Harry Santosa – Millenial Learning Center
22 Okt 2016

Sampai hari ini walau banyak sekolah dengan bangga menyebut sekolahnya sebagai tempat mendidik karakter, namun sebenarnya mereka masih bingung apa sebenarnya definisi karakter. Mereka umumnya sibuk pada How dan What, namun tidak pernah bergerak ke Why.

Ketika ditanyakan apakah karakter itu dilahirkan (nature) atau dibentuk (nurture)? Maka hampir semuanya merasa ragu dan tidak yakin menjawabnya. Misalnya jika ada anak yang sejak kecil suka bersih bersih atau suka mengatur, apakah itu karakter? Jika itu disebut karakter, berarti karakter dilahirkan, lalu mengapa ada istilah membentuk karakter?

Jika semua karakter bisa dibentuk mengapa riset riset memperlihatkan bayi sudah memiliki moralitas bahkan spiritualitas sejak usia 3 bulan. Mengapa 1000 orang ditraining kepemimpinan sampai advance, namun hanya yang sejak kecil berbakat pemimpin yang akan mampu memimpin jauh lebih baik? Mengapa 1000 orang ditraining Photoshop sampai mahir, lalu hanya segelintir saja yang mampu mendesain dengan kreatif?

Pertanyaan kemudian menjadi meluas, apakah bayi lahir sudah bermoral? Apakah mendidik anak menjadi shalih lebih mudah daripada mendidik anak menjadi jahat? Apakah ada karakter yang dilahirkan dan ada karakter yang dibentuk?

Mari kita lihat studi kasus di bawah ini, kemudian kita bisa mengambil kesimpulan mengapa dan bagaimana pendidikan karakter itu sejatinya.

Studi Kasus

Banyak sekolah atau banyak keluarga homeschooling menetapkan beberapa Value atau Nilai Nilai di dalam lembaganya. Beberapa Value ini misalnya terkait keimanan, kecerdasan, kedisplinan atau kemandirian dll. Mereka kemudian membrekadown masing masing value atau nilai itu menjadi beberapa level derivasinya dan menetapkan indikatornya untuk setiap jenjang usia.

Umumnya, indikator yang dibuat adalah checklist “anak mampu….” dan checklist “anak paham bahwa…”

Kompetensi tanpa Kegiatan

Dalam ranah pendidikan seringkali kita dengar kata kata, “bagaimana menanamkan nilai nilai”, bagaimana mengadabkan anak dll. Lalu sayangnya di tataran praktis, kata “bagaimana” ini kemudian berwujud pada kumpulan check list “anak mampu…” atau “anak paham…”. Kita sering terjebak pada mengilmui tanpa mengalami.

Kata “mampu” dan “paham” seringkali bukan berwujud kegiatan atau bukan diperoleh sebagai hikmah dari suatu aktifitas, tetapi penjelasan semata.

Misalnya anak mampu menjelaskan bahwa naik gunung itu perlu ketabahan, tolong menolong, kepemimpinan dstnya. Misal lainnya adalah anak memahami bahwa pemimpin itu harus adil, empati, dsbnya. Misal lainnya, anak memahami bahwa adab menuntut ilmu adalah respek pada ulama, mengimplementasikan ilmu dsbnya.

Lalu semua itu hanya berupa pengetahuan yang disampaikan, lalu anak anak menghafalnya dan pandai menjawab ketika ujian tiba. Kemudian kita bangga melihat deretan nilai nilai.

Jadi walaupun kita paham ada panduan “Adab sebelum Ilmu”, semua pada akhirnya dibawa ke ranah Ilmu atau pengetahuan. Padahal Adab itu diperoleh dengan hikmah dari sebuah kegiatan yang dirancang agar anak anak betul betul antusias menjalankannya, kemudian hikmah diperoleh dari kegiatan itu sebagai pengalaman berharga yang berkesan sepanjang hayat.

Bisa dibayangkan jika anak anak mampu menjelaskan atau mampu melakukan ulang, lalu anak anak memahami 100% namun tidak pernah merasakan dan mengalaminya langsung dalam keseharian, maka benar benar akan muncul manusia yang ilmunya banyak namun tak beradab karena tidak memiliki hikmah dimana hikmah hanya diperoleh dengan mensyukuri diri dan lingkungan melalui pengalaman.

Begitulah turunnya alQuran memberikan hikmah luarbiasa. AlQuran turun ayat demi ayat sesuai peristiwa yang dialami Nabi SAW dan para Sahabat, sehingga adab terbangun dari pensikapan mereka atas peristiwa yang terjadi, bukan sekedar Nabi SAW membacakan lalu para Sahabat menghafalnya.

Ketika para Sahabat ditanya mengapa hafalan mereka amat lambat bertambah, mereka pun mengatakan, “kami tidak menambah hafalan kami sampai kami mengamalkan apa yang telah kami hafalkan”

Sungguh anak anak kita memerlukan kegiatan hebat yang menginteraksikan fitrahnya dengan alam dan kehidupan nyata serta tadabur ayat Qouliyah agar mereka memperoleh hikmah hikmah yang mendalam sehingga menjadi Adab yang muncul dari dalam jiwa mereka (intrinsic motivation atau niat yang kuat)

Berkegiatan adalah fitrah manusia. Dan fitrah manusia memerlukan interaksi pengalaman dengan alam dan kehidupan agar tumbuh paripurna. Ingat bahwa antusia dan ghairah tidak bisa ditumbuhkan dengan pembiasaan dan stimulus.

Kompetensi tanpa Potensi ( “Mampu” tanpa “Mau”)

Selain berkegiatan, hal yang penting untuk membangun karakter adalah menemukan “mau” atau potensi dari anak anak kita. Tentu saja “mau” atau “potensi” yang berangkat dari sifat produktif. Menemukan “mau” anak kita adalah menyadari bahwa manusia bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja serta bukan komputer yang bisa dijejalkan data.

Munculnya generasi yang hanya menjadi human thinking dan human doing bukan human being (insan kamil) adalah karena banyak sistem pendidikan hanya fokus pada bagaimana anak bisa dan mampu bukan apakah anak mau selaras potensi fitrahnya.

Karena tidak pernah berempati pada “mau” atau “potensi fitrah” anak seperti keunikan anak atau fitrah bakat maka umumnya kompetensi sering mengabaikan unsur fitrah.

Umumnya kompetensi didefinisikan sebagai A.S.K (Attitude, Skill, Knowledge) semata. Dalam profesi atau karir semestinya kompetensi itu meliputi T.A.S.K (Talent, Attitude, Skill, Knowledge), dalam skala yang lebih manusiawi harus meliputi semua aspek fitrah bukan hanya talent.

Jika abai terhadap fitrah, maka sudah bisa diduga bahwa metode yang digunakan adalah behaviorism seperti drilling, pembiasaan (conditioning), iming iming dan pemaksaan (reward n punishment), rangsangan (stimulus) dsbnya. Ujung ujungnya muncul menjadi check list bisa dan mampu yang pro cognitive semata.

Banyak sekolah atau keluarga karena juga masih akademik oriented bukan fitrah oriented, sehingga sangat sulit mengangkat “mau anak” atau “potensi fitrah anak” sebagai basis membangun moral karakter ( jujur, berani, mandiri, amanah dll).

Padahal kita tahu bahwa moral karakter akan menguat ketika anak anak dibantu untuk tumbuh sesuai potensi fitrahnya. Anak yang mengenal potensi dirinya dengan baik atau “kutahu yang kumau” lalu difasilitasi untuk dikembangkan potensinya itu sehingga menjadi performance character akan jauh lebih mudah untuk dibangun moral karakternya.

Di masa Nabi SAW, potensi para Sahabat dikenali dan dihargai dengan baik, kemudian penugasan penugasan senantiasa selaras dengan potensi unik mereka masing masing sehingga menjadi kinerja terbaik. Kita tidak pernah melihat Umar bin Khattab RA ditugaskan menjadi panglima perang, Abdurrahman bin Auf RA menjadi pencatat hadits, Abu Hurairah RA sebagai pencari dana, Abu Bakar RA sebagai duta atau delegator dsbnya.

Potensi unik inilah yang kita sebut dengan fitrah bakat atau karakter kinerja, dimana manusia akan hebat kinerjanya jika apa yang dilakukannya relevan dengan potensi unik dirinya atau potensi fitrahnya.

Performance Character vs Moral Character

Dalam Islam ada 2 tema pusat dalam mendidik yaitu Fitrah dan Adab. Pendidikan yang seimbang antara fitrah dan adab akan melahirkan generasi yang hebat perannya dan mulia adabnya.

Jika potensi fitrah ditumbuhkan maka kelak akan menjadi Peran terbaik dan produktif, inilah karakter kinerja (performance character). Karakter kinerja ini amat terkait dengan potensi bawaan manusia.

Jika adab dikuatkan dan direlevankan dengan potensi fitrah maka kelak peran peran terbaik tadi akan menjadi jauh lebih bermanfaat, bermartabat atau mulia yang kita namakan dengan Beradab, inilah karakter moral (moral character). Karakter moral ini amat terkait dengan value atau nilai nilai yang diyakini.

Jadi ada karakter yang dilahirkan terkait dengan potensi Fitrah, ini sejatinya hanya memerlukan aktifasi untuk ditumbuhkan dari dalam (inside out) dan ada karakter yang dibentuk terkait Adab, ini sejatinya terkait dengan nilai nilai yang diyakini atau Kitabullah. Keduanya harus berjalan seiring, fitrah yang tumbuh paripurna akan mudah diadabkan menjadi mulia.

Karenanya dalam pendidikan karakter perlu diperhatikan keseimbangan untuk tiap tahapan usia antara menumbuhkan potensi fitrah dan memperkuatnya dengan nilai nilai Adab. Potensi fitrah saja yang ditumbuhkan tanpa penguatan Adab akan menjadi peran peran hebat namun tak beradab, sementara penguatan atau penanaman Adab tanpa memperhatikan potensi fitrah dan penumbuhannya akan menyebabkan peran yang tidak produktif, mekanistik dstnya.

Dahulu mengapa nilai nilai alQuran dan alhadits amat mudah diterima oleh para Sahabat, karena selain alQuran dan alHadits selaras dengan fitrah juga karena potensi fitrah para Sahabat telah ditumbuhkan secara paripurna melalui tarbiyah yang baik oleh Rasulullah SAW sehingga fitrah yang tumbuh hebat akan mudah disempurnakan oleh Adab yang mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s