Peradaban sebuah Bangsa

Wicak Amadeo

Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (ulama, ustadz, habaib)

Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.

Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?

Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah. Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

https://youtu.be/IESYMFtLIis

.

RENUNGAN

Sekitar seabad yang lalu, sebagian dari kakek buyut kita ada yang menjadi Kyai, yang memimpin pesantren di desa. Seperti kebanyakan pesantren pada masa itu (surau, dayah, meunasah, rangkang dsb ), tidak pernah memungut bayaran dari santri, karena baik Kyai, Guru, Santri, warga secara bersama mengelola COMMUNITY BUSINESS berbasis sumberdaya lokal untuk kebutuhan bersama. Kyai dan guru adalah keteladanan “berjalan”, dari merekalah para Santri dan Warga meneladani akhlak dan ilmu kehidupan seperti bertani, berkebun, beternak, sampai pertukangan dan bangunan termasuk menjahit dan mencukur.

Anak-anak dari generasi Kakek buyut ini, yaitu kakek dan nenek kita, mulai mengenal persekolahan Belanda. Persekolahan yang mengubah orientasi kemandirian di desa menjadi harapan dan mimpi-mimpi sejahtera kerja di perkotaan sebagai administratur maupun insinyur. Sebagian besar dari mereka kemudian hijrah ke kota besar. Umumnya, generasi kakek masih mampu membeli sebidang tanah cukup luas di tengah kota. Kakek menjadi pegawai pemerintah yang mengabdi sampai pensiun. Kota kala itu masih lumayan hijau dan tidak padat.

Anak-anak kakek dan nenek, yaitu paman, bibi dan ayah ibu, menjalani persekolahan nasional sampai SMA dan sebagian sampai Diploma atau Sarjana. Kebanyakan mereka bekerja di lembaga atau perusahaan milik negara. Mereka jelas hanya mampu membeli tanah di ujung selatan Kota atau ujung timur atau ujung barat. Kota sudah mulai ramai oleh para urban yang berharap hidup lebih menjanjikan.

Lahirlah generasi kita, generasi ketiga para urban di kota ini. Kita tentu saja, seperti kebanyakan generasi seangkatan, sepenuhnya bersekolah dalam sistem persekolahan nasional setinggi-tinggi yang bisa dicapai. Pembangunan yang pesat di perkotaan membuat residu munculnya sub-urban, para urban yang mengisi kampung-kampung kumuh di Kota yang semakin kusut dan semrawut. Mall tumbuh subur dan menjadi tempat rekreasi warga kota. Generasi kita seangkatan tentunya hanya mampu membeli rumah dengan kepemilikan kurang dari 200m2 di daerah pinggiran kota-kota satelit sekitar kota besar dan harus mencapai kantor lebih dari 1 jam. Pada masa ini, infonya bahwa pesantren sudah sepi dan kosong dari santrinya. Desa semakin sepi dengan lahan menganggur dan kota semakin padat dengan lahan diperebutkan.

Andai kondisi ini terus terjadi, andai sistem persekolahan terus menggerus orang untuk urban dan tidak mampu hidup kecuali menjadi kuli di kota dengan tempat tinggal yang makin jauh ke pinggir luar kota, maka cobalah kita renungkan, bagaimana nasib dan masa depan anak-anak dan cucu kita? Bagaimana terjalin harmonisasi kehidupan dalam lahan-lahan sempit dan komunitas yang sibuk mengais rejeki jauh dari rumah, pergi di gelap pagi dan pulang di gelap malam? Bagaimana akhlak dan kemandirian bisa tumbuh subur dalam dunia yang serba semrawut dan tergantung karena pertumbuhan yang tidak masuk akal akibat orientasi urban yang ditanamkan persekolahan?

Memang yang paling penting kita khawatirkan adalah aqidah keimanan anak cucu kita, tetapi apakah aqidah dan keimanan anak cucu kita bisa terjamin dalam kondisi generasi yang lemah dan tergantung serta tidak mandiri seperti ini? Bukankah kita diminta untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita?

Mari kita kembalikan pendidikan anak-anak kita kepada pendidikan sejati, yaitu pendidikan yang bukan berorientasi pada pemusatan dan individualisme serta ketergantungan, tetapi pendidikan yang berorientasi pada pemberdayaan desa, penguatan komunitas serta kemandirian sebagaimana pendidikan tempo dahulu telah dicontohkan kakek buyut kita.

Jared Diamond: Why societies collapse

http://www.ted.com Why do societies fail? With lessons from the Norse of Iron Age Greenland, deforested Easter Island and present-day Montana,…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s