Harry Santosa – Millenial Learning Center
November 2, 2016

#fitrahestetika #fitrahkeindahan
Siapa sangka generasi pengganti adalah generasi cinta, yang Allah cinta pada mereka dan merekapun cinta kepada Allah. Mereka tegas pada kekufaran (kafir yang memerangi) dan mereka penuh kasih pada sesama generasi cinta (mukmin yang menaungi). Mereka berjiwa hero dan tidak gentar terhadap orang yang mencela.

Begitulah dinarasikan suatu generasi pengganti di sebuah ayat dalam Kitab Suci AlQuran ketika berbicara tentang suksesi peralihan generasi pada kondisi generasi sebelumnya ingkar (murtad) kepada Allah.

Cinta kepada Allah adalah wujud tertinggi dari apresiasi atas keindahan. Jiwa jiwa pahlawan (inner hero) dalam diri generasi peradaban anak anak kita akan bermunculan ketika mereka memiliki apresiasi mendalam pada keindahan, keharmonian dan kedamaian.
“Jika ingin anak pemberani, ajarkanlah Sastra”, begitu pesan seorang Sahabat Nabi SAW.

Lho mengapa sastra, mengapa bukan ajarkan senjata? Ternyata cinta mendalam kepada keindahan, keharmonian, kedamaian membuat seseorang mau membela dengan sepenuh jiwa jika keindahan, keharmonian, kedamaian itu diusik, diganggu apalagi dirusak. Mereka bahkan bersedia mati untuk itu.

Kita jumpai para Sahabat Nabi SAW sekelas negarawan seperti Umar bin Khattab RA atau sekelas panglima perang semisal Khalid bin Walid RA adalah para pencinta Sastra yang luarbiasa. Kitab kitab klasik Islam ditulis dalam keindahan sastra tingkat tinggi sebagai gambaran kehalusan budi dan keindahan tutur para penulisnya.

Kita bisa saksikan bahkan sepanjang sejarah, para pahlawan umumnya adalah orang yang sangat halus dan tinggi apresiasi sastranya. Sastra sesungguhnya hanyalah satu diantara ekspresi rasa keindahan manusia. Sepanjang sejarah Peradaban Islam, apresiasi keindahan diekspresikan juga dalam keindahan arsitektur, kaligrafi, ilustrasi buku, sejarah, sains, matematika, musik dan tari yang syar’i, dsbnya dengan makna yang mendalam dalam mengesakan Allah atau Tauhidullah.

Begitulah mengapa Allah instal fitrah keindahan atau fitrah estetika dalam diri setiap manusia, agar manusia mau dan mampu mengapresiasi keindahan sampai ke tingkat tertinggi yaitu Tauhidullah atau Kecintaan Totalitas kepada Zat Yang Maha Indah, Allah SWT.

Pada derajat terendah, apresiasi keindahan adalah kenikmatan indera semata yang nampak dari fisik atau materi. Jika pada masa anak anak fitrah keindahan tidak ditumbuhkan maka akan berhenti pada kenikmatan indera saja. Kita akan jumpai orang orang dewasa yang kering dari keindahan, hatinya kaku dan gersang, menikmati keindahan sebatas tontonan materi untuk sekedar hanya kepuasan syahwatinya. Para penggemar pornografi, tontonan hiburan semata dll adalah mereka yang fitrah keindahannya tidak tumbuh.

Pada derajat menengah, apresiasi keindahan akan adalah kenikmatan nalar dan imajinasi dibalik keindahan yang nampak dari materi. Penemuan pola keindahan dari ciptaan Allah di alam semesta kemudian disebut dengan Matematika dan Sains.

Sesungguhnya matematika dan sains adalah apresiasi keindahan atas keteraturan dan keharmonian ciptaan Allah SWT. Jika fitrah keindahan hanya tumbuh sampai sini maka muncul para filsuf, pemikir, pencipta karya keindahan yang sekuler.

Pada derajat tertinggi, apresiasi keindahan adalah kenikmatan Ruhiyah dibalik keindahan materi dan imaji. Pada derajat ini, manusia hanya melihat Allah dibalik semua keindahan. Allahlah pusat keindahan semesta.

Apresiasi keindahan tertinggi ini kemudian bukan hanya kenikmatan ruhiyah atau ruhani untuk pribadi namun juga melebar mekar dengan mengekspresikan keindahan dalam bingkai Tauhidullah, yaitu menularkan dan membangkitkan jiwa jiwa yang tertidur untuk kembali ke fitrah keindahannya untuk mencintai Robbnya yang Maha Indah, untuk mampu melihat keindahan sejati di balik keindahan inderawi materi.

Pribadi Da’i adalah pribadi welas asih penuh harmoni untuk menegakkan keharmonian dan kedamaian semesta. Misi mereka adalah membebaskan manusia dai kegelapan agama agama kepada cahaya Islam. Merekalah para penyala Cahaya Keindahan.

Maka didiklah, rawatlah dan tumbuhkanlah Fitrah Keindahan ini dalam diri anak anak kita sesuai tahapan usianya agar mereka memiliki ekspresi keindahan yang tertinggi kelak yaitu Tauhidullah. Agar mereka bangkit jiwa kepahlawanannya (inner hero) untuk mengharmonikan dunia.

Agar jiwa inovasi (inner innovator) yang membuat peradaban manusia lebih indah dan lebih bermakna dsbnya karena mengapresiasi tertinggi pada keindahan, keharmonian, kedamaian Ciptaan ilahi. Andai fitrah keindahan ini tumbuh paripurna maka anak anak kita akan menjadi Generasi Cinta sebagaimana digambarkan oleh alQuran.

Abad 21 adalah abad dimana kesadaran manusia di seantero dunia mulai menyadari pentingnya agar manusia menjadi “human being” sesuai fitrahnya. Serahkanlah perhitungan yang rumit pada super komputer, biarlah manusia kembali kepada pemaknaan hidup dan kembali kepada fitrah dan perannya untuk membuat peradaban menjadi lebih indah, lebih harmoni dan lebih damai.

Bukanlah sebuah kebetulan apabila generasi anak anak kita, yaitu kelahiran tahun 2000an (generasi Z) adalah generasi yang amat menyukai keindahan, menyukai desain atau perancangan, gemar bermpati dan peduli, penuh cinta dan harmoni, menyukai karya seni dstnya. Apakah mereka adalah generasi yang dijanjikan Allah sebagaimana ayat berikut?
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu generasi yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersifat lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”(QS 5 Al Ma-idah ayat 054)

Secara umum, mendidik fitrah estetika adalah mengikuti fitrah perkembangan anak. Pada fitrahnya setiap anak menyukai keindahan, keharmonian, kedamaian. Fitrah ini hanya perlu diaktifasi, dikokohkan dan ditumbuhkan (inside out) dengan apresiasi dan emphaty sehingga mencapai peran memperindah, mengharmonikan dan mendamaikan peradaban dengan adab mulia.

0-2 fitrah keindahan ini dibangkitkan dengan dengan kelekatan pada ibunya. Ekspresi wajah, kedamaian, bahasa ibu yang indah dstnya.

3-6 anak sedang puncak imaji dan abtraksinya. Imajikan positif dan indah semua hal, ttg Allah, Orangtua, Alam dstnya. Bacakan buku atau kisahkan kisah yang bersastra cukup baik. Sertakan fitrah keindahan dalam menumbuhkan fitrah keimanan. Ceritakan ke Maha Indahan Allah, keindahan syurga, keindahan akhlak Rasulullah SAW dstnya. Psikomotorik dan sensomotorik sedang berkembang baik, maka perkuat fitrah keindahannya melalui Penalaman inderawi dan muscle memory di alam.

7-10 anak sangat argumentatif, fitrah belajar berada pada puncaknya, kemampuan berfikir meningkat, sosialitas menguat, sosok ayah atau ibu mulai menjadi figur dll. Naikkan level fitrah keindahan pada keindahan bernalar atas obyek belajar atau obyek di alam. Belajar sains pada tahap ini adalah mengenal pola keteraturan ciptaan Allah di alam semesta.

11-14 tahun, Ini tahap pencarian dan pengembangan jatidiri atau peran. Fitrah keindahan bisa dikembangkan bersamaan fitrah bakat. Anak yang mengenal dirinya dengan baik akan mengenal Tuhannya dengan baik. Level fitrah keindahan meningkat menjadi kemampuan menikmati sesuatu dari sisi ruhani atau ruhiyah. Perasaan syukur dan puas menjalani peran atas fitrah bakatnya akan membawanya pada apresiasi keindahan ruhiyah

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s