Jusman Syafii Djamal
October 27, 2016

Dalam era Big Data dan Cloud Computing yang ditandai oleh ramainya kegiatan online dan “chit chat” melalui WA pelbagai group saya menemukan hal menarik :”aktivitas copy paste berjalan jauh lebih cepat dibanding dengan proses dialog dan olah fikir”.

Akibatnya meski saya dimasukkan dalam puluhan grup WA yang padat dan intens — disebut begitu karena kalau lupa membuka satu hari bisa ada 2000 posting menanti untuk dibaca– isi unggahan biasanya satu jenis. Mono kultur. Tak ada dialog yang melahirkan proses silih asah, silih asuh dan silih asih.

Dialektika thesa – antithesa – sinthesa. Isi pelbagai grup WA seolah berubah menjadi monolog rangkap copy paste seperti mesin. Viral berkembang seperti virus. Tak dapat dibendung. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak kata pepatah.

Mudah mudahan itu hanya pengalaman pribadi. Tetapi pengalaman ber WA ini mengingatkan saya ketika saya bekerja bersama dengan Prof Budiono — WaPres — ditahun 2007 -2009. Ketika itu Prof Budiono menjadi Menko Perekonomian dan saya MenHub berada dibawah koordinasinya.

Berada dalam satu grup pengolah kebijakan publik dengan beliau amatlah menarik. Tatacara beliau memancing proses kreatif diantara para Menteri yang ada dalam ruang kordinasinya juga menyenangkan. Tidak terjadi proses monolog rangkap. Selalu ada dialog.

Beliau mengistilahkan bahwa setiap pekerjaan besar selalu merupakan hasil kumulatif sumbangan fikiran banyak orang. Cara kerja beliau mirip seperti ketika saya bekerja sebagai assisten utama Prof BJ Habibie merancang bangun pesawat terbang yang bersifat teknis dan mikro di IPTN tahun 1989-1996.

Airplane Design atau proses perancangan pesawat terbang adalah buah fikiran dari proses dialog tak kenal henti dari pelbagai bidang keahlian. Tak mungkin ada satu orang mampu menguasai semua bidang ilmu pengetahuan dan teknologi . Sementara pesawat terbang adalah hasil dari proses optimisasi rancang bangun struktur ringan – material science – aircraft systems – aerodynamics -guidance and controls dan Program Management serta Decision Science.

Prof Budiono dalam hal ini mengetengahkan pendekatan “scenario based planning”. Menurut beliau strategi ekonomi dalam batas batas tertentu dapat dianalogikan dengan pembuatan sinetron atau performing art. Ada penulis skenario, ada juru kamera, ada producer, ada sutradara, ada penata lagu , juru rias dan aktor dan aktris nya.

Yang utama dan pertama fokus nya adalah bagaimana script terwujut menjadi drama dan enak ditonton dan dinikmati maknanya. Yang penting dan utama lakon dimainkan sebaik baiknya seuai Tupoksi.

Tiap orang , tiap actor, tiap kewenangan memiliki batas gerak majunya.
Beliau mencontohkan dua pendekatan sinetron untuk memudahkan kita membuat rencana dan roadmap serta mengelola tupoksi yang ada.

Pertama beliau menyebutnya dengan Srimulat Style of Scenario based planning.
Dalam cara pendekatan ini para pemain hanya difokuskan pada garis besar peranan masing masing dan script yang bersifat makro. Bagaimana implementasi dilapangan diserahkan pada keahlian dan kejeniusan masing masing. Beliau menyebutnya sebagai pendekatan “Macro Economy”.

Kedua beliau menyebutnya sebagai gaya pendekatan “Broadway”. Dlam pendekatan ini ada “script tertulis untuk setiap babak dan skenario yang harus diikuti kata demi kata oleh para pemain.

Macro Economy tak boleh mengabaikan Micro economy. Tiap pelaku ekonomi dibimbing oleh sebuah roadmap global, akan tetapi setiap langkah tahap demi tahap dipandu oleh insentif fiskal dan moneter yang terbatas gerak majunya.
Pendekatan mana yang baik , Prof Budiono ketika itu menyerahkan inisitiatipnya pada para Menteri yang dibawah kordinasinya. Akibatnya bekerja bersama beliau mirip seperti bekerja dalam suasana kampus, ada kolegialitas dan ada proses belajar mengajar tanpa terasa.

Pengalaman yang sedikit ini memberikan saya sebuah “lesson learned” menarik bahwa bagaimanapun sulitnya situasi kita tak boleh kehilangan kejernihan fikiran untuk terus menerus mengasah proses olah fikir.

Jangan biarkan ada ekosistem yang terbangun secara seragam, sehingga lahir budaya monokultur fikiran dan copy paste.

Pendekatan monokultur dalam budidaya perkebunan kini sudah terjadi, lihat saja jalan dari Medan menuju kota Langsa. Sepanjang jalan yang ada hanya pohon kelapa sawit. Tanaman lain seperti pohon durian, mangga dan rambutan serta karet dan tembakau seolah sirna

Dan jika kita berbincang dgn orang tua penduduk lokal yang muncul adalah masalah air sumur yang kering. Water scarcity , kelangkaan sumber air bersih menjadi kendala . Tak mudah lagi mendapatkan air sumur yang jernih warnanya dan rasanya terasa manis menyegarkan.

Diperlukan proses dialog terus menerus agar masalah “macro economy” dapat dikombinasikan dengan pendekatan “micro”. Yang rinci melengkapi yang global. Terlalu fokus pada mikro akan menyebabkan kita kehilangan orientasi. Terlalu makro akan menyebabkan banyak program tak terwujut jadi kenyataan.

Akan tetapi yang jelas satu, baik Pendekatan Makro ala Srimulat maupun pendekatan Mikro ala Broadway memerlukan keahlian luar biasa. Coba lihat aksi Kirun, Tarzan dkk selalu ada originalitas dan kejeniusan ditiap skenario yang dimainkan.

Menurt hemat saya Indonesia memerlukan ahli “macro economy” sekaligus “micro economy” yang saling berinteraksi dan bekerja sama membangun sinergi, agar tercipta ecosystem yang melahirkan inovatif, efisien dan produktip.

Tak ada kemajuan pertumbuhan ekonomi dapat terjadi tanpa Revitalisasi dan Modernisasi Industri untuk penciptaan lapangan kerja dan sebaliknya. Seperti pidato pengukuhan Guru Besar Ekonomi Prof Widjojo Nitisastro, 10 Agustus 1963 ada pesan menarik yang menurut saya perlu diketengahkan untuk dievaluasi relavan tidaknya ketika terus menerus melihat paket paket dergulasi ekonomi yang dimunculkan saat ini :”
“jika Indonesia hendak keluar dari kemiskinan diperlukan perencanaan dan pembuatan kebijakan ekonomi yang mengutamakan efisiensi , rasional, konsistensi dan pemilihan yang tepat dari bermacam macam alternatif, dimana harga memegang peranan yang menentukan ”

Paket ekonomi yang terus muncul perlu juga diikuti oleh langkah sistimatis agar harga harga barang tidak dilepas sepenuhnya pada mekanisme pasar. Macro Economy memerlukan Micro economy.

Apa benar begitu, Mohon Maaf jika keliru.
Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s