Literasi : Menanti Indonesia Bebas Tuna Aksara

Kompas, 24 Oktober 2016

Andai saja semua orang yang mempunyai tempat untuk belajar mau menyediakan tempat itu untuk belajar membaca dan menulis, dan semua orang yang bisa membaca dan menulis mau mengajar membaca dan menulis pada saudara sebangsa yang belum melek huruf, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua warga negara Indonesia akan bisa membaca dan menulis.

Ki Hadjar Dewantara

Kenyataannya, hingga kini Indonesia belum terbebas dari tunaaksara. Data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud, memperlihatkan, hampir 6 juta warga Indonesia masih buta huruf.

Ppada tahun 2015, beberapa provinsi bahkan memiliki tingkat tunaaksara yang tinggi. Provinsi-provinsi itu antara lain Papua dengan 21,22 persen penduduk masih mengalami buta huruf atau 442.031 orang, serta Nusa Tenggara Barat (10,32 persen, 309.715 jiwa).

Bagi kaum muda, kenyataan bahwa masih ada penduduk Indonesia yang buta aksara sangat sulit dipahami. Mereka susah membayangkan, apa jadinya jika seseorang tak bisa membaca dan menulis pada zaman sekarang.

“Rasanya saya tidak percaya, hari ini masih saja ada orang yang tidak bisa membaca dan menulis,” ujar Amin (13), siswa kelas VIII SMP di Palu, Sulawesi Tengah. Ia ditemui dalam Festival Literasi Indonesia di Palu, pekan lalu. Festival ini digelar dalam rangka Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional yang setiap tahun jatuh pada 8 September.

Perhatian khusus

Untuk daerah-daerah dengan persentase penduduk buta huruf yang tinggi itu, Kemdikbud memberikan perhatian khusus. “Hal itu diwujudkan melalui program pendidikan keaksaraan, seperti pelaksanaan program Afirmasi Pendidikan Keaksaraan untuk Papua (Apik Papua),” ujar Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Harris Iskandar di Palu, pekan lalu.

Program lainnya, menurut dia, adalah Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan program Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marginal (GP3M). Program-program khusus itu dijalankan dengan melibatkan masyarakat.

GIM dan GP3M tak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga memberdayakan seseorang secara ekonomi, sosial budaya, sains, teknologi informasi dan komunikasi, ataupun keuangan. Selain itu, program-program ini juga disusun untuk menghindari warga yang sudah melek aksara menjadi tunaaksara kembali.

Harris menjelaskan, dalam satu dekade ini, program penuntasan tunaaksara menunjukkan hasil positif. Pada 2005, persentase penduduk tunaaksara mencapai 9,55 persen atau 14,89 juta orang. Sepuluh tahun kemudian, angka itu turun menjadi 3,43 persen atau 5.629.943 juta orang tunaaksara.

Atas pencapaian ini, UNESCO memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia. Apresiasi disampaikan Zakki Gunawan dari kantor UNESCO di Jakarta saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Nasional di Palu.

Zakki menyebutkan, tingkat literasi kaum muda Indonesia mencapai 99 persen, sedangkan tingkat literasi orang dewasa mencapai 93, 09 persen. “Statistik ini menunjukkan Pemerintah Indonesia berkomitmen kuat terhadap penyediaan pendidikan yang berkualitas, baik bagi anak laki-laki maupun perempuan selaku pemimpin penerus bangsa, serta bagi orang dewasa,” kata Zakki

Ajakan

Staf Khusus Mendikbud Alpha Amirrachman mengatakan, untuk mengatasi penduduk Indonesia yang masih tunaaksara, kepala dinas pendidikan di seluruh Indonesia diharapkan mau bekerja lebih keras lagi mendata jumlah anak yang tunaaksara. Pemerintah daerah juga perlu langsung memberikan penanganan yang dibutuhkan.

“Anggaran untuk itu sudah tersedia. Mari kita semua bekerja bersama dan tidak berhenti sekadar memperingati Hari Aksara,” ujarnya.

Alpha mengingatkan, anak-anak yang sudah terbebas dari buta huruf harus terus didorong agar mau terus membaca. Karena itu, mereka perlu mendapatkan bantuan berupa buku-buku bacaan.

“Jika para tunaaksara yang sudah bebas dari keterbelakangan ini tidak mempunyai akses pada bahan bacaan, dikhawatirkan mereka akan kembali tunaaksara, atau paling tidak kemampuan membaca mereka tidak berkembang,” tutur Apha.

Zikan (25), pengasuh Taman Baca Harapan di Desa Dalaka, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulteng, menyampaikan, kendala utama yang dihadapi dalam penyediaan buku ialah dana. “Selama ini, dana bagi aktivitas di taman baca diambil dari uang pribadi. Mungkin sudah saatnya kita mendorong pemerintah desa untuk mengalokasikan dana itu,” tutur orang yang mengasuh taman bacaan masyarakat (TBM) sejak 2012 itu.

Saat ini, terdapat 6.000 TBM di seluruh Indonesia. Sebagian besar TBM digerakkan oleh pemuda lokal. Di Sulteng, ada sekitar 100 TBM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s