Dimana posisi Adab

Dimana Posisi Adab?

Sumber:
http://kuttabalfatih.com/dimana-posisi-adab/

“Sekarang pergilah ke majelis Rabi’ah dan pelajari adabnya sebelum engkau ambil ilmunya.” Pesan ibunda Imam Malik bin Anas saat ingin menyiapkan sang anak belajar ke majelis gurunya.

“Aku tak ingin engkau mengajari anak ini satu ilmu pun. Aku hanya ingin dia mempelajari tingkah laku dan adabmu.” Pesan Syaikh Asy Syaibani rahimahullah saat membawa putranya belajar.

“Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat maka perhatikanlah; apakah engkau bertambah takut, sabar dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.” Pesan ibunda Sufyan Ats Tsauri kepada anaknya.

Sepenggal perkataan di atas bukanlah nasehat orangtua biasa. Tetapi kata-kata itu keluar dari lisan ayah dan ibu yang mengetahui dan memahami ilmu. Ibu yang cerdas memandang kebutuhan inti dari awal perjalanan ilmu sang anak yang kelak menjadi ulama besar dan menjadi guru besar imam Syafi’i. Pesan brilian seorang ayah yang termasuk cendikiawan asal Mauritania – Syaikh Asy Syaibani pada anaknya saat diantar belajar. Kelak anaknya belajar banyak hal terkait tingkah laku, adab dan akhlak para ulama. Bahkan ia mendapatkan banyak ilmu dari majelis gurunya. Pun perhatian dan pendidikan luar biasa sang ibu kepada anaknya yang kelak menjadi amirul mukminin dalam ilmu hadits. Sufyan Ats Tsauri mendapat kalimat ibu yang mengiringi proses pendidikannya.

Semua bermula dari Adab!

Inti pendidikan adalah membangun manusia yang berakhlak dengan ilmu dan pengetahuan. Sehingga perpaduan antara ilmu, adab dan akhlak mendorong peradaban manusia yang maju dan bermartabat. Kehidupan manusia juga akan rapuh dan hancur karena rusaknya salah satu diantara aspek pendidikan, pemikiran dan moralitas generasi muda. Maka wajar jika pendidikan bukan sekadar belajar materi pelajaran dan mendapat nilai, ijazah kemudian bekerja serta mengumpulkan kekayaan agar dapat melangsungkan kehidupan.

Akhlak berbeda dengan adab. Akhlak berasal dari kata khalq – khuluq. Akhlak dimulai dari penampilan (fisik) dan akan terlihat dari keseharian. Sedangkan adab tidak selalu terlihat. Adab tercermin pada kerangka/cara berpikir dan paradigma. Ia lebih halus dari akhlak. Bahkan adab masuk aspek penjiwaan terhadap persoalan. Maka adab ini sangat luar biasa. Dulu ilmu, adab dan akhlak sangat inheren atau melekat satu sama lainnya (Dikutip dari kajian Syamail oleh Ust. Asep Sobari, Lc). Adab menjadi fokus pendidikan dahulu dibandingkan seberapa ilmu yang didapat. Maka saat mereka memprioritaskan adab, ilmu yang diraih juga berlimpah, sarat manfaat dan memberikan ruh pada kehidupan manusia.

Dimanakah posisi adab bagi orangtua dan pendidik masa kini? Bagaimana orangtua mengawal pendidikan sang buah hati di tengah krisis moral, mental dan spiritual? Saat setiap jenjang pendidikan melahirkan generasi cerdas tetapi tak memperhatikan adab dan akhlak sebagai output utama. Dari level dasar hingga pendidikan tinggi. Maka rapuh dan rusaklah institusi keilmuan, kependidikan dan hampir sebagian elemen masyarakat yang seharusnya dikelola dengan baik dan benar karena rusaknya sumber daya manusia. Mencetak manusia pintar tetapi merongrong orangtua, mencoreng masyarakat dan melemahkan bangsa. Manusia yang memiliki ilmu tetapi akhlak tidak sesuai dengan pendidikannya. Kadang akhlaknya baik tetapi cara berpikirnya justru jauh dari adab. Cara berpikir dan pandangannya tidak sesuai dengan kebenaran dan norma-norma selayaknya orang yang berilmu/mengenyam pendidikan.

Adab adalah pondasi yang mengokohkan bangunan ilmu. Ilmu yang luas dan besar akan mampu berpijak dan bertahan di tengah terpaan badai fitnah jika adab menjadi cara pandang, pemikiran dan prinsip yang kuat dalam bersikap. Setiap jenjang pendidikan membutuhkan suplemen yang menguatkan adab dan akhlak. Bukan terlihat baik dan patuh saat kecil namun menjadi nakal, pembantah dan sebagainya di tahap-tahap pendidikan selanjutnya. Bertambah besar dan pintar justru membuat kesal dan gusar. Semakin meningkat jenjang pendidikan maka kian tak menunjukkan adab dan akhlak yang mulia. Maka perhatikanlah adab mereka. Bukan hanya di level pendidikan dasar. Justru ketika pendidikan hanya mementingkan aspek kognitif, akademik dan ilmu maka hasilnya dapat disaksikan saat ini. Tidak seperti zaman ketika ilmu dan adab berdampingan dalam mencetak manusia pembangun peradaban.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s