia11-14 tahun dan di atas usia 15 tahun.

Golden Age bagi mendidik fitrah keimanan ada pada usia 0-6 tahun, berupa pengokohan Tauhid Rubbubiyatullah melalui imaji positif atau imaji yang berkesan indah dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan. Hati hati untuk tidak membangkitkan ghirah dengan kebencian, kemarahan, dendam dsbnya karena akan merusak fitrahnya yang baru merekah indah.

Usia 7-10 tahun penanamanTauhid Mulkiyatullah melalui penanaman berkesan yang melahirkan keyakinan bahwa Allahlah Zat Yang Maha Adil, Zat Pembuat Hukum, Zat yang harus diberi loyalitas tunggal. Jika fitrah keimanan pada tahap ini tumbuh baik maka anak akan muncul ghirahnya apabila ada yang mengganggu kelestarian, keharmonian dan keteraturan di Alam. Begitupula dalam sosialnya, mereka akan muncul ghirohnya bila ada aturan sosial yang tidak selaras dengan hukum Allah dalam skala terbatas..

Usia 11-14 tahun adalah penggemblengan Tauhid Uluhiyatullah melalui realita dan ujian kehidupan. Di atas usia 14 tahun, anak sudah bukan anak anak lagi, diharapkan Ghirohnya paripurna sejalan dengan level Tauhidnya. Selengkapnya, silahkan melihat framework pendidikan berbasis fitrah atau tulisan sebelumnya.

Banyak orang tua tentu ingin mendidik Ghiroh anak anaknya agar tumbuh paripurna namun seringkali ditemui bahwa Ghiroh para orangtua sendiri tidak berangkat dari fitrah keimanan yang tumbuh alamiah seperti tahapan di atas. Kesadaran ghiroh kita para orangtua umumnya lebih banyak dibentuk oleh “imaji negatif” pada musuh bukan “imaji kecintaan” pada kemuliaan Islam.

Karena kaum Muslimin selama ini sering mengalami penindasan, pelecehan dan peminggiran maka Ghiroh kita umumnya hasil dari pembiasaan masal kemarahan yang dipupuk setiap hari bukan hasil kesadaran yang tinggi karena kecintaan, kemuliaan dan kehormatan, sehingga pada tataran praktis lebih banyak kemarahan dan semangat pemusnahan. Tentu beda antara Cemburu karena cinta dan Cemburu karena benci.

Bukankah kita dilarang berperang karena kebencian tetapi diperintah berperang karena menegakkan martabat, kehormatan dan kemuliaan. Dalam peperangan yang bermartabat, kita dilarang merusak alam, menebang pohon kecuali untuk kebutuhan, memporak porandakan pertanian, menyiksa hewan dan manusia, menista wanita, orangtua dan anak anak. Itulah mengapa dalam Islam jika musuh cenderung untuk berdamai kita harus menerimanya walau beresiko “disiasati”.

Inilah Ghiroh yang beradab. Apapun yang terjadi, sesunguhnya kemuliaan, harga diri, martabat yang tinggi akan dikenang sepanjang zaman. Ini kita dapati dalam kisah perjalan hidup sayidina Ali RA dan banyak pahlawan Islam lainnya. Karenanya Ghiroh harus tetap beradab penuh hikmah, berakal sehat dan berjiwa tenang dalam resiko dan kondisi apapun.

Ghiroh Mendidik

Mendidik Ghiroh tanpa Ghiroh mendidik nampaknya tidak akan berhasil baik. Jika kita sendiri lebih cemas kekurangan harta atau karir daripada kekurangan kemauan dan kemampuan mendidik anak selaras fitrahnya, maka perlu dipertanyakan Ghiroh kita.

Jika kita lebih pandai menitip anak dan mencari sekolah favorit daripada mendidik anak dengan tangan sendiri dan memastikan fitrah dan adabnya tumbuh baik dan seimbang, maka apa yang disisakan ghiroh mendidik dalam diri kita.

Jika kita lebih khawatir anak anak kita tak berijasah dan tak bisa menjadi karyawan daripada khawatir anak kita tak bisa digembleng menjadi pemimpin dengan peran terbaik sesuai fitrahnya dengan adab mulia, maka ghiroh kita pada agama Allah barangkali perlu digugat.

Di sisi lain, Ghiroh yang tumbuh karena kebencian, perasaan tertindas, kesedihan, pesimis dll akan berbeda dengan Ghiroh yang tumbuh karena kecintaan, perasaan mulia dan bermartabat, optimis dll semua ini tentu akan diwariskan kepada anak anak kita. Maka silahkan check Ghiroh kita selama ini.

Semoga kita dimampukan Allah untuk menghadirkan generasi yang Allah cinta pada mereka dan merekapun cinta pada Allah, tegas pada kafir yang memerangi dan menyayangi sesama, berjihad di jalan Allah dan tidak takut orang orang yang mencela.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s