Wicak Amadeo

October 28, 2016

Anak-anak yang bahagia
yang sedang menuliskan kisah hidupnya
yang sedang melukiskan indahnya alam semesta dalam jiwanya
Ruang belajarnya seluas alam semesta
Gurunya adalah pengalaman dalam kehidupan nyata
Ujiannya untuk meyakinkan diri tentang ke-Maha-Kuasa-an Sang Pencipta Alam Semesta

.

Sekolah yang Mendidik Hati

Di sekolah itu, hadir dan berkumpul siapapun yang punya hati. Murid-muridnya tak pernah diseleksi, karena yang diseleksi adalah para ayahbunda mereka : ayahbunda yang peduli pada pendidikan buah hatinya. Mereka “hanya” punya alam. Yang dibutuhkan adalah hati. Alam hanya bisa dinikmati dengan hati. Alam berdialog kepada hati.

Alam itu feminin. Ia berbicara setiap hari pada manusia dalam bahasa hati, karena hanya bahasa itulah yang telah Allah ajarkan kepada alam untuk berbicara pada manusia (QS Al-Zalzalah : 4-5). Jika kita tak kunjung mengerti cerita alam, mungkin karena kita telah terlalu lama berlogika.

Lalu mengapa harus hati?

Kesadaran itu bermula dari hati. Sedangkan niat adalah produk dari hati, lalu ia perintahkan otak untuk menggerakkan tubuh. Mungkin kita telah lama lupa. Kesadaran bukan lahir dari pikiran. Niat tidak lahir dari otak. Otak hanya melahirkan ide, bukan gairah. Pikiran hanya melahirkan konsep, bukan niat. Logika hanya melahirkan metode, bukan kesadaran. Padahal, amal adalah buah dari gairah, kesadaran dan niat. Sementara ide, konsep dan metode hanyalah perangkat-perangkat untuk beramal. Di sekolah itu sepenuhnya disadari bahwa keshalehan lahir dari hati yang membuahkan gairah, niat dan kesadaran, sedangkan otak, logika dan argumentasi hanyalah instrumen keshalehan.

Para guru di sekolah itu boleh jadi bukan orang-orang sangat cerdas, tetapi kumpulan orang-orang yang punya hati, cinta, ketulusan dan keikhlasan. Mereka sadar, intelektualitas bisa dibentuk dengan ilmu, profesionalitas bisa dibentuk dengan kompetensi, namun spiritualitas hanya bisa ditularkan oleh cinta dan ketulusan. Di sekolah itu tak akan banyak disaksikan debat argumentatif, tetapi kaya dengan kisah-kisah menyentuh. Di sekolah itu tak akan banyak terdengar alasan-alasan “mengapa begini dan begitu ?” Yang ada adalah peran-peran yang dimainkan dan dihayati. Di sekolah itu, senyum dan airmata lebih banyak berbicara daripada logika dan kata-kata, karena senyum dan airmata mampu melembutkan jiwa.

Saatnya anak-anak kita hidup di sekolah seperti itu, jika yang kita inginkan adalah pembentukan generasi bertaqwa. Karena taqwa itu ada di dalam dada (AlHadits).

Anak-anak di sekolah itu memang sering kalah dalam lomba cepat tepat, sering kalah dalam olimpiade sains, sering kalah dalam berbagai macam kompetisi.

Tetapi, anak-anak sekolah itu sangat hebat dalam lomba merancang dan mendesain serta mengimplementasikan proyek bersama. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan Sale Day, Market Day dan Bazaar di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan penelitian untuk Science Fair di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka berkolaborasi dengan teman-teman dan fasilitator menyiapkan karya pustaka bersama untuk Pekan Literasi. Mereka hebat dalam karya, bukan sekadar nilai angka dalam raport semata.

Anak-anak di sekolah itu tidak perlu belajar serius hanya untuk mengejar nilai akademik. Yang dibutuhkan dan diajarkan adalah tentang curiosity atau rasa ingin tahu, tentang tradisi belajar dengan logika berpikir ilmiah sehingga tanpa sadar membawanya pada fast learning dan high order of thinking.

Sebelum belajar, mereka berdoa bersama, melantunkan ayat-ayat suci dari kitab suci, bahkan menunaikan ibadah pagi.

Lalu mereka belajar dan bermain dengan kambing, belajar dan bermain dengan kelinci, belajar dan bermain dengan ayam di kandang, belajar dan bermain dengan ikan di kolam.

Mereka tampak bahagia menyusuri jejak jalanan setapak sambil menghirup udara pagi yang segar serta menikmati indahnya alam serta flora dan fauna ciptaan Sang Maha Pencipta, mencari harta karun barang bekas, memanjat atap sekolah, memancing ikan, mengerjakan tugas di pinggir danau atau di dahan pepohonan, melatih keberanian dan kepercayaan diri dengan meniti two-line bridge atau bamboo bridge bahkan meluncur dengan flying fox.

Mereka belajar tidak dengan buku tulis dan bukan hanya dengan buku cetak. Mereka juga berselancar di internet dan perpustakaan.

Mereka kerap menggunakan kertas setengah pakai dari perpustakaan serta terlibat diskusi yang mengasyikkan.

Mereka tampak bahagia walaupun ada yang menghina kelas mereka sama sederhananya dengan “kandang kambing”. Mereka bisa merasakan langsung hembusan angin dan menyaksikan dahan dan daun pepohonan melambai-lambai tertiup angin.

Tas sekolah mereka besar-besar. Isinya bukan buku, tetapi baju ayah untuk berkebun, jas hujan, baju ganti, termos minuman dan kotak makanan, serta sepatu boots.

Mereka berlibur tidak dengan bis mewah dan menginap di hotel mewah. Mereka berlibur dengan menjelajahi hutan, mengenali tanaman dan tumbuhan yang bisa dimakan, mempraktikkan memasak bersama di hutan dengan bahan-bahan alam yang ada di sekitar hutan (jungle cooking).

Mereka berlibur dengan menyusuri pantai, mendatangi mercu suar, menyelam di sekitar pantai (snorkeling), dan menangkap ikan untuk disantap sebagai ikan bakar. Lihatlah wajah bahagia mereka saat merasakan pengalaman ekspedisi ke kawasan konservasi, mencari jejak badak, biawak, ular, babi hutan dan fauna dilindungi lainnya. Lihatlah mata mereka yang berbinar saat menyusuri sungai dengan berkano diiringi kicauan burung serta suara kodok dan jangkrik serta alunan lagu hutan para satwa. Lihatlah ekspresi wajah mereka saat kaki mereka ditempeli lintah dengan baju basah saat menginap di hutan dan tidur di dalam tenda.

Mereka berlibur dengan mendaki bukit dan gunung, menyusuri jejak para petualang di pegunungan, menikmati udara dan angin di ketinggian pegunungan, menikmati waktu dan merenungi langkah-langkah yang dituju, memercikkan air danau dan mensyukuri kesegarannya anugerah Sang Pencipta.

Mereka berlibur dengan tinggal bersama penduduk di kawasan dengan pesona kesederhanaan dalam kehidupannya. Mereka dengan wajah ceria turun ke sawah, memandikan kambing, memerah sapi, menebarkan pakan ayam dan bebek, meniti jembatan kayu sempit agar lebih dekat dengan ikan saat menebar pakan ikan, menyimpan sepatu dan meniti pematang mengangkut hasil bumi, menikmati hiruk pikuk pasar tradisional sambil membantu menjualkan hasil bumi. Pesona kesederhahaan ini membuat mereka merasakan lebih dekat dengan Sang Sumber Kehidupan Yang Maha Menghidupi. Menguatkan keyakinan bahwa sebagai manusia selalu dicurahi Kasih dan Sayang-Nya tak terhingga.

Wahai AyahBunda,

Anak-anak itu bahagia. Jika AyahBunda justru “miris” dengan segudang pengalaman mereka, cobalah buka hati dan pikiran lebih lebar, bukan hanya mudah buka dompet untuk mereka. InsyaAllah, dari mereka inilah, akan lahir pemimpin yang tidak elitis, yang sejak kecil terbiasa menghargai alam, menghargai sekolahnya bukan karena kemewahan gedungnya dan bukan karena licinnya seragam, tetapi pesona kebersamaan dan pesona miniatur kehidupannya. Memuliakan teman-teman sesama karena kebaikan akhlaknya bukan karena rankingnya. Mereka terbiasa mencintai sekolahnya, bahkan hingga sampai suatu masa kemudian, bersama teman-temannya, mengenang masa-masa indah di sekolah kehidupan yang membuat mereka merasa “benar-benar diterima” sebagai manusia seutuhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s