Ketika gigi tinggal dua (Seri Fatherman Bag. 12)

Oleh : Bendri Jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Inilah masa yang mencemaskan sekaligus menyeramkan bagi sebagian orang. Ketika tubuh sudah mulai ringkih. Berjalan laksana senam poco-poco. Maju selangkah, tarik nafas tiga hisapan udara, baru melangkah sekali lagi. Suara batuk pun sudah seperti hobi nyanyi. Disenandungkan setiap hari. Ditambah lagi penyakit diabetes yang tidak kompromi hingga memaksa bolak balik ke dapur. Untuk cek gula, maksudnya. Yah, di saat menua kesehatan fisik sudah tak lagi prima. Tulang-tulang sudah keropos. Gigi di mulut juga mulai ikut-ikutan program KB. Cukup dua saja. Ini masih mending. Sebagian orang malah sudah berubah menjadi manusia matic. Alias tanpa gigi.

Dalam situasi tersebut, ketika fisik sudah tak bisa lagi dihandalkan dan mulai sakit-sakitan, jiwa makin menagih untuk dihibur. Dan tak ada hiburan yang lebih indah bagi orang yang sudah lanjut usia selain perhatian dari anak-anak tercinta yang telah tumbuh dewasa. Dan di saat tua inilah masa bagi para ayah sang fatherman memetik hasil dari tanaman ‘pengasuhan’nya yakni buah hati yang dikasihi.

Sungguh beruntung para ayah yang rela berlelah-lelah dalam mengasuh anaknya sedari usia dini. Hingga akhirnya menuai hasil panennya di saat tua. Berbekal kostum Fatherman yang menjadi kostum abadi, yakni topi pengasuh, ayah terus berperan menjadi pahlawan bagi anak sepanjang usia. Tak pernah bosan hingga anak beranjak dewasa. Buahnya, Insya Allah anak secara sadar dan sukarela membalas kebaikan sang ayah dalam wujud bakti dan perhatian yang tulus. Hal ini guna meminimalisir kebiasaan ayah yang kerap mampir ke minimarket setiap pagi. Bukan sekedar belanja. Karena ayah di saat tua butuh perhatian dan ingin disapa. Dan penjaga minimarket memenuhi kebutuhannya, “Selamat Pagi, Pak! Ada yang bisa dibantu?”. Anak yang berbakti menyadari kebutuhan ayah akan hal ini. Selalu menyapa kabar ayah setiap hari meski tak lagi serumah. Memberi perhatian kepada ayah di sisa usia. Ya, inilah buah dari pengasuhan yang diperoleh ayah yang serius mengasuh bahkan sebelum anak tersebut lahir ke dunia.

Boleh disimpulkan bahwa mengasuh anak ibarat bertani. Takkan mungkin menuai hasil yang memuaskan jika tak menggarapnya dengan kesungguhan, ketekunan dan kesabaran. Tiga hal tersebut adalah energi yang dihasilkan saat sang Fatherman memakai kostum topi pengasuh.

Kesungguhan ditandai dengan upaya ayah untuk terus belajar memperbaiki kualitas diri. Memahami tumbuh kembang anaknya. Tahu apa yang dilakukan setiap tahapan usia. Kesungguhan ayah ini dibuktikan dengan bersemangatnya ayah hadir di setiap seminar parenting. Bukan untuk buka bazaar atau cari downline MLM. Niatnya serius hadir seminar untuk belajar menjadi ayah hebat. Di sela-sela waktu senggangnya dipakai untuk membaca buku atau artikel pengasuhan. Bisa juga dengan menonton video ceramah tentang anak di yutup. Sesekali bolehlah diselingi main game atau nonton bola sebagai penyegaran. Tapi niat belajar ayah tak pernah padam. Hasilnya, saat mendapati anak bersikap yang tak sesuai harapan, ayah tak bersikap reaktif kayak pemadam kebakaran. Ilmu pengasuhan yang diperolehnya membantunya melewati situasi tersebut dengan benar. Tidak bertindak yang salah dan melakukan malpraktik dalam pengasuhan. Inilah profil ayah idaman.

Sementara energi ketekunan diwujudkan dengan intensitas ayah dalam mengasuh buah hatinya. Setiap momen bersama anak tak pernah sia-sia. Selalu ada nilai yang ditanamkan sebagai bekal bagi anak di saat dewasa. Pun ketika ayah berbuat salah (Ingat! Ayah itu lelaki. Dan lelaki itu kemungkinannya cuma dua. Kalau gak salah ya gak bener. Itu aja), ayah tak sungkan mengevaluasi diri seraya meminta maaf. Anak dapat pelajaran mengenai arti kehebatan. Bahwa pribadi hebat bukanlah yang selalu sempurna. Namun yang selalu berusaha memperbaiki kesalahannya. Ayah menyadari bahwa mengasuh anak hakikatnya emang susah. Kenapa? Karena hadiahnya surga. Kalau mengasuh anak itu mudah, maka hadiahnya cuma voucher pulsa. Nah, pilih mana? Siklus jatuh bangunnya ayah dalam mengasuh anak inilah yang akan menjelma menjadi untaian mutiara cinta yang akan dikenang dalam jiwa anak.

Dan energi terakhir yang dimiliki ayah dengan topi pengasuhnya adalah kesabaran. Inilah kekuatan ayah sesungguhnya. Bersabar melewati proses dalam pengasuhan. Tidak terburu-buru. Sebab mengasuh itu sama dengan mendidik. Butuh tahapan. Kalau terburu-buru namanya mendadak. Ayah dengan kesabarannya terus berupaya membimbing anak melewati masa kanak-kanaknya. Kadang harus tersenyum, kadang harus meringis menahan kecewa ketika anak berulah. Namun terus optimis meski kantong tipis. Hasilnya tidak sia-sia. Pengasuhan dengan sabar, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tahu diri dan bernilai. Kalau yang dadakan, paling banter jadi tahu bulat. Murah. Cuma limaratusan.

Ketiga energi tersebutlah yang menjadi sumber kekuatan ayah untuk terus memakai kostum topi pengasuh sepanjang hidupnya. Jangan pernah lelah dan bosan memakai topi ini. Pun jikalau ternyata sampai anak beranjak dewasa masih mengesalkan hati dan tak kunjung berubah, maka bersabarlah. Mungkin karena ia bukan personil power rangers yang langsung bermetamorfosis hanya dengan satu kata, “BERUBAH!”.  Anak butuh proses. Dimana kadang hasilnya tak bisa ayah petik saat ayah masih hidup. Bisa jadi selepas ayah tiada, hidayah menyapanya. Apapun itu, mengasuh anak tidak akan pernah sia-sia. Karena Allah menilai usaha bukan sekedar hasilnya.

Inilah indahnya mengasuh anak. Beda dengan memasarkan MLM. Kalau MLM, sekiranya kita sudah berkorban banyak sampai keluar modal yang tak sedikit, sementara tidak ada satupun yang mau jadi member, kita dinyatakan rugi. Mengasuh anak amatlah beda. Tentu hati kita ngenes sekiranya upaya kita bertahun-tahun tak mampu membuat anak menjadi lebih baik. Padahal banyak yang sudah kita korbankan. Namun di sisi Allah, kita malah dianggap sukses. Layaknya nabi Nuh yang berdakwah di kaumnya hingga ratusan tahun lamanya. Hasilnya tak seberapa, tapi perjuangannya itulah yang menjadikan ia bernilai hingga digelari rasul ulul azmi. Para ayah, bisa meniru dengan menjadi ayah ulul azmi. Dimana ayah terus gigih dan sabar dalam mengasuh anak hingga datangnya kematian.

Jelas di sini, bahwa mengasuh anak adalah upaya menjadikan anak menjadi baik sesuai dengan harapan kita. Namun ayah tetap harus sadar bahwa hidayah milik Allah. Kalau esia hidayah milik Bakrie (apa coba?). Karena hidayah milik Allah, maka ayah tak punya kuasa untuk mengubah anak sesuai maunya ayah meski ayah sudah menjadi super hero Fatherman yang tanpa tanding. Ayah hanya diminta untuk terus menyesuaikan usahanya sesuai dengan kehendak Allah. Dampaknya, jika hasilnya gagal, ayah tak pernah merasa kecewa apalagi ke cewek. Ups ini mah modus. Ayah berusaha ikhlas karena menyerahkan hasilnya kepada Allah semata.

Dan ini juga menjadi jawaban bagi ayah yang sudah keburu berumur dimana gigi sudah tinggal dua. Kemudian baru menyadari akan tanggung jawabnya sebagai pengasuh. Sementara anak sudah dewasa dan tak mendapatkan bimbingan sedari kecil dari sang ayah. Banyak ayah yang menyesal dan merasa semua sudah terlambat. Meratapi masa tua dengan tangisan yang tak berkesudahan layaknya film India. Dan tak berupaya melakukan perbaikan. Padahal ketahuilah, menjadi Fatherman tak pernah kenal usia. Meskipun ayah sudah berumur dan anak sudah dewasa, ayah masih berpeluang menjadi fatherman. Karena memang, tak ada kata terlambat dalam pengasuhan. Terlambat itu hanya untuk datang bulan dan gajian. So, ayah. Segera ambil kostum Fatherman mu. Dan beraksilah!
(TAMAT)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s