Para Lamafa, yakni juru tangkap ikan Paus di daerah Lamalera, Lembata, Flores, mendidik anak-anak menjadi pemburu di masa depan tanpa banyak memberi penjelasan. Tanpa banyak bicara, anak-anak nelayan penangkap ikan paus tersebut naik perahu untuk melihat dan merasakan kegiatan orang tua mereka. Mereka tidak banyak cakap karena tata krama di atas perahu melarang orang terlalu banyak bicara.

“Lihat, perhatikan, tirukan apa yang dilakukan sesepuh-sesepuh buta huruf itu di atas perahu kecil mereka, dan seyakin matahari esok terbit, anak-anak tumbuh berkembang menjadi Lamafa baru,” kata Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, A Setyo Wibowo dalam diskusi pada Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif, di Sanggar Anak Alam (Salam) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (21/10).

Menurut Setyo, berkat “tata krama” tersebut anak-anak para Lamafa kemudian bukan hanya pandai menangkap ikan paus, melainkan juga mampu menjaga dan meneruskan kebudayaan Lamalera.

“Inilah pengajaran universal dan alamiah yang kita lupakan,” kata Setyo di depan para peserta Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif tersebut.

“Gagal” dalam Pergaulan Antarbangsa

Ia pun memaparkan konsep pengajaran universal alamiah yang didasarkan pada pandangan ahli filsafat pendidikan, Jacques Rancière. Menurutnya, orang modern umumnya ketakutan dan tidak akan mau belajar dengan cara alamiah seperti para nelayan penangkap paus di Lamalera tersebut. Ketakutan-ketakutan itu menurutnya kemudian “dijinakkan” dengan pendapat bahwa seturut metode yang benar, kita butuh tahap demi tahap sebelum bisa membentuk seorang anak menjadi Lamafa.

“Namun, kenyataannya, pendidikan tahap demi tahap tidak juga menjadikan kita bangsa yang teremansipasi dalam pergaulan antarbangsa,” kata Setyo.

Menurutnya, rasa kecil hati lantas ditutupi dengan memperbaiki metode pengajaran. Berbagai kurikulum bergantian mencoba “mencanggihkan” tahap-tahap pengajaran. Setyo mengingatkan, selama ini dengan apa pun kurikulum diusung, logikanya tetap sama, yakni pengajaran adalah proses tranfer pengetahuan tahap demi tahap yang bertujuan mengemansipasi dan memajukan generasi muda.

“Dan persis, model ini melalaikan apa yang sudah ada juga dalam keseharian: cara pengajaran para Lamafa di Lamalera,” kata Setyo.

Orientasi Akademik Semata

Pembicara lainnya pada hari pertama Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif, Edi Subkhan, berpendapat tidak semua anak memiliki kemampuan yang optimal di bidang akademik. Sementara, orientasi pendidikan formal selama ini adalah kemampuan anak di bidang akademik. Akibatnya, kondisi ini hanya menguntungkan para siswa yang memiliki keunggulan kompetensi bidang akademik.

Sebaliknya, menurut aktivis pendidikan dari Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah ini, siswa yang memiliki keunggulan di bidang seni, budaya, dan olahraga, tidak akan mendapatkan perhatian yang memadai.

“Kondisi ini akan merugikan anak-anak yang suka seni, budaya, dan olahraga,” kata Edi.

Siswanto MS EM dari Universitas Sarjana Wiyata, Yogyakarta mengatakan, pendidikan alternatif merupakan jawaban dari tidak memadainya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan proses pembelajaran bagi seluruh siswa. Menurutnya, apa yang selama ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah, telah dilakukan oleh para pegiat pendidikan alternatif.

Ia berpendapat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam diskusi Pertemuan Nasional kali ini mengesankan penanya menilai pendidikan sekarang ini seolah-olah tidak pernah baik. Menurutnya, penilaian seperti itu tidak sepenuhnya benar.

“Seolah-olah sekarang ini semua pendidikan jelek. Padahal enggak lho,” kata Siswanto.

Ia berpendapat masalah yang sebenarnya paling penting di Indonesia adalah masih adanya penduduk miskin di kota dan di desa. Menurutnya, persoalan pendidikan yang perlu segera diselesaikan oleh pemerintah adalah masalah kemiskinan yang membatasi akses warga negara kepada pendidikan.

“Untuk membangun bangsa, perhatikan mereka yang termasuk 27 persen penduduk miskin di kota, dan 63 persen penduduk miskin di desa,” katanya sesaat setelah acara diskusi.

'Para pembicara dalam Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif di Sanggar Anak Alam (Salam), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (21/10). Dari kiri, Sri Wahyaningsih dari Salam, Yogyakarta; A Setyo Wibowo dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta; Edi Subkhan dari Universitas Negeri Semarang; Pegiat pendidikan alternatif dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jimmy Paat; dan Siswanto MS EM dari Universitas Sarjana Wiyata, Yogyakarta. [SHNet/Wheny Hari Muljati]'
Wicak Amadeo's photo.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s