“Mayday School”

Bambang Wisudo.
Aktivis Sekolah Tanpa Batas

MEMBUSUKNYA SISTEM PERSEKOLAHAN KITA

Tanyakan pada seorang guru, “Anda mengajar apa?”

Jawabannya hampir pasti. “Saya mengajar matematika.” “Saya mengajar Bahasa Inggris.” Hampir pasti mata pelajaran yang disebut sebagai jawaban. Atau, kalau ia seorang guru SD, ia akan menjawab di kelas berapa yang ia mengajar.

Sangat jarang terdengar jawaban, “Saya mengajar anak.”

Ini hanyalah cermin kultur yang mendominasi persekolahan dan guru-guru kita. Pelajaran, transfer pengetahuan, nilai, tes, dan ujian menjadi mantra sakti sekolah-sekokah kita. Anak dinomorduakan atau bahkan tidak masuk hitungan.

Interaksi yang baik antara guru dan murid merupakan hal yang paling esensial dalam pendidikan. Itu pula yang dikemukakan almarhum Soedjatmoko, orang pintar asal Indonesia yang pernah memimpin Universitas PBB. Soedjatmoko mengemukakan, ada tiga unsur utama yang menentukan mutu pendididikan, yakni interaksi guru dan murid, perpustakaan, dan laboratorium.

Interaksi guru dan murid bisa kita perluas dengan mengaitkan interaksi guru dan murid dengan pengetahuan. Perpustakaan dalam pengertian ini bukan hanya fisiknya saja tetapi sejauh mana buku-buku jadi rujukan dan bahan perbincangan. Sedangkan laboratorium jangan dipahami sebagai laboratorium sains semata-mata tetapi laboratorium sosial di mana anak bisa mengembangkan interaksi sosial atau memakai istilah dulu, kesukaan bergaul.

Dari tiga unsur utama yang disebutkan Soedjatmoko, interaksi guru dan murid merupakan hal yang paling menentukan mutu sekolah. Gedung boleh tidak ada, buku dan laboratorium bisa ditunda tetapi interaksi yang baik antara guru dan murid harus ada. Socrates bisa mengajar dengan berdiri di depan pasar. Paulo Freire di masa kecilnya belajar membaca dan menulis di bawah pohon dengan ranting sebagai pena dan tanah papan tulisnya.

Sungguh menyedihkan sebagian besar sekolah kita gagal membangun interaksi guru dan murid. Ini tidak hanya terjadi di pelosok tetapi juga di kota, tidak hanya di sekolah-sekolah kelas bawah tetapi juga di sekolah-sekolah negeri maupun swasta papan atas. Di Papua, tidak ada usaha serius guru-guru, sekolah, dan birokrasi untuk mencari akar masalah mengapa banyak anak tidak mampu membaca dan berhitung sederhana sekalipun telah mengantongi ijazah SD, SMP, atau bahkan SMA.

Di kalangan guru seperti ada sebuah permufakatan bahwa yang penting kurikulum dijalankan, pada waktunya anak naik kelas, dan nilai ujian bisa diatur-atur sesuai kebutuhan. Ketika guru berkumpul, baik di ruang guru dalam komunitas virtual, hal yang dibicarakan lebih banyak soal beban administrasi, gaji atau tunjangan. Sangat jarang ada diskusi mendalam yang bertolak dari kepentingan anak.

Sistem Persekolahan yang Usang

KITA bersepakat bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membangun peradaban dan masa depan anak-anak kita. Persoalan muncul ketika pendidikan dilembagakan dan disamaratakan. Wajib belajar dikerdilkan menjadi wajib bersekolah di sekolah yang seragam. Nilai dan ijazah jadi tolok ukur utama keberhasilan. Semua orang yang terlibat atau berada dalam institusi sekolah, baik guru, birokrasi, orangtua, maupun murid menjadi pemuja nilai dan ijazah. Festisisme terhadap nilai dan ijazah dengan sendirinya itu serta merta menjauhkan kita dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Ada cerita yang menarik dari John Taylor Gatto, seorang tokoh pendidikan progressif di Amerika Serikat. Dalam sebuah artikelnya yang sangat emosional di Wall Street Journal (1991), ia menulis bahwa ia memutuskan berhenti setelah 26 tahun mengajar di sekolah negeri. Padahal Gatto tidak main-main dengan profesinya. Ia pernah mendapatkan gelar Teacher of The Year di New York.

“Bertahun-tahun saya memohon kepada dewan sekolah dan pengawas agar membolehkan saya mengajar dengan kurikulum yang tidak melukai anak-anak, tetapi mereka menginginkan aku melakukan sesuatu yang menurut mereka lebih penting. Karena itu aku berpikir untuk keluar,” kata Gatto.

Dalam bukunya yang terkenal Dumbing Us Down: The Hidden Curriculum of Compulsory Education (2005), Gatto membongkar keburukan mendasar institusi bernama sekolah. Ia mengritik sekolah yang tidak mengajarkan indepedensi, menyuruh anak melakukan hanya bila ada perintah, berhenti saat mengerjakan sesuatu karena bunyi hal, memilah-milahkan anak berdasarkan umur atau mitos kepandaian. Gatto berpendapat, model sekolah publik seperti itu tidak bisa diperbaiki atau direformasi. Karena itulah ia memilih keluar dari sekolah.

Pink Floyd, grup band rock progresif yang lahir di London, dalam albumnya The Wall menggambarkan sekolah sebagai sesuatu yang menjijikkan. Kritik bernada sarkasme diangkat Pink Floyd dalam lirik maupun visuallsasi lagu berjudul “Another Brick in The Wall (Part II)”. Sekolah digambarkan sebagai pabrik yang merampas identitas anak, membuat anak-anak seragam dalam cara berpakaian, cara duduk dan berjalan, bahkan dengan menyembunyikan wajah asli mereka di balik topeng. Proses mekanis di atas roda berjalan itu mengahasilkan produk yang sama dan mustahil bagi kita untuk membedakan satu dengan lainnya.

Pendidikan massal dalam wujud sekolah yang semula bertujuan mulia kini berubah menjadi tiruan penjara atau pabrik. Untuk mempertahankan eksistensinya mitos-mitos pun dibangun: bahwa ada kelompok anak pintar dan kelompok anak bodoh, ada anak yang kecerdasannya tinggi ada tetapi ada anak yang lambat belajar, bahwa anak harus dipimpin oleh seorang guru profesional bersertifikat agar mau belajar, bahwa anak harus terus dikontrol oleh sekolah termasuk saat di rumah dengan memberikan pekerjaan rumah yang berjibun, bahwa anak harus dipacu motivasinya untuk berkompetisi dan menjadi nomor satu, bahwa semakin lama anak di sekolah dan semakin lama belajar lebih baik daripada anak-anak bebas bermain, bahwa anak harus dididik berdisiplin dengan berlatih baris berbaris ala militer, bahwa aklhak anak harus dibina dengan menanamkan kebiasaaan anak mencium tangan guru dan orang yang dihormati termasuk bila bertemu mereka di pasar, bahwa anak harus dididik dengan memberikan hadiah dan hukuman (reward and punishment), model psikologis behavioralistik ala Pavlov dan kawan-kawan supaya patuh dan baik perilakunya.

Sekolah yang lebih mirip pabrik atau penjara jelas bertolak belakang dengan hakikat anak.

Sistem persekolahan kita sudah sejak lama berada dalam situasi darurat. Kapal besar pendidikan nasional telah berkarat, bocor dan berlubang di sana-sini, dan makin miring dan makin tenggelam. Sedihnya, bukannya sinyal tanda bahaya, “Mayday, mayday …” yang tertangkap tetapi justru rencana full day school yang tiba-tiba jatuh dari langit Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendidikan yang Memerdekakan

KI HADJAR Dewantara sejak lama mengingatkan kepada kita bahwa setiap anak membawa kodratnya sendiri-sendiri. Anak, menrut Ki Hadjar, bisa kita ibaratkan seperti tanaman. Bibit padi akan tumbuh menjadi padi. Bibit jagung akan tumbuh menjadi jagung. Tugas seorang guru hanyalah menjaga agar bibit itu dapat tumbuh dengan baik. Bibit yang kurang baik bila dirawat dengan bagus akan menghasilkan buah. Akan tetapi mau berupaya apapun, kita tidak akan bisa membuat tanaman jagung berbuah padi.

Pendidikan massal dalam sekolah publik yang ada sekarang tidak memungkinkan untuk itu. Ketika anak dipaksa belajar dengan kurikulum yang sama, dipilah-pilah seperti barang yang mau dijual, distandardisasi, dan diharuskan mencapai nilai kriteria kelulusan minimal (KKM) sesungguhnya kita telah melakukan kekerasan pada anak. Benar bahwa dalam kehidupan modern, seorang anak harus pandai membaca dan berhitung tetapi itu bukan segala-segalanya. Lagi pula sangat mungkin ada kekhususan yang melekat pada seorang anak yang mungkin membuat ia kesulitan membaca dan berhitung, sekalipun pada dasarnya ia seorang anak yang cerdas. Saat anak itu tumbuh dewasa, kita tidak bisa membedakan ia bisa membaca sebelum masuk TK, di kelas I atau V SD, atau bahkan setelah lulus SMA. Apa bedanya? Siapa sangka aktor terkenal Hollywood Tom Cruise baru bisa membaca setelah lulus SMA?

Di sekolah, anak seringkali divonis terlalu cepat dan buru-buru dikategorikan dalam kelompok bodoh atau pintar. Mungkinkah seorang anak yang tertinggal pemahaman matematikanya sepanjang usia SD-nya kelak menjadi ahli matematika? Mungkin. Akan tetapi bila sekolah cepat-cepat memvonis dia bodoh dalam matematika, dengan memberi nilai di bawah lima dan angka merah terus-menerus di buku rapornya hampir dipastikan ia tidak akan berani menjadi matematikawan. Di sini pembunuhan potensi anak terjadi.

Pendidikan yang tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh menurut kodratnya, pendidikan yang tidak memberikan ruang kepada anak untuk belajar merdeka untuk menjadi manusia merdeka merupakan sebuah bentuk penindasan dan dengan sendirinya merendahkan martabat manusia. Jimmy Paat dalam tulisannya “Uraian Singkat Mengenai Belajar” (2016), belajar merdeka adalah belajar yang tujuan atau hasilnya adalah manusia yang memiliki tiga unsur kemerdekaan sebagaimana diuraikan Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar dalam sebuah tulisannya yang dikumpulkan dalam buku tebal dengan judul singkat Pendidikan, yang diterbitkan Taman Siswa pada 1962, menyodorkan pengertian yang sangat bagus tentang kemerdekaan. Menurut Ki Hadjar kemerdekaan adalah hidup tidak terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri atau mandiri, dan bisa tertib mengatur dirinya sendiri.

Seseorang yang mengikuti aturan karena takut atau diawasi bukan orang merdeka. Seorang yang banyak beribadah dan beramal karena takut tidak masuk surga, ia bukan orang merdeka. Seorang yang hidupnya bergantung pada orang lain, seseorang yang selalu dibayang-bayangi ketakutan kehilangan nafkah karena dipecat oleh majikannya, bukan orang merdeka. Seorang merdeka adalah bisa berpikir dan bertindak otonom, menjalankan kebebasannya dengan selalu menghormati orang lain.

Dengan demikian belajar merdeka tidak sekedar memberikan keleluasaan anak untuk belajar apa yang dia inginkan. Apalagi bila itu semata-mata dipersempit menjadi metode. Inti dari belajar merdeka adalah memberikan keleluasaan bagi setiap anak tumbuh sesuai kodratnya. Ia belajar untuk mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk menjadi manusia yang utuh, manusia yang merdeka. Pendidikan yang menjejali anak dengan tumpukan informasi dan pengetahuan hanya akan menjadi penghalang lahirnya manusia merdeka. Dalam memperoleh pengetahuan atau pemahaman, anak tidak harus selalu dituntun Biarkan anak berpikir dan menemukakan sendiri, bahkan juga dalam pengertian berkaitan moral. Karena itu berpikir kritis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam belajar merdeka. Dialog mendalam, dialog atas dasar cinta kasih – bukan transfer pengetahuan dalam pendidikan ala bank – merupakan karakteristik penting belajar merdeka.

Pendidikan yang memerdekakan tidak terlepas dari usaha untuk memupuk jiwa-jiwa yang peduli pada orang lain, bersolidaritas kepada orang yang lemah dan tertindas, bukan manusia egois serakah yang menindas dan suka mencelakai orang lain. Di sini catatan Tan Malaka dalam tulisannya SI Semarang dan Onderwijs (1921) menjadi relevan. Pendidikan selain bertujuan agar anak dapat hidup dalam dunia kemodalan juga bertujuan agar di kemudian hari anak memiliki komitmen untuk membela kaum kromo. Kemerdekaan merupakan hal mustahil ketika masih ada ketidakadilan dan penindasan di sekitar kita.

Peluang Pendidikan Alternatif

BILA di sekolah-sekolah publik interaksi antara guru dan murid gagal dibangun dengan baik, interaksi yang bagus antara guru dan murid tampak menonjol di komunitas-komunitas pendidikan alternatif. Ini salah satu yang bisa menjelaskan mengapa sekolah alternatif dalam banyak hal bisa berjalan lebih baik dan lebih bersahabat dengan anak meskipun guru-guru yang mengajar bukanlah guru profesional. Banyak guru di sekolah-sekolah alternatif tidak pernah dididik secara khusus sebagai guru, bekerja secara sukarela dengan seadanya. Baru belakangan ini saja muncul sekolah-sekolah alternatif yang membidik kelas menengah atas yang dikelola dengan model bisnis dengan guru-gurunya digaji lebih layak meski sebagai konsekuensinya membebankan biaya yang tinggi kepada peserta didik dan menutup diri dari warga miskin.

Interaksi yang mendalam antara guru dan murid, kecintaan pada anak, semangat guru untuk “menghamba” pada anak selalu saya temukan di sekolah-sekolah alternatif yang pernah saya kunjungi. Ini tidak hanya saya jumpai pada sekolah alternatif yang bergerak di usia kanak-kanak, seperti di Sanggar Anak Alam di Jogja, tetapi juga di tingkatan SMA sebagaimana pernah saya jumpai di Madrasah Aliyah Bingkat.

Eksperimen pendidikan alternatif di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang dan sudah cukup maju. Sewaktu saya masih bekerja sebagai jurnalis yang meliput bidang pendidikan saya ingin sekali melihat dari dekat pendidikan di Brazil, negara tempat kelahiran dan eksperimentasi Paulo Freire yang melahirkan buku terkenal Pedagogy of The Opressed. Niat itu pudar setelah melihat dari dekat sejumlah praktik pendidikan alternatif di Indonesia.

Bahkan, sejumlah ide yang disampaikan Jean Anyon dalam bukunya Marx and Education (2011), seperti menghadirkan aktivis di kelas dan melibatkan murid dalam aksi atau kerja bersama-sama warga dalam proyek untuk perubahan, telah dipraktikkan oleh sejumlah sekolah alternatif. Dalam bentuk yang lebih radikal ide itu malah telah dipraktiikan di sekolah-sekolah alternatif yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi petani di Bingkat, Sumatera Utara, dan di wilayah selatan Jawa Barat.

Harus diakui tidak semua eksperimen pendidikan alternatif itu berjalan mulus. Sekolah alternatif yang diprakarsai oleh Serikat Petani Pasundan di Sumamukti, Garut, Jawa Barat, berhenti setelah bertahun-tahun berkibar karena konflik dengan pemilik Yayasan. Madrasah Aliyah Bingkat di Sumatera Utara kehilangan elannya setelah ditinggalkan salah satu perintisnya dan gerakan organisasi rakyat surut. Sanggar Ciliwung yang bergerak mengadvokasi anak-anak dan masyarakat miskin melalui gerakan pendidikan dan seni dihancurkan bersama-sama dengan komunitasnya, dalam aksi penggusuran terhadap permukiman di bantaran Kali Ciliwung di Jakarta baru-baru ini.

Selain menghadapi berbagai persoalan manajerial, tidak semua komunitas pendidikan alternatif dibangun di asar fondasi yang kuat. Kalaupun ada seringkali visi dan dasar-dasar filosofis itu hanya dipahami oleh para pendirinya tetapi tidak oleh para guru dan relawannya. Padahal tanpa fondasi yang kuat ada bahaya komunitas pendidikan alternatif akan terjebak pada mitos-mitos atau kemasan belaka.

Ambillah contoh sekolah-sekolah alam yang kini menjamur di berbagai kota di Jawa. Kalau sekedar belajar di sawah atau di kebun, anak-anak di gunung-gunung Papua pastilah lebih unggul karena sehari-hari mereka belajar bebas merdeka di hutan.

Demikian pula perkara kebebasan belajar atau belajar menyenangkan. Belajar sambil bermain dalam suasana menyenangkan merupakan sebuah keniscayaan untuk usia kanak-kanak. Akan tetapi saat menginjak dewasa, bukan lagi suasana menyenangkan yang menjadi tuntutan tetapi kesenangan belajar. Pada titik tertentu belajar menuntut komitmen, belajar harus dengan berdarah-berdarah.

Menjiplak mentah-mentah model pendidikan alternatif jelas bukan gerakan alternatif. Ada yang menjiplak model Montessori, Waldorf, bahkan sampai kurikulum dan pernak-pernik media belajarnya. Dalam hal ini lagi-lagi, sebenarnya kita bisa merujuk pada Ki Hadjar. Sebelum mendirikan Taman Siswa, Ki Hadjar mempelajari dulu pedagogi Barat termasuk pemikiran dan praktik pendidikan progresif pada masa itu dan kemudian membumikannya dengan budaya lokal. Penyelenggara maupun aktivis pendidikan alternatif perlu menjelajahi pemikiran dan praktik pendidikan terbaik dari berbagai penjuru dunia, membumikannya dengan kultur dan kepentingan lokal atau nasional, dan menjadikannya kredo – keyakinan bersama tentang visi dan nilai-nilai pendidikannya.

Pada 1980-an, di Inggris bermunculan komunitas-komunitas pendidikan progresif tetapi kemudian mati satu persatu. Pendidikan progresif juga sempat berkibar di Amerika Serikat pasca perang Vietnam tetapi kemudian dituduh menjadi penyebab kemerosotan kualitas pendidikan. Sejak itu mashab standardisasi dengan rezim testing terus mendominasi. Meskipun demikian, eksperimen pendidikan alternatif memiliki pengaruh besar dalam di sekolah-sekolah publik. Di Amerika Serikat, sejumlah guru dan dosen yang berperspektif kritis bergabung dalam kelompok bernama Rethinking Schools. Setelah 25 tahun, kelompok ini memiliki pengaruh signifikan baik dalam pemikiran maupun praktik pendidikan di negara itu.

Masih di Amerika Serikat, komunitas-komunitas pendidikan alternatif dan sekolah rumah bergabung dalam jaringan Alternatif Education Resource Organization (AERO) dan kini pendidikan alternatif telah berada posisi yang diperhitungkan dalam poltiik pendidikan di negara itu.

Pendidikan alternatif merupakan sebuah pilihan tetapi juga bukan segala-galanya. Komunitas-komunitas pendidikan alternatif perlu berbenah dan mengaca diri, bersinergi, agar dapat menancapkan peran dan pengaruhnya dalam masyarakat.

Di samping itu, kita masih berharap sekolah-sekolah publik bisa berubah. Bila itu terjadi, pada saatnya nanti, tidak perlu lagi dibeda-bedakan lagi antara sekolah publik dan pendidikan alternatif karena pada dasarnya pendidikan adalah pilihan, pendidikan haruslah memerdekakan dan memanusiakan.

Ada begitu banyak cara untuk menjadi terdidik, sebanyak sidik jari manusia, kata Gatto.

Mau bersekolah di sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah alternatif, sekolah rumah (home schooling), atau tidak bersekolah (deschooling) pada akhirnya adalah soal pilihan.

 

No automatic alt text available.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s