Melihat Kembali Masa Lalu

Hasanuddin Abdurakhman
20 Okt 2016

Sore sebelum makan malam ada waktu jeda sekitar 1 jam, saya manfaatkan untuk olah raga ringan. Saya lakukan jalan cepat di sekitar tempat saya menginap. Dalam perjalanan itu saya melihat banyak apartemen khas Jepang.

Apartemen atau apato dalam bahasa Jepang bukanlah kondominium mewah. Ini tak ubahnya rumah petak di Indonesia. Ada yang cukup bagus, dengan beton dan interior yang baik. Tapi tak sedikit pula yang hanya berdinding papan yang dibuat dari serbuk kayu. Ada yang baru, ada pula bangunan yang sudah berumur 20-30 tahun.

Yang jelas apato itu jarang ada yang luas. Untuk yang hidup sendiri biasanya ruang utama hanya berukuran 6 tatai 1 tatami luasnya 1,65 meter persegi. Artinya kamarnya tak lebih dari 10 meter persegi, ditambah dapur kecil dan kamar mandi sempit. Untuk keluarga kecil biasanya ada 2 kamar sebesar itu. Apartemen seukuran itulah yang dulu pernah saya tempati.

Di tempat sempit itu saya hidup, bersama istri dan satu anak pada waktu itu. Semua serba terbatas. Banyak peralatan rumah yang kami dapat secara gratis, memulung di tempat sampah atau diberi teman. Ada pula yang dibeli dari bazar murah. Waktu istri saya hendak melahirkan saya banyak menerima perlengkapan bayi, termasuk pakaian bayi hingga anak-anak. Ada beberapa foto Sarah mengenakan baju cantik, baju bekas pemberian orang.

Saya sedikit terharu kalau mengingat masa-masa itu. Haru, bukan sedih. Itu adalah masa perjuangan. Segala sesuatu serba terbatas, tapi selalu bisa saya syukuri. Yang paling penting adalah saya sedang menempuh perjalanan mewujudkan mimpi.

Panjang jalan yang saya tempuh untuk mewujudkan mimpi saya sekolah ke luar negeri. Ketika kesempatan itu datang, itu bermakna sudah separuh jalan ditempuh. Separuh, artinya jalan ke arah itu sudah saya jalani, tapi belum sampai ke tujuan. Sebenarnya perlu tenaga lebih banyak lagi dibanding dengan masa sebelum sampai ke jalan itu. Tapi menempuhnya kini lebih tenang, karena sudah semakin ada kepastian.

Jadi segala keterbatasan itu bukanlah sesuatu yang merisaukan. Keinginan untuk mewujudkan mimpi, tiba di ujung jalan sebelah sana begitu menggairahkan, membuat segala keterbatasan itu tampak indah saja. Semua bisa dinikmati.

Kemudian saya sadar bahwa hari ini sebenarnya hanyalah masa lalu bagi masa depan. Hari-hari yang kini saya kenang sebagai masa lalu, dulu adalah hari ini di masa lalu, yang saya lewati dengan riang. Mimpi dulu tercapai, tapi hidup belum berakhir. Kini saya hidup dengan mengejar mimpi-mimpi baru yang akan menjadi nyata di masa depan. Hari ini hanyalah versi baru dari hari kemarin.

Apa yang membuat hari-hari kita begitu berarti? Mimpi yang akan kita wujudkan menjadi nyata. Setiap hari adalah hari bersyukur karena setiap hari berlalu mendekatkan kita kepada tujuan. Setiap waktu yang berlalu penuh dengan harapan, yang memberi kita energi untuk terus hidup, sampai ajal menjemput.

Saya tatap sebuah apartemen yang saya lalui menjelang saya tiba ke tempat saya menginap. Terbayang saat-saat dulu tinggal di apartemen seperti itu. Kelak mungkin saya akan kembali memandang diri saya, dalam hidup saya yang sekarang. Semua serba indah belaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s