EKA FIRMANSYAH
OCTOBER 19, 2016

Bertahun yang lalu, saat saya sendirian di tempat yang jauh dan harus kehilangan salah satu tiang penyangga hidup saya, Kanjeng Guru memberikan wejangan, “kalau pohon rimbun, besar, dan kuat yang biasanya menaungi pohon-pohon kecil itu akhirnya tumbang, yang kecil-kecil itu akan terkena panas, hujan, dan angin deras. Pada akhirnya, pohon-pohon kecil itu akan dengan cepat menjadi kuat. Bahkan tanpa disadari, dia sudah serimbun, sebesar, dan sekuat, bahkan lebih dari yang dulu menaunginya. Hanya perlu sabar.”

Waktu itu, wejangan itu menjadi obat kesedihan yang cukup manjur. Tapi, seiring berjalannya waktu dan kesibukan, wejangan tadi seolah terlupakan. Baru kemarin, wejangan itu teringat kembali saat sebuah kejadian memicunya.
…………..

Saya mengenal beliau sejak mahasiswa. Kalau tidak salah, pertemuan pertama terjadi saat saya masih kuliah tahun pertama di lab informasi. Saat itu, saya yang biasanya cuma lancar sistem operasi DOS dan Windows, mendadak harus berurusan dengan Linux. Di tengah kebingungan, di sebelah saya duduk seorang pria dengan penampilan santai tapi elegan, tampak lancar memainkan keyboard memasukkan perintah-perintah Linux. Akhirnya, nekad saya beranikan bertanya, “Maaf, Mas. Kalau perintah membuat direktori baru, napa nggih?” Pria tersebut menoleh dan tersenyum ramah lalu mengajarkan saya beberapa instruksi Linux. Dan beberapa waktu kemudian, saya baru tahu, bahwa yang saya panggil ‘mas’ itu, adalah dosen. Hanya saja, beliau tengah menempuh studi doktoral di Australia. “Pantas saja tidak pernah ketemu.”

Bertahun berlalu, saya tidak pernah berinteraksi dengan beliau. Hingga tahun 2011, beberapa bulan setelah saya pulang dari studi, beliau menugaskan saya sebagai pengurus bidang akademik. Sejak saat itu, saya menjadi sangat tergantung pada beliau. Mau bagaimana lagi, core bisnis kami memang pendidikan. Tentulah bidang akademik menjadi bidang yang sangat sibuk. Dasar saya orangnya cerewet pada berbagai aturan yang ganjil dan bikin repot, tentulah saya sering membuat beliau kerepotan juga. Tapi herannya, dengan anak kecil yang bising seperti saya, beliau mau saja meladeni dan membantu.

Desember 2011 adalah bulan yang akan selalu saya ingat sepanjang hidup saya. UGM 1 menugaskan saya dan seorang kolega menghadap RI 1 untuk sebuah program pemerintah yang maha berat. Dibentuklah sebuah tim yang dipimpin DIKBUD 1 dengan ketua kerja salah seorang direktur DIKBUD. Dasar nasib, di antara perwakilan dari berbagai universitas, saya yang paling muda. Akibatnya, saya dijadikan sekretaris pada tim tersebut. Bukan karena kompetensi saya, tapi … sekedar karena saya paling kecil tadi. Ini adalah deraan angin paling keras dalam hidup saya. Bayangkan, baru saja pulang dari studi lanjut. Baru punya pengalaman menjadi pejabat non-echelon, mendadak harus mempertanggungjawabkan dana negara lebih besar dari JTETI 1 yang echelon III. Dan dana itu semakin membesar hingga lebih besar dari FT 1 yang echelon II. Waktu itu, sungguh, saking tegangnya mengikuti segala aturan pemerintah dan seribu deadline, semua jenis penyakit muncul. Tekanan darah tinggi, maagh, mimisan, migrain bergantian tiada jeda. Tapi hari ini, saya hanya bisa mengenangnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Sebab, sang bapak selalu menemani.

Apapun masalah yang saya hadapi, apapun keinginan saya, selalu didengarnya dan disampaikan kepada pihak-pihak yang bisa membantu saya. Aturan-aturan ruwet dan birokrasi berbelit dibantunya untuk dimudahkan. Selalu meluncur kalimat, “Nek menurut mas eka, piye?” Yang paling tidak bisa saya lupakan adalah kebiasaan beliau saat mendapat tugas dari Kayangan Cemara Pitu untuk melakukan ini dan itu yang terkait tugas saya. Tugas yang saya yakin, kalau pimpinannya bukan beliau, akan berakhir ruwet! Dengan santainya beliau akan berkata, “dikerjakan semampunya, mas.” Saya selalu menjawab, “nanti kalau tidak bagus, gawat lho, Pak.” Dan biasanya jawabannya sederhana, “Paling nak mung diseneni to, mas?” Jawaban yang untuk anak buah, rasanya seperti dilindungi dari hujan badai. Apa lagi kalau anak buahnya punya penyakit obsessive compulsive disorder seperti saya. Bahkan terakhir, saat saya memutuskan untuk mengembalikan dana pemerintah dengan nilai cukup besar, yang membuat angka serapan anggaran kami tidak tinggi, kalimat yang mirip terucap, “paling dapat raport merah kan, mas? Tidak masalah untuk saya.” Anda tidak akan mendapatkan pembelaan seperti itu dari pemimpin lain. Lazimnya bos akan bilang, “lho… harus habis! Gunakan semua cara?”

Setelah rapat senat khusus FT kemarin, saya merasa kehilangan Bapak yang saya ceritakan tadi. Saya kehilangan pohon rimbun, besar, dan kuat yang biasa menaungi kenakalan saya. Sekarang, beliau kembali pada posisi dosen biasa karena keinginan beliau sendiri. Beliau berhak untuk meraih jabatan paling prestisius sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi. Dan beliau tengah mengusahakannya. Tidak mungkin dengan berbagai jabatan yang melekat pada beliau, posisi prestisius tersebut dapat tercapai. Apalagi, seperti para tetua lain di FT, kami memegang erat nilai-nilai ‘kesempurnaan’ dengan sangat kuat. Meraih posisi paling tinggi sebagai pengajar, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan baik, sempurna, paripurna. Tidak sekedar asal menulis paper tanpa mutu atau malah melakukan tindakan tak terpuji seperti plagiasi.

Karena beliau seorang penulis yang handal, saya ingin mengucapkan ungkapan terimakasih saya, juga dengan tulisan. Melalui note ini, saya ucapkan beribu terimakasih untuk segala kebaikan yang telah Bapak berikan kepada saya selama ini. Jazakallohi khairan katsira. Semoga, cita-cita Bapak yang juga merupakan cita-cita DTETI segera dapat terwujud dan Gusti Alloh memudahkan urusan-urusan Bapak sebagai mana Bapak selalu memudahkan urusan-urusan saya.

– aamiin–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s