October 30 ·

Jusman Syafii Djamal

Saya sering rindu warung kopi ditempat saya lahir. Di Aceh warung kopi merupakan “kampus” atau universitas terbuka, tempat kita belajar ilmu hidup kata orang medan. Pembicaraan di warung kopi selalu berganti topik dari soal gosip beli baju baru hingga soal siapa dan bagaimana pergantian sekretaris PBB, tak jarang menyentuh top news Seperti Bob Dylan yang dapat Nobel dan debat Hillary Clinton dan Trump soal lapangan kerja dan tembok anti imigrant.

Karenanya saya sering ajak anak anak saya kalau libur minum kopi bersama di warung yang kita pilih. Saya ingin mereka bisa menangkap atmosphere wilayah sekitar dari kunjungan ke warung kopi dan rumah makan kecil yang ada.

Selain itu mereka ingin saya kenalkan tentang kelezatan kopi Mandhailing, Kopi Lanang dari Bali, Koi Gayo dan Ulekareng serta kopi Pengalengan yang kin disebut kopi terenak didunia.Ilmu kopi saya lebih meningkat ketika sering berkumpul dengan sesama penggemar kopi teman teman satu angkatan di ITB, Fortuga.

Akan tetapi anak anak saya belum begitu suka kopi. Mereka lebih memilih minuman juice ataupun teh. Katanya biar lebih sehat. Dari pilihan makanan dan minuman kami sering berbeda. Karenanya saya harus belajar lebih keras untuk dapat memahami jalan fikiran generasi anak anak saya.

Kita sering berdiskusi dan berdebat tentang segala hal sambil minum kopi atau ketika di meja makan atau ketika sedang bepergian bersama. Mereka lahir tahun 80-90 an. Ada jarak 20-30 tahun dengan saya.

Generasi anak saya masuk kategori millennium. Lahir ketika abad 20 sedang berganti jadi 21. Dulu jelang Tahun 2000 an ada warning semua komputer akan nge-hang tak berfungsi karena “clock” nya berhenti berdetak. Generasi Y. Generasi abad digital. Saya analog.

Berdiskusi dan berbicara dengan generasi ini amatlah menarik. Bikin kita hidup lebih panjang. Insya Allah jika diijinkan. Akan tetapi dalam setiap diskusi selalu ada ketemu jalan buntu. Ada yang tak nyambung dalam fikiran. Saya menyebutnya sebagai “pengaruh generation gap”. Daya imajinasi mereka sedang berkembang dan tumbuh penuh harapan. Sedang saya pengalaman yang banyak dan penuh dengan “mistakes and failure” menyebabkan ada keengganan untuk mendorong lahirnya jalan baru menuju masa depan. Mungkin ini yang disebut “establishment mentality” atau status quo. Membeku dalam masa lalu.

Karenanya kesimpulan mereka ketika diskusi selalu menarik. Anak anak saya pasti ada kata kata yang bilang begini :’ayah ini gimana sih, kok ngga nyambung. Fikiran ayah seperti kisah novel “game of throne” . kita bisa ngerti tapi rasanya sudah kuno dan tinggal jadi bacaan tidur”.

Saya hanya bisa ketawa : Ha ha, what can I say.

Makin sering diskusi makin saya sadar bahwa zaman berubah. Yang dulu perang pake bambu runcing kini sudah pakai lomba missile. Generasi anak anak saya kini berada dalam dunianya, saya harus mencoba menyesuaikan diri agar keselarasan terus terbangun. Mungkin ini yang disebut dengan arti kesabaran.

“Generasi muda yang lebih junior tigapuluh atau dua puluh tahun dari saya sekarang menjadi penghuni sebagian besar wilayah dunia. Mereka yang berusia di bawah tiga puluh, sekarang jadi sebagian besar penduduk dunia.

Mereka tidak pernah mengalami kehidupan sebelum globalisasi. Peristiwa Runtuhnya tembok Berlin, akhir perang dingin, krisis ekonomi Asia dan Reformasi 98 di Indonesia atau Peristiwa 9/11 atau dikenal dengan September 2011mereka masih berusia 10-15 tahun. Masih sekolah Dasar. dan Menengah Pertama Daya abstraksi nya masih terbatas.

Pemahaman mereka tentang makna Negara, Nasionalisme dan Pertumbuhan Ekonomi sannat dipengaruhi oleh proses globalisasi dan ketergantungan antar negara dalam perdagangan dunia yang cenderung lebih liberal dan pasar bebas. Pandangan mereka tentang makna Connectivity, Competition, Cooperation, Crisis berjalin kelindan dengan Global Shift yang mereka alami sendiri.

Kemajuan teknologi menyebabkan identitas generasi ini lebih diwarnai oleh pengaruh kesamaan pandangan sebagai satu generasi yang menembus batas batas negara ketimbang pengaruh kepentingan geografi.

Ada perubahan pandangan geopolitik dan geoekonomi dalam dunia fikiran mereka.Henry Kissinger sebelum memulai karir diplomatiknya pernah menulis begini : “Setiap generasi biasanya hanya diperbolehkan memiliki satu upaya abstraksi; mereka dapat mencoba hanya satu interpretasi dan satu percobaan tunggal sebagai pengalaman batin yang membentuk dunia fikiran mereka sendiri. Persfektip mereka biasanya tunduk pada platform yang terbentuk sendiri dari pengalaman batin yang tunggal itu. ”

Karenanya Machiavelli berpendapat bahwa perubahan tidak memiliki konstituen. Akan tetapi kelihatannya pendapat begitu tidak dapat diterapkan untuk Generasi Y. Sebab mereka memiliki ketidaksabaran yang bergelora, untuk menciptakan dunia baru yang berbeda dengan sebelumnya.

“People under thirty, who are now most of the world’s population, never experienced life before globalization. 9/11 is their defining moment—and interdependence is their lesson from it. Thanks to technology, generational identity—more than geography—shapes their worldview.

Years before Henry Kissinger began his diplomatic career, he wrote, “Each generation is permitted only one effort of abstraction; it can attempt only one interpretation and a single experiment, for it is its own subject.” Machiavelli argued that change has no constituency. Today it does. For Generation Y, impatience is a virtue. ”

Begitu kata Parag Khanna dalam bukunya “How to Run the World.”

Apa yang beda, bagaimana bedanya dan kemana jalan dituju meski masih kabur, mereka terus melangkah. Bagi generasi muda saat ini mereka ingin serba cepat dan serba instant. Jika perlu tiap hari ada perubahan.

Kualitas rasa emphaty terhadap penderitaan juga berbeda. A Quality of Mercy yang mereka miliki seolah cepat berganti topik sebab arus berita mainstream dan social media telah menyebabkan mereka terus menerus menghadapi perubahan peristiwa.

Detik ini mereka menyaksikan penderitaan banjir di Garut, belum selesai muncul banjir di Bandung, belum beres ada tayangan tentang sebuah kota yang hancur berkeping keping dilanda perang Suriah yakni Aleppo. Belum kering air mata muncul masalah banjir pengungsi dan perang di Mosul diselang selingi oleh badai angin topan yang melanda Philipina dan Haiti atau Amerika dan China.

Sepertinya Kata Change itu sendiri sepertinya bagi generasi muda saat ini adalah suatu kebajikan. ”

Berinteraksi dengan mereka saya jadi ingat lagi buku lama yng saya beli tahun 2000 an ketika ada di Airport Schipool, transit. Judulnya “The Great Disruption”. Francis Fukuyama. Yang mendorong kita untuk berfikir tentang “Human Nature and The Reconstruction of Social Order”. Fikiran tentang Social Capital dan Trust Society.

Berdialog dengan generasi Y memang diperlukan. Paling tidak agar membuat fikiran tidak membeku jadi es batu dalam kepala. Fikiran tentang hebat zaman dulu ketika masih muda seusia mereka bisa menyebabkan saya jadi seperti “lonely wolf”, atau ‘the last man” di perjalanan bersama generasi anak anak saya.

Bisa saja tanpa dialog Saya tak bisa berubah mindset dan beradaptasi pada gerak perubahan zaman. Saya hawatir jika tenggelam dalam persfektip masa lalu yang kadaluarsa, akan lahir ilusi bahwa hari ini adalah The end of history dan saya seolah jadi the last man.

Padahal kata sebuah hadist meski besok kita tau hari akan kiamat, ada kewajiban untuk kita menanam satu pohon. Mungkin pesan hadist ini salah satunya adalah ketika kita berada diujung jalan, jangan lupa berdialog dan menyelami alam fikiran generasi muda.

Apakah benar begitu ? Orang yang dua puluh tahun lebih tua mesti jauh belajar banyak tentang generasi masa kini.

Tapi ini pengalaman berinteraksi pribadi. Mungkin teman fb lain tidak mengalami. Saya share untuk mengisi catatan di hari Minggu, dimana semua orang seolah sedang menginginkan ada pilkada serentak diseluruh Indonesia yang berjalan tertib, aman dan damai.Tidak mudah tetapi Insya Allah dapat terwujut dengan kerja keras dan saling pengertian.

Membangun “trust society” tidaklah sederhana. Di ITB disebut dengan motto “In Harmonia Progressio”, Harmony hanya tercipta dalam kemajuan gerak langkah. Karenanya perlu imajinasi, vision dan kerja keras tak kenal henti. Sebab tanpa progress , tanpa kemajuan yang dirasakan fair oleh semua pihak; didalam inequality, pada kesenjangan sosial kata keselarasan kadangkala menemukan batu krikil.

Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s